Apa yang membuat kalian menunggu cerita ini update?
👻👻👻👻👻
Pak Darto mulai bercerita panjang lebar tentang masa lalunya. Rangkaian cerita ia paparkan setelah mengingat kembali memori-memori lama yang begitu menakutkan.
Saat masih muda, Pak Darto bekerja sebagai penjual bakso di kantin Universitas. Karena tak memiliki biaya, dia tidak bisa melanjutkan studinya ke jenjang perkuliahan. Alhasil, dia merelakan cita-citanya menjadi seorang arsitek dan memilih membantu ayahnya bekerja di kantin.
Kehidupan Darto awalnya baik-baik saja. Tidak ada sedikit pun kejanggalan pada hari-hari berat yang ia lalui. Semuanya berjalan normal seperti biasa. Hingga di suatu sore....
"To, ini ada pesanan bakso 10 bungkus ke asrama kampus. Tolong antarkan ya," pinta Pak Agus, ayah Darto.
"Iya, Pak." Darto mengangguk, bergegas memasukkan 10 bungkus bakso itu ke dalam sebuah kresek hitam.
"Eh tapi ini pesanan dari anak-anak asrama lama. Jangan sampai salah kirim."
"Asrama di seberang sana ya, Pak?"
"Bukan." Pak Agus menggeleng. "Kalau asrama seberang, namanya asrama baru. Asrama yang lama itu lho, letakkan bukan di area kampus ini. Agak jauh."
"Yang mana sih, Pak?"
"Kamu tahu bangunan bekas Belanda yang dekat hutan pinus nggak? Itu lho jalan Pustaka belok kanan."
"Oooh. Iya iya. Tahu." Darto mengangguk paham. "Rumah gede yang kelihatan serem itu, kan?"
"Nah, iya itu. Nanti bilang saja pesanan Gusti."
"Iya, Pak."
Darto segera menaruh sekeresek bakso ke dalam keranjang sepeda ontelnya. Dia mulai mengayuh, menyusuri jalan yang cukup ramai, menuju jalan yang cukup sepi. Sebelumnya, Darto pernah melewati jalan itu. Akan tetapi, dia bergegas pergi setelah bulu kuduknya berdiri.
Sesampainya di depan asrama, Darto menuntun sepedanya memasuki halaman asrama. Sepanjang dia melangkah, sembari melihat-lihat. Asrama tersebut terlihat sangat kuno, khas Belanda. Tembok dan tiang penyanggahnya terlihat kokoh. Keindahan bangunan asrama itu semakin sempurna dipadukan dengan pintu kayu.
Udara di sana terasa sangat sejuk. Mungkin karena dekat dengan hutan pinus. Darto menikmati perjalanannya melihat-lihat asrama. Berharap suatu saat, dia bisa menjadi Mahasiswa dan tinggal di asrama itu.
Tok tok tok
Darto mengetuk pintu. Cukup lama dia menunggu, hingga memutuskan untuk mengetuk pintu kembali. Seorang wanita bertubuh tambun membuka pintu tak cukup lebar. Dia hanya memperlihatkan sebagian mukanya.
"Mbak, ini pesanan baksonya," kata Darto.
"Siapa yang pesan?" Wanita itu membuka sedikit lebih lebar pintu asrama.
"Gusti."
"Sebentar ya. Saya panggilkan dulu," pamit wanita itu dengan nada datar.
Sikap wanita itu terasa sedikit aneh bagi Darto. Meskipun Darto orang asing, bukankah seharusnya wanita itu mempersilakan duduk di kursi teras? Darto mengedikkan bahu. Dia tak ambil pusing hal-hal kecil dan memilih berehat sejenak di atas kursi rotan. Semilir angin sejuk membuatnya mengantuk. Dan....
👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Senin, 13 Januari 2019
Jangan lupa baca karyaku yang berjudul flower five di akun @zaeemaazzahra Dijamin baper!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HorrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
