26. Masalalu Tony Part 7

23.6K 1.1K 88
                                        

Karin dan Bella mulai mengikuti arah GPS, tempat di mana ponsel Anna terakhir kali digunakan. Sepanjang perjalanan, mereka saling merangkul dengan mata waspada. Menembus kabut tebal di antara pohon-pohon pinus yang tumbuh subuh di atas tanah basah.

Sekelebat bayangan hitam melesat cepat di belakang mereka. Kesan menyeramkan semakin pekat saat terdengar lolongan suara anjing-anjing liar.

"Rin, kok serem gini ya? Apa kita nggak salah jalan?" tanya Bella memastikan.

"Enggak. Lihat nih GPS nya." Karin memperlihatkan layar ponselnya pada Bella.

"Tapi kok kita malah ada di hutan sih?"

"Cerewet lo!"

"Apa sebaiknya kita kembali aja ke mobil? Gue takut banget nih." Bella bergidik takut. Merasa bahwa ada puluhan pasang mata yang mengintainya.

"Lihat nih. Kita hampir sampai." Karin kembali memperlihatkan layar ponselnya pada Bella.

Bella meneguk ludah, merangkul Karin erat-erat. Mereka berdua terus berjalan mengikuti arah GPS. Hingga membawa mereka tepat di tengah-tengah hutan terlarang.

Bayangan hitam itu kembali melesat di sekitar Karin dan Bella. Bersembunyi di balik kabut tebal, mengintai celah saat Karin dan Bella mulai lengah.

"Rin, kayaknya kita tersesat deh," kata Bella. Dia mulai menggigil kedinginan.

"Sabar. Sebentar lagi kita sampai kok."

"Gue takut, Rin."

"Bawel!" bentak Karin yang terus menyorot rerimbun semak-semak.

"Kenapa Anna tersesat jauh banget sih. Ini sudah di tengah hutan lho. Kalau nggak salah, tempat ini namanya hutan terlarang."

"Kata siapa?"

"Tio sama Lukas sering cerita kok." Bella kembali bergidik.

"Kenapa tempat ini disebut hutan terlarang."

"Nggak tahu." Bella mengedikkan bahu. "Katanya, di sini ada banyak setannya."

"Udah deh. Nggak usah bahas yang aneh-aneh!" Karin masih fokus menyorot celah-celah pepohonan pinus.

Langkah kakinya terhenti, sementara matanya terbelalak lebar saat menemukan sesosok mayat perempuan cantik berpakaian minim yang tergeletak di atas tanah dengan mata mendelik.

"Anna!" teriak Karin yang berlari menghampiri jasad itu.

"Anna? Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Bella dengan mata berkaca-kaca. Dia menepuk-nepuk pipi Anna, mencoba membangunkannya.

"Anna, bangun!" pinta Karin.

"Sepertinya dia sudah...." Bella tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Tubuh Anna sudah lemas tak berdaya. Napas dan denyut nadinya sudah berhenti sedari tadi. Dengan berat hati, Karin terpaksa memejamkan mata Anna.

"Rin, kita harus gimana sekarang?" tanya Bella dengan mata berkaca-kaca.

"Gue nggak tahu." Karin menggeleng lesu.

"Coba hubungi Tony lagi! Siapa tahu dia bisa bantu kita."

Karin segera membuka ponselnya, menyentuh layar, lalu menghubungi Tony. Lagi, panggilannya tak terjawab. Tak peduli seberapa sering dia melakukan panggilan ulang.

"Sialan! Tony ke mana sih?" umpat Karin.

"Tio sama Lukas juga ke mana coba?" tanya Bella setelah mencoba menelpon Tio dan Lukas beberapa kali.

"Sebenarnya mereka bertiga ke mana sih? Apa mereka masih molor?"

"Aduuuh gimana ini? Kita nggak bisa tinggalin Anna sendirian di hutan ini."

"Terus gimana dong?"

"Kita bawa aja ke mobil," saran Bella.

👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Minggu, 29 Desember 2019

Kalian umur berapa?

Jangan lupa follow instagramku ya

IG => zaimatul.hurriyyah

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang