9. Rafka, Penghuni Lama

30.6K 1.6K 65
                                        

Mata Redi terbelalak kaget setelah melihat viewers youtube channelnya yang hampir dua juta kali ditonton. Padahal ia baru saja menguploadnya tadi pagi. Tak hanya mendapat banyak viewers, Redi juga mendapatkan banyak komentar permintaan agar ia membuat konten youtube asrama berhantu part tiga.

"Waaah kalau begini terus, gue bisa jadi milyader kayak Atta Halilintar." Redi terkikik setelah lama menghayal.

Ponsel Redi terus bergetar, pertanda banyak notifikasi yang masuk. Dia meraih ponselnya dan membuka satu per satu DM instagram. Lagi, banyak sekali followers yang meminta Redi untuk membuat konten youtube part tiga tentang ruangan-ruangan di asrama.

Redi membalas semua DM itu dengan penuh semangat. Namun, dia tercekat ketika membaca DM dari akun bernama Maya_cityana.

Maya_cintyana : Assalamualaikum, kak. Perkenalkan. Nama saya, Maya. Saya anak indigo. Saya sangat senang dengan konten youtube yang kakak buat. Tapi saya harap kakak nggak ngelanjutin konten tentang asrama itu. Saya melihat para penghuni di asrama itu sudah terusik dengan apa yang kakak buat. Masih ada waktu untuk berhenti, sebelum mereka benar-benar marah. Saya mohon, kakak jangan membuat konten part tiga.

"Apaan sih nih anak. Bikin kesel orang aja. Paling-paling dia ini cuma akun fake yang iri dengan kesuksesan gue. Blokir aja deh. Daripada bikin gue kesel." Redi membuka profil akun Maya_cintyana dan memblokir pengguna tersebut.

"Gue udah lihat konten lo di youtube," kata Aldian saat memasuki kamar.

Redi mulai berlagak tuli, berpura-pura fokus ke layar laptopnya.

"Menurut gue, tindakan lo itu sangat berbahaya. Apalagi Pak Darto udah mengimbau tiga tempat terlarang. Gue khawatir kalau lo mau ngelanjutin konten lo lagi," sambung Aldian.

"Tenang aja, Mas. Buktinya, kita baik-baik aja, kan? Nggak ada gangguan apa pun, kan? Padahal kita baru aja masuk ke gudang yang kata Pak Darto penuh dengan makhluk astral. Paling-paling Pak Darto berkata seperti itu cuma buat nakut-nakutin kita," sanggah Redi.

"Kalau imbauan Pak Darto benar, gimana?"

Redi memutar malas kedua bola matanya. Merasa kekhawatiran Aldian benar-benar tak masuk akal. Redi berkeyakinan bahwa makhluk astral tidak akan pernah bisa menyakiti manusia. Redi sudah membuktikan sendiri karena sebelumnya ia sudah banyak menjelajah ke berbagai tempat angker. Dan tidak terjadi apa pun.

"Kenapa sih lo selalu ngeyel? Kalau lo kenapa-napa gimana? Demi uang, lo rela menentang peraturan asrama," tegur Aldian menaikkan volume suaranya.

"Daripada demi uang, rela jadi penjaga warung," balas Redi meremehkan.

Emosi Aldian tersulut. Ia langsung menarik kerah baju Redi, lalu melotot tajam pada bocah tengil itu.

"Apa lo bilang? Gue cuma penjaga warung?" bentak Aldian, tepat di depan muka Redi.

Redi menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Memang itu kenyataannya, kan? Apa yang Mas dapatkan hanya dengan menjadi penjaga warung? Kalau boleh menawarkan, apa Mas mau jadi editor saya. Saya bisa menggaji Mas Aldian, sepuluh kali lipat dari gaji penjaga warung."

"Dasar sombong!" Aldian mendorong Redi, sampai bocah itu tersungkur di atas lantai. "Kalau ada apa-apa sama lo, jangan harap lo minta bantuan gue!"

"Begitu pula sama Mas. Kalau ada apa-apa sama Mas, jangan harap minta bantuan saya! Terutama tentang masalah keuangan," ujar Redi sengaja merendahkan.

"Gue juga nggak sudi minta bantuan lo!"

Tok tok tok

Aldian mencoba menurunkan emosinya, lalu membuka pintu. Dilihatnya Bu Lusi datang dengan ekspresi datarnya sambil membawa sebuah koper.

"Ada apa, Bu?" tanya Aldian heran.

"Nanti di kamar ini akan ada anak baru. Anaknya sudah datang. Nanti dia akan ke sini," jelas Bu Lusi.

"Iya, Bu." Aldian mengangguk paham.

Satu kamar asrama di isi tiga orang penghuni. Kata Bu Lusi, sebentar lagi ada penghuni baru di asrama. Namanya Rafka, mahasiswa semester 9. Sebenarnya Rafka bukan benar-benar penghuni baru di asrama. Dia pernah tinggal sebelumnya hingga akhirnya dia keluar dari asrama karena cuti kuliah.

Tok tok tok

Tak lama setelah Bu Lusi pergi, terdengar suara ketukan pintu, membuat Aldian memutar malas kedua bola matanya, sedikit jengkel karena Redi tidak peka dan malah asyik membalas DM instagram. Terpaksa, Aldian beranjak membuka pintu.

"Hai. Kalian anak baru ya?" Seorang mahasiswa tampan dengan lancang masuk dan menaruh koper.

"Lo siapa? Lo penghuni baru itu, ya?" tebak Aldian.

Mahasiswa berhidung mancung itu mengangguk. "Yups. Betul banget. Nama gue, Rafka." dia mengulurkan tangannya pada Aldian.

"Gue Aldian." Aldian menjabat tangan Rafka dengan tegas.

"Sebenarnya sih, gue dulu pernah tinggal di asrama ini selama setahun. Tapi gue pindah karena cuti kuliah." Rafka seenaknya sendiri merebahkan tubuhnya di atas kasur Aldian. "Eh ngomong-ngomong ... siapa si cupu itu?"

Aldian melirik sebentar ke arah Redi yang masih asyik membalas DM instagram, tak menyadari bahwa ada penghuni baru bernama Rafka di kamarnya. "Oooh dia Redi, mahasiswa semester tiga."

"Yang betah di asrama ini, ya." Rafka tergelak. "Siap-siap kuping lo budek kena omelan Pak Darto."

"Kuping gue sudah budek gara-gara Pak Darto," timpal Aldian.

"Turutin aja kata Pak Darto kalau mau hidup tenang di asrama ini," imbau Rafka. Wajahnya berubah serius.

"Maksudnya?"

"Ya elah. Kayak lo nggak tahu aja tentang tiga tempat terlarang yang gue maksud."

"Iya. Gue tahu kok."

"Ya meskipun banyak orang yang bilang itu cuma desas-desus, tapi gue percaya hantu di sini benar-benar ada."

"Lo pernah lihat langsung?" tanya Aldian penasaran.

"Ya pernah lihat dong. Ada Noni Belanda di balkon. Pasti lo pernah lihat juga. Iya, kan?" tebak Rafka.

Aldian teringat kembali saat ia pertama kali masuk ke asrama. "Iya, sih. Gue pernag lihat Noni Belanda gitu."

Diam-diam, Redi mendengarkan percakapan antara Aldian dengan Rafka. Walaupun terlihat tak peduli, diam-diam dia sudah menyiapkan agenda untuk merekam kamar Noni Belanda.

"Waaah sepertinya desas-desus hantu Noni Belanda itu benar-benar ada. Bagus kalau begitu. Di satu tempat aja, entar gue bisa bikin lima part sekaligus," batin Redi gembira. "Subscribers gue bisa bertambah banyak dalam waktu singkat. Nggak hanya itu, gue juga bisa jadi milyarder dalam waktu singkat. Entar duitnya buat operasi plastik biar gue jadi ganteng."

"Tapi omong-omong, ngapain lo mau tinggal di asrama berhantu kayak gini? Apa jangan-jangan ... lo mau bikin konten buat youtube channel?" sindir Aldian sambil melirik Redi.

Rafka tergelak. "Ya ngapain gue bikin konten di asrama berhantu kayak gini? Emangnya gue mau nyari masalah? Asal lo tahu ya, kabarnya hantu di sini pada galak-galak. Jadi jangan lo ganggu kalau lo mau hidup tenang."

👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Sabtu, 23 November 2019

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang