50. Stephani Part 5

20K 1K 24
                                        

Stephani menggambar sebuah bintang di atas kain hitam, menyalakan lima lilin putih, lalu ia tata mengelilingi gambar bintang itu. Dia meneguk ludah. Sebenarnya, tidak ada satu niatan pun untuk melakukan ritual pemanggilan arwah pelindung ini. Tapi apa boleh buat? Sudah beberapa hari ini hantu-hantu di ruang bawah tanah mengganggunya, bahkan lancang memasuki mimpinya. Stephani tak bisa tidur akhir-akhir ini. Dia selalu ketakutan. Entah siang atau malam hari. Hidupnya sungguh tak tenang.

Stephani mengambil pisau buah di nakas meja, lalu memadamkan penerangan kamarnya. Dia menyayat ujung jari telunjuknya, sengaja meneteskannya ke tengah-tengah gambar bintang. Tak lama menunggu, bunyi lonceng berdentum, pertanda jam 12 telah tiba. Stephani menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya.

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me," kata Stephani.

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me."

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me."

Angin kencang di luar sana mulai menerobos masuk, membuka jendela kamar Stephani seraya menerbangkan dedaunan kering.

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me."

Dua lilin yang dinyalakan Stephani seketika padam. Tangan Stephani gemetar hebat. Tapi dia sudah yakin untuk menyelesaikan ritual ini.

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me."

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me."

Dua lilin lagi menyusul padam. Angin bertiup semakin kencang. Kertas-kertas surat yang ada di kamar Stephani berterbangan. Stephani harus membaca mantra terakhir sebelum lilin ritual padam.

"Ik geef mijn bloed. Bescherm me."

Lilin terakhir menyusul padam tak lama kemudian. Angin berhenti bertiup kencang. Stephani meneguk ludah sambil bergerak mundur dengan mata membulat tak percaya. Sesosok wanita berambut ular merangkak muncul dari dalam gambar bintang.

Sosok itu mengulurkan tangannya. Stephani bergidik takut, melihat kulit bersisik wanita itu. Dia terdiam sejenak lantas berpikir dalam-dalam. Apa dia masih bisa menghentikan semua omong kosong ini?

Stephani kembali meneguk ludah, entah sudah yang ke berapa. Sosok wanita itu benar-benar menakutkan dan terus merangkak mendekati Stephani. Lidahnya menjulur-julur dan giginya bertaring. Sementara sudut matanya mendelik meneteskan darah. Sosok itu masih mengulurkan tangannya untuk Stephani.

Stephani tak ada pilihan lain. Nasi sudah menjadi bubur. Dia tak bisa mundur lagi. Dia sudah terlanjur memanggil arwah manusia ular itu. Mau tidak mau, dia harus meraih uluran tangan manusia ular itu.

"Ik zal je beschermen," kata manusia ular itu diselingi dengan desisan.

Dengan ragu, Stephani meraih tangan manusia ular itu. Sedetik, dua detik, lalu tidak detik. Manusia ular itu terpecah menjadi ratusan ular-ular kecil yang menggelayut berbondong-bondong memasuki tubuh Stephani.

Stephani berteriak ketakutan. Menebas ular-ular itu sebisanya. Tapi percuma. Ular-ular itu terlalu banyak. Menerobos kulitnya dengan lancang lalu menghilang seperti masuk. Stephani berulang kali berteriak meminta tolong. Tapi tak ada yang datang menolong. Tuan Eleonora sengaja berdiam diri di luar ruangan agar tak mengganggu proses ritual pemanggilan arwah.

👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
2 Februari 2020

Jangan lupa follow instragramku ya
IG= zaimatul.hurriyyah

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang