"Mas, kalau boleh tahu, Mbak yang tadi namanya siapa?" tanya Darto penasaran. Dia melirik sebentar pada sosok wanita aneh yang saat ini sedang mengintip dari balik pintu.
Mahasiswa bernama Gusti itu mencari sosok yang dimaksud Darto. "Oooh namanya Mbak Lusi. Tukang bersih-bersih di asrama ini."
"Oooh." Darto mengangguk paham, seolah cukup tahu.
Setelah menerima uang pembayaran, Darto melangkah menuju halaman asrama untuk mengambil sepeda ontelnya. Saat ia hendak naik, ia tercekat. Pandangan matanya tertuju pada balkon lantai dua asrama. Dilihatnya sesosok wanita cantik berbaju putih yang tampak melamun.
"Asrama laki-laki kok banyak perempuannya." Darto berdecak heran, mengedikkan bahu, lalu beranjak pergi.
Darto mengayuh sepeda menuju ke kampus dengan santainya. Namun semakin lama, ia membutuhkan tenaga yang semakin banyak untuk mengayuh. Dia tak menyadari jika sesosok wanita berambut panjang berkulit pucat pasi sudah duduk di belakangnya beberapa waktu lalu.
"Kok jadi berat ya?" pikir Darto yang memutuskan berhenti mengayuh, turun dari sepeda, lalu menengok ke belakang.
Darto mulai gemetar dengan mata terbelalak lebar. Spontan, dia menjatuhkan sepedanya. Sosok wanita berambut putih itu tertawa riang, melayang tanpa kaki, lalu menghilang begitu saja saat Darto mengerjap.
"Kuntilanaaakkk!" teriak Darto ketakutan. Dia bergegas menaiki kembali sepedanya dan mengayuhnya cepat-cepat.
Keringat di dahinya bermunculan. Darto tetap mengayuh dengan tangan dan kaki gemetar. Pandangannya lurus ke depan. Yang dia pikirkan hanyalah kabur dari wanita pucat pasi yang bisa melayang itu.
Tiiitttt ....
Suara klarkson dari sebuah mobil berbunyi keras. Darto masih bingung menggerakkan stir sepeda ontelnya. Sedangkan mobil itu masih tetap melaju ke arahnya. Dan....
Braaakkk
Sepeda ontel Darto tertabrak. Darto terpental jauh. Darah mulai bercucuran membasahi kepala juga tangannya. Tak lama, orang-orang berkerumun mengelilingi Darto. Mereka terlihat panik.
"Oi cepat telpon ambulan!"
"Iya-iya." seoeang pria bergegas pergi mencari telepon umum.
"Sebaiknya langsung kita bawa ke rumah sakit," saran orang lainnya.
"Mas, sadar, Mas!" seorang pria menepuk-nepuk pipi Darto, memastikan bahwa Darto masih baik-baik saja.
"Mas, bangun!"
"Oi ayo kita bawa ke rumah sakit!"
Darto tidak bisa merespon. Kepalanya pusing. Sedangkan pandangan matanya memudar walau dia sudah mengerjap beberapa kali untuk memulihkan pandangan matanya. Hal terakhir yang dia lihat sebelum benar-benar menutup matanya adalah sesosok wanita yang tadi menumpang di kursi belakang sepeda ontelnya.
👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Kamis, 16 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
TerrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
