57. MENCARI PARTNER

2.7K 226 10
                                        

Aldian berjalan mondar-mandir di depan Kafi. Ia memikirkan bagaimana cara untuk mengajak salah seorang subscriber Redi untuk ikut dalam ritual pembacaan mantra. Kebiasaan Aldian adalah memikirkan semuanya sendiri. Dia jarang meminta saran orang lain. Itulah sebabnya ia cocok berteman dengan Kafi yang selalu memberi saran walaupun tanpa diminta.

"Lo ngapain mondar-mandir kayak gitu?" tanya Kafi heran.

"Gue lagi mikirin cara bagaimana meyakinkan subscriber Redi. Pertama, kita nggak mungkin langsung pakai akun youtube kita buat ngajak mereka. Kedua, mereka pasti nggak bakalan percaya sama omongan kita. Nanti malah dikira penculikan. Ketiga, mereka pasti nggak mau menjelajah tempat angker kalau nggak ada Redi. Sementara Redi ..." Aldian melirik Redi yang meringkuk di tepi kamar tidur yang masih linglung.

"Tenang, Bro." Kafi menarik pergelangan tangan Aldian, lalu mengajaknya duduk bersama. "Kita harus berpikir pelan-pelan."

"Gimana caranya bisa berpikir pelan-pelan?" Aldian menaikkan volume suaranya. "Lo lihat kondisi Redi, kan? Lo tahu sekarang Rafka udah meninggal gara-gara penghuni asrama itu, kan? Kalau kita nggak bertindak cepat, pasti ada korban-korban yang lainnya."

"Kalau kita nggak berpikir dengan kepala dingin, kita nggak akan dapat solusi," sanggah Kafi yang sukses membuat Aldian terdiam sejenak.

"Lo benar, Kaf!" Aldian akhirnya setuju dengan pendapat Kafi bawasannya masalah ini memang harus dipikirkan dengan kepala dingin. Semua rencana harus dipikirkan secara matang karena berhubungan dengan nyawa jika salah langkah sedikit saja.

Kafi mengusap dagunya, melihat ke langit-langit kamar sambil berpikir. Berbeda dengan Aldian yang selalu berpikir logis selayaknya orang normal, Kafi selalu tahu jalan tikus untuk memecahkan masalah yang rumit. Tak heran jika kehidupannya selalu berjalan mulus apa pun masalah yang ia temui.

"Aha!" teriak Kafi.

Spontan, Aldian terlonjak kaget. "Astaga! Lo ngagetin gue aja sih!" Aldian memukul bahu Kafi.

"Gue punya ide, Al."

"Ide apa? Cepat kasih tahu gue!"

"Gimana kalau kita gunain instagramnya Redi buat DM pribadi ke para subscribersnya yang mau join?"

"Tapi ... gimana caranya?" dahi Aldian berkernyit. "Kita kan nggak tahu password HPnya Redi."

"Emangnya lo udah ngecek kalau HPnya Redi ada passwordnya?" Kafi bertanya balik.

"Ya ... ya enggak sih."

"Lah maka dari itu. Kita cek dulu."

Aldian segera mencari HP Redi, membongkar tas bawaan yang ia kemasi seadanya untuk Redi. Untungnya, Aldian sempat memasukkan HP Redi ke dalam tas untuk berjaga-jaga siapa tahu Redi bisa kembali normal nantinya. Pasti hal pertama yang akan ditanyakan Redi adalah ponselnya, pikir Aldian.

"Ini. Ketemu." Aldian segera membawa HP Redi pada Kafi.

"Kita charge dulu, Bambang!" Kafi menjitak kepala Aldian setelah mengetahui kalau HP Redi sudah kehabisan baterai.

"Ish!" Aldian membalas jitakan Kafi. "Iya. Gue tahu!"

Aldian segera men-charge HP Redi. Tak lama, ia pun berhasil menyalakannya. Namun, Aldian berdesis ketika password HP Redi ternyata berupa finger print.

"Ya elah. Passwordnya finger print. Gimana caranya kita bisa buka HP ini dong? Redi nggak bakal suka kalau HPnya dibuka-buka. Apalagi kita mau ngajakin subscribernya buat melakukan acara ritual pembacaan mantra," kata Aldian.

Kafi berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya ampun Aldian. Ternyata lo itu bego banget ya. Malah bagus dong kalau password HP nya si Redi cuma finger print."

"Kok gitu?" Aldian semakin heran dengan pernyataan Kafi barusan.

"Secara kita kan udah punya jarinya Redi." Kafi melirik Redi yang sedari tadi masih meringkuk di tepi kamar.

"Lo kok pinter banget sih! Tumben!" ujar Aldian mengerti apa yang dimaksud Kafi.

Kafi kemudian menaik turunkan kedua alisnya sambil menyeringai. "Lo rupanya tahu apa yang gue maksud. Secara Redi kan lagi nggak waras. Sejak kejadian itu, dia cuma bisa meringkuk kayak gitu. Ya buat apa minta izin segala."

"Waaah pinter banget lo!"

"Ya jelaslah gue pintar." Kafi tertawa terbahak-bahak.

Aldian segera membawa HP tersebut, lalu menempelkan jempol Redi di layar ponsel. Tentu otomatis layar langsung terbuka dan menuju halaman utama. Cepat-cepat Aldian menonaktifkan fitur finger print agar memudahkannya menggunakan akun instagram Redi di kemudian hari.

"Sini!" Kafi melambai-lambaikan kaber charge. "Entar HP Redi keburu mati. Kan lo baru aja nge-charga tadi."

"Iya-iya." Aldian kembali men-charge HP Redi, lalu membuka instagram Redi. Barangkali ada subscribers atau followers yang ikut dalam ritual pembacaan mantra.

"Eh eh," ujar Kafi heboh. "Lihat nih!"

Kafi menujuk salah seorang followers bernama akun Reisha Sirani yang kelihatannya sangat mengidolakan Redi. Akun bernama Reisha Sirani itu tampaknya secara berkala mengirimkan Direct Massage pada Redi.

"Eh kayaknya gue kenal deh sama akun ini," kata Kafi.

"Kok lo tahu sih?" tanya Aldian keheranan.

"Iya. Soalnya dia sering banget komen di kolom komentar youtubenya si Redi. Gue nggak nyangka banget kalau dia juga neror Redi di DM," jelas Kafi.

Reisha Sirani : Kak, Redi. Please, Kak! Ajak aku menjelajah tempat-tempat angker. Please!

Reisha Sirani : Kak, Redi. Please, Kak! Ajak aku menjelajah tempat-tempat angker. Please!

Reisha Sirani : Kak, Redi. Please, Kak! Ajak aku menjelajah tempat-tempat angker. Please!

Reisha Sirani : Kak, Redi. Please, Kak! Ajak aku menjelajah tempat-tempat angker. Please!

Reisha Sirani : Ping

Reisha Sirani : Ping

Reisha Sirani : Ping

Reisha Sirani : Kak ....

Reisha Sirani : Please balas DMku dong! Aku nge-fans banget sama Kakak.

Reisha Sirani : Angkat aku jadi muridmu, Kak. Aku juga pecinta horor.

Reisha Sirani : Ping

Reisha Sirani : Kak, jangan acuhin aku dong. Please balas DMku.... Kakak

"Nih cewek kayaknya gila deh." Aldian berasumsi setelah membaca ratusan DM dari akun yang bernama Reisha Sirani itu. Sebenarnya akun tersebut sudah mengirim banyak sekali pesan. Mungkin jumlahnya mencapai ribuan. Tapi Aldian malas membacanya karena intinya sama. Aku tersebut memohon untuk diajak menjelajah tempat-tempat angker.

"Mungkin dia fans fanatiknya Redi," kata Kafi. "Seperti BTS yang punya fans berat yang rela DM tiap hari walau nggak dibalas."

"Nggak usah dibandingin sama BTS deh. Udah jelas kalah jauh! Nggak ada apa-apanya!" sanggah Aldian kesal. Mana mungkin Redi bisa setara dengan BTS. Kafi memang suka mengada-ada.

Aldian melirik ke arah Redi yang masih meringkuk dengan posisi yang sama. Ia tak menyangka jika bocah dengan wajah pas-pasan seperti Redi bisa mempunyai fans berat yang rela meluangkan waktu setiap hari untuk mengirim pesan walau tak terbalas.

"Kok bisa ya, orang seperti Redi punya banyak fans cewek?" Aldian berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jaman sekarang nggak mengenal fisik, Al. Yang terpenting duit. Lo tahu sendiri kan kalau duitnya Redi banyak banget. Wajar kalau banyak yang ngejar-ngejar dia." Kafi terkikik puas, merasa ucapannya sangatlah bijak.

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang