62. BERHASILKAH? PART 3

2.4K 214 7
                                        

Sesampainya di tengah hutan, Pak Darto menyuruh Aldian menghentikan motornya. Dengan sigap, Aldian menginjak rem. Seketika motor pun terhenti. Tanpa bicara apa-apa, Pak Darto turun dari motor, lalu menggelar kain putih berbentuk lingkaran. Kemudian pria paruh baya itu menggelarnya di atas batu besar.

"Duduklah di sini. Saya akan meninggalkan kamu sendirian," perintah Pak Darto.

Tanpa bertanya apa pun, Aldian duduk di atas batu tersebut dengan hanya berbekal lampu senter dan HP. Tak lama, Pak Darto pun mengendarai motornya, lalu pergi sejauh 1 km dari tempat Aldian duduk.

Sementara itu, Reisha mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Walaupun bulu kuduknya berdiri, tapi ia sungguh mengagumi desain interior kamar Stephani. Mulutnya ingin berdecak kagum sambil berkomentar. Tapi ia ingat imbauan Pak Darto yang menyuruhnya tidak melakukan hal-hal apa pun atau mengucapkan hal-hal yang tidak perlu.

"Wow kamar ini bagus banget. Sepertinya nyaman. Tapi ... suasananya nyeremin banget," batun Reisha.

"Iiih kotak apa itu?" Kini mata Reisha tertuju pada kotak perhiasan yang ada di atas meja rias. "Apa jangan-jangan kotak itu berisi perhiasan?"

"Waaah kalau aku curi kotak perhiasan itu, aku bisa kaya raya. Hmm ... apa aku lihat dulu aja? Siapa tahu isinya bukan perhiasan," batin Reisha.

"Aduuuh kenapa aku jadi penasaran banget. Kira-kira apa ya isi kotak itu?"

Ketika Reisha hendak beranjak dari tempat duduknya, ia ingat imbauan Pak Darto yang melarangnya melakukan hal-hal yang tidak perlu atau mengucapkan hal-hal yang tidak diperintahkan. Selain itu, ia juga teringat kondisi Redi yang kehilangan kewarasan akibat melanggar peraturan asrama.

"Aduuuh aku nggak mau berakhir seperti Kak Redi. Aku memang cinta harta. Tapi aku lebih cinta kesehatan mentalku." Reisha mengurungkan niat untuk membuka kotak perhiasan milik Stephani.

Sementara itu di ruang bawah tanah ada Kafi yang sedari tadi duduk dengan kaki gemetar. Sesekali ia menyorot sudut-sudut ruangan yang begitu gelap.

"Ruangan ini gelap banget. Gue sampai nggak bisa lihat apa-apa kalau tanpa lampu senter. Mana ruangannya lembab banget," batin Kafi.

Tak

Kafi terlonjak kaget ketika mendengar suara seperti benda jatuh. Ia menyorot detail dari ujung satu hingga ke ujung lainnya, lalu menyorot ke atas. Dadanya berdegup tak karuan. Namun akhirnya ia bisa bernapas lega ketika mengetahui bahwa suara itu berasal dari tikus yang sedang berlarian di atas langit-langit ruangan.

"Ya ampun. Ternyata cuma tikus. Gue kira hantu-hantu di sini mau nyerang gue," batin Kafi yang akhirnya bisa bernapas lega. "Semoga saja nggak terjadi apa-apa sama gue. Semoga gue bisa keluar dari sini dengan selamat."

Di tengah hutan terlarang, Aldian duduk di bawah gerimis. Sesekali ia melihat jam tangannya yang belum juga menunjukkan angka dua belas. Entah mengapa waktu terasa begitu lama.

"Hmm ... semoga ritual kali ini berhasil. Gue udah keluar tenaga banyak buat memenuhi syarat ritual ini," batin Aldian. Pemuda itu sejak tadi hanya duduk mematung di atas kain putih berbentuk bulat. Menoleh pun, ia tak berani. Mengingat sudah banyak korban dari insiden asrama berhantu.

"Kalau dipikir-pikir, gue masih heran kenapa pihak Universitas masih kekeh untuk mempertahankan bangunan asrama itu? Udah jelas-jelas asrama berhantu udah memakan banyak korban." Aldian bermonolog dalam hati.

Dddrrrttt ....

Pak Darto melakukan panggilan 3 arah sekaligus ketika jam yang tertera di HP Redu sudah nyaris angka dua belas. Ya! Karena Pak Darto tidak memiliki HP yang canggih, Aldian menyarankan Pak Darto untuk membawa HP Redi saja agar komunikasi bisa lancar tanpa gangguan apa pun.

"Halo? Apa kalian bisa mendengar saya?" tanya Pak Darto.

"Iya," sahut Aldian, Kafi, dan Reisha bersamaan.

"Sekarang, kalian harus duduk bersila, lalu pejamkan mata kalian," perintah Pak Darto.

Aldian, Kafi, dan Reisha segera menutup mata mereka bersamaan. Dada mereka berdehup dengan sangat kencang, sesekali mereka meneguk ludah. Berharap ritual ini akan segera berakhir.

"Kalian siap? Sebentar lagi pukul dua belas malam," kata Pak Darto mengingatkan.

"Iya," sahut Aldian, Kafi, dan Reisha bersamaan.

"Ketika nanti saya sudah memberikan aba-aba, kalian harus mengucapkan. Hai arwah-arwah! Tenanglah di alam sana. Dan kutukan akan lepas. Dan kutukan akan lepas," jelas Pak Darto.

"Maaf, Pak. Apa bisa diulangi?" Kafi menginterupsi.

"Hai arwah-arwah! Tenanglah di alam sana. Dan kutukan akan lepas. Dan kutukan akan lepas," ulang Pak Darto. "Kalian mengerti?"

"Iya," sahut Aldian, Kafi, dan Reisha bersamaan.

Tak terasa gngka di HP Redi sudah menunjukkan pukul 00:00 yang mana itu artinya, tengah malam telah tiba.

"Sekarang!" perintah Pak Darto cepat.

"Hai arwah-arwah! Tenanglah di alam sana. Dan kutukan akan lepas. Dan kutukan akan lepas," ujar Aldian, Kafi, dan Reisha bersamaan.

"Ucapkan lagi!" perintah Pak Darto.

"Hai arwah-arwah! Tenanglah di alam sana. Dan kutukan akan lepas. Dan kutukan akan lepas," ulang Aldian, Kafi, dan Reisha bersamaan.

"Ucapkan lagi!"

"Hai arwah-arwah! Tenanglah di alam sana. Dan kutukan akan lepas. Dan kutukan akan lepas," ulang Aldian, Kafi, dan Reisha lagi dengan mata yang terpejam rapat-rapat.

Pak Darto mendongak, merasakan tidak terjadi apa pun. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah ritual yang ia jalani tidak sesuai dengan aturan?

"Ke ... kenapa tidak terjadi apa-apa? Seharusnya ada angin kencang yang menerbangkan arwah-arwah penasaran ke langit." Pak Darto melihat ke sekeliling, bingung mengapa tidak terjadi apa-apa.

Kafi membuka sebelah matanya, tidak merasakan apa pun yang terjadi. Aneh! Ia tidak merasakan adanya perbedaan sebelum dan sesudah ritual. Sementara itu, Aldian dan Reisha juga keheranan dengan mata yang masih terpejam rapat-rapat.

"Kenapa tidak terjadi apa-apa?" tanya Pak Darto.

"Apa?" Aldian segera membuka matanya. Kaget bukan main.

"Seharusnya ada angin kencang yang mampu menerbangkan arwah-arwah penasaran. Tapi ... tapi kenapa tidak terjadi apa pun?" imbuh Pak Darto.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aldian.

"Pertama-tama, saya akan menjemput kalian satu per satu. Jangan beranjak dari tempat kalian sebelum saya menyusul. Karena hanya sayalah juru kunci di tempat ini," papar Pak Darto, lalu mematikan panggilan.

Pak Darto dengan sigap mengendarai motornya untuk menjemput Aldian.

"Pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aldian tepat saat Pak Darto datang.

"Nanti kita bicarakan," timpal Pak Darto singkat. Ia langsung membonceng Aldian untuk kembali ke asrama.

"Apa ritualnya ada kesalahan?" imbuh Aldian.

"Entahlah. Seharusnya ritualnya sudah benar. Hanya sesederhana itu. Tapi ... tapi kenapa tidak terjadi apa-apa?" Pak Darto malah balik bertanya.

"Hmm ... sebaiknya kita rundingkan bersama Kafi dan Reisha. Siapa tahu kita dapat jalan keluar," saran Aldian.

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang