Aldian melihat-lihat DM dari akun yang lainnya. Mendapati bahwa banyak orang yang antusias menemani Redi untuk menjelajah tempat-tempat berhantu.
"Gue nggak habis pikir ya. Kenapa banyak orang yang mau menjelajah tempat-tempat berhantu? Emangnya mereka nggak takut?" tanya Aldian keheran-heranan.
"Kan udah gue bilang. Sekarang hantu nggak ada harga dirinya. Mereka malah dimonetisasi," Kafi terkikik.
"Sekarang nggak waktunya bercanda, Kaf," tegur Aldian.
"Ya palingan mereka mau pansos sama Redi. Kan lo tahu sendiri kalau Redi udah jadi youtuber terkenal. Kontennya tentang asrama berhantu berhasil masuk ke trending."
"Kita pilih yang mana nih?" Aldian memperlihatkan sejumlah DM yang masuk pada Kafi.
Kafi menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Hmm ... gue bingung mau pilih yang mana."
"Gimana kalau kita bikin status aja di Instagramnya Redi. Cuma buat memastikan kalau mereka beneran mau ikut join ritual pembacaan mantra."
"Ya udah kita coba aja."
PENGUMUMAN
Dicari partner cewek yang mau ikut join ke penjelajahan tempat-tempat angker. Syaratnya masih muda.
"Eh kok syaratnya masih muda sih?" protes Aldian setelah membaca pengumuman yang diketik Kafi. "Kan kata Pak Darto, syaratnya harus perawan. Gadis yang masih suci."
Kafi berdecak. "Ya ampun Aldian. Ternyata lo itu cuma pandai pelajaran doang ya."
"Apaan sih maksud lo? Kan udah jelas-jelas kalau Pak Darto bilang, syaratnya harus perawan. Kalau kita bilang ke pengumuman abstrak kayak gitu. Entar yang balas DM malah janda, gimana?"
Kafi menghela napas untuk menahan emosi karena Aldian tak mengerti apa yang ia maksud. "Al, sekarang lo pikir. Siapa yang nggak berpikir aneh-aneh kalau kita bilang, kita nyari perawan."
"Maksud lo?"
"Lo bayangin aja ya. Tiba-tiba Redi nyari perawan. Entar malah dikira si Redi mau ngapa-ngapain followers cewek. Iya gak?"
"Iya juga ya." Aldian mengangguk membenarkan.
"Ya syaratnya aneh banget. Ya kali kita nyari perawan. Entar dikira kita mau melecehkan. Waaah bisa bermasalah sama polisi. Gue mah ogah. Bermasalah sama hantu aja, gue udah ketar ketir."
"Tapi ... kalau pengumumannya nggak spesifik kayak gitu, entar malah banyak yang DM."
"Ya kita seleksi satu-satu, Al. Kita bicarain baik-baik. Mungkin agak ribet sih. Tapi gue cuma mau meminimalisir masalah yang akan terjadi di kemudian hari."
"Oke." Aldian mengangguk. "Gue setuju sama ide lo."
Tak berapa lama mengirim pengumuman di instastory, mereka mendapatkan banyak respon dari para followers.
Rudi Dinata : Bang, kenapa mau ngajak cewek?
Gino Fauz : Ajak gue aja, Bang
Yuda Antara : Jangan ngajak cewek, Bang. Nggak seru. Mereka paling-paling cuma bisa teriak-teriak nggak jelas. Mendingan ngajak gue aja.
Hilal Masa : Konten lo pasti jadi nggak seru kalau ada ceweknya. Cewek jaman sekarang pada caper semua, Bang.
Gunawan Paijo : Nggak seru kalau ada ceweknya
Fino Alamsyah : Waaah ide bagus kalau ada ceweknya. Mata gue malah jadi fokus ke cewek, bukan ke kuntilanak.
Yudas Yuhui : Request ceweknya yang cantik aja, Bang. Biar ane tambah semangat nontonin konten lo.
Mata Aldian berdecak kesal setelah membaca respon followers yang kebanyakan bukan dari kaum wanita.
"Kenapa yang respon bukan Yanti malah Yanto?" Aldian memperlihatkan DM yang masuk pada Kafi.
"Ya sabar, bro. Cewek itu mikirnya lama." Kafi menepuk bahu Aldian dua kali.
Reisha Sirani : Kak, pilih aku aja, Kak. Aku siap menemanimu, Kak
Mega Anindya : Kak, aku mau join dong. Kayaknya seru kalau berpetualang sama Kakak.
Ramona : Aku mau, Kak.
Seiring berjalannya waktu, banyak followers perempuan yang mengirim DM instagram dan tampak antusias untuk menjadi partner menjelajah tempat-tempat angker.
"Waaah banyak banget yang mau ikut menjelajah. Gue jadi tambah bingung mau pilih yang mana." Aldian menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Kepalanya mendadak pusing bukan main.
"Ya udah sabar, bro. Mencari yang sesuai kriteria memang nggak semudah yang kita pikirkan." Kafi mengambil HP Redi dari tangan Aldian, lalu membaca sejumlah DM DM yang masuk.
"Banyak, kan? Gue dari tadi bingung mau pilih yang mana."
"Gimana kalau kita pilih yang ini nih." Kafi menunjuk nama Reisha Sirani.
"Kenapa lo pilih anak ini? Anak ini kelihatannya terlalu antusias." Aldian beropini.
"Ya mau gimana lagi. Biasanya orang yang antusias kayak gini, malah seneng kalau diajak kerjasama."
"Hmm ... bener juga ya." Aldian mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Kafi.
Redi Nugraha : Hai Reisha. Apa kamu yakin mau ikut penjelajahan kali ini?
Reisha Sirani : Wow seneng banget. DM ku dibalas sama Kak Redi.
Reisha Sirani : Aku nggak nyangka Kakak bakalan balas DM ku. Aku bener-bener seneng banget.
Redi Nugraha : Begini, sebenarnya gue ini temannya Redi yang bikin pengumuman di instagram. Ceritanya panjang.
Reisha Sirani : Hah? Berarti yang bikin pengumuman itu bukan Kak Redi sendiri? Berarti sekarang aku sedang chatan sama siapa? Agensi?
Redi Nugraha : Ya bisa dibilang gitu sih.
Reisha Sirani : Nanti aku bakalan ketemu Kak Redi, kan?
Redi Nugraha : Iya. Lo bakalan ketemu langsung sama Redi.
Reisha Sirani : Agensi kok bahasanya nggak formal sih
Redi Nugraha : Ya kita enjoy aja. Apa perlu bicara formal?
Reisha Sirani : Ya perlu dong. Kan kita mau kerjasama
Mmbaca balasan dari akun bernama Reisha Sirani, Aldian merasa geram karena akun tersebut ia nilai terlalu banyak bertanya.
"Ada masalah apa sih nih orang. Dari tadi nanya mulu." Aldian kembali menggeram kesal.
"Sabar, bro. Wajar kalau dia banyak nanya," kata Kafi mencoba menenangkan.
"Gimana gue bisa sabar? Lo kan tahu sendiri kalau gue paling nggak suka berinteraksi sama orang yang bertele-tele."
"Al, gue sampek capek ngomongin lo. Kan udah gue bilang berkali-kali kalau kita minta bantuan ya harus sabar. Apalagi kita mau minta bantuan yang nggak wajar. Mana kita minta bantuan yang nggak masuk akal!"
"Terus, gua harus balas gimana nih?"
Kafi merebut HP Redi yang kini dipegang oleh Aldian. "Sini! Biar gue aja yang balas."
Redi Nugraha : Untuk informasi lebih lanjut, kita bicarakan nanti saat bertemu ya. Karena ada beberapa hal privasi yang tidak bisa kita bicarakan di media sosial aja. Kita harus ketemu langsung.
Reisha Sirani : Oke. Ketemuan di mana?
"Mana? Perasaan nih cewek nggak bertele-tele sama sekali." Kafi memperlihatkan DM terakhirnya pada Aldian.
Mata Aldian menyipit, membaca DM dari akun bernama Reisha Sirani. "Kok sama lo bisa to the point kayak gitu sih?" tanya Aldian keheranan.
"Semua orang itu harus dihadapi dengan kepala dingin agar dia luluh. Lo itu ganteng doang. Tapi nggak bisa berinteraksi sama cewek," ejek Kafi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
TerrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
