Aldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka".
Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
Sejak kecil, Aldian tinggal sendirian di rumahnya yang megah. Tidak ada pembantu, ataupun satpam. Untuk meminimalisir biaya hidup, dia hanya menyalakan lampu kamarnya di malam hari.
Aldian hidup sebatang kara. Setahun yang lalu, Hartanto, ayahnya kabur dari rumah dan meninggalkan banyak hutang di renternir. Tak lama setelah itu, Davina, ibu Aldian meninggal dunia. Aldian kini sudah terbiasa hidup mandiri.
Malam ini adalah malam terakhir Aldian tinggal di rumah megah itu. Besok, para renternir datang untuk menyegel rumahnya. Aldian tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa pasrah, dan bersumpah akan membeli rumahnya kembali.
Aldian memejamkan matanya, berharap pagi datang sedikit lama dari biasanya. Dia ingin tinggal di rumah yang penuh kenangan itu. Meskipun hanya sedetik lebih lama.
Dddrrrttt....
Ponsel Aldian bergetar, juga menyala. Aldian terbangun, lalu mengambil ponsel tersebut dengan malas dan menerima panggilan.
"Halo?" sapa Aldian malas.
"Halo, Yan. Lo jadi pindah ke asrama kagak?" tanya Kafi, sahabat Aldian sejak duduk di bangku SMP.
"Ya jadilah. Ngapain sih masih nanya juga?" tanya Aldian dengan mata terpejam. Dia menarik kembali selimutnya.
"Eh tapi kabarnya di asrama kampus banyak hantunya loh, Yan."
"Gue nggak percaya hantu."
"Jangan ngomong gitu, Yan. Hantu itu ada."
"Bacot lo! Eh gue sudah setahun tinggal sendirian di rumah gede. Dan gue nggak pernah lihat yang namanya hantu," kata Aldian setengah membentak, merasa Kafi telah mengganggu tidur nyenyaknya.
"Ya udah kalau lo nggak percaya sama gue. Entar gue doain elo diganggu hantu, setan, iblis, dan demit. Mampus lo!"
"Gue lebih takut jadi gelandangan daripada lihat hantu," tutup Aldian mengakhiri panggilan.
"Apaan sih nih bocah. Gangguin orang lagi tidur aja." Aldian menggerutu seraya mengembalikan ponsel di nakas meja.
***
Mata Aldian melebar ketika ia tiba di depan gerbang asrama yang begitu besar. Pagar besi itu nampak berkarat, sudah jelas tak terawat. Dari luar, Aldian bisa melihat halaman luas dengan daun-daun kering yang berserakan, juga ilalang yang tumbuh menjulang. Terasa sepi, juga menakutkan.
Bulu kuduk Aldian bergidik, seolah mengisyaratkan untuk berhenti. Tapi Aldian tak mempunyai pilihan lain selain tinggal di asrama Mahasiswa. Selain murah, konon katanya setiap Mahasiswa juga mendapatkan jatah makan gratis di hari Minggu. Benar-benar tawaran yang menggiurkan bagi Aldian.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Aldian mengembuskannya, berjalan sambil menyeret koper rodanya seraya terus mengamati pemandangan di sekitarnya yang lama kelamaan terasa menyeramkan.
Entah sejak kapan, Aldian tiba-tiba merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Napasnya terengah. Menoleh pun, ia tak berani.
"Kamu siapa?" tangan seseorang mendarat di salah satu pundak Aldian secara tiba-tiba, sukses membuat Aldian terlonjak membalik badan.
"Aduuuh, Pak. Ngagetin saya saja," kata Aldian mengelus-elus dadanya.
"Maaf, Mas."
"Lain kali jangan ngagetin gitu, Pak."
"Iya, Mas. Maaf."
"Ngomong-ngomong ... Bapak ini siapa?" tanya Aldian penasaran.
"Kenalkan, nama saya Darto, penjaga asrama ini."
"Saya Aldian, Pak. Saya anak baru di asrama Mahasiswa ini."
"Oooh anak baru ya." Pak Darto mengangguk paham. "Kalau begitu, saya harus memberitahu kamu tentang batas-batas wilayah asrama yang tidak boleh kamu lewati."
"Batas asrama?" dahi Aldian berkernyit.
"Iya. Di asrama ini, ada tiga batas wilayah yang tidak boleh dilewati atau dimasuki oleh siapa pun."
"Maksudnya?" Aldian masih belum mengerti.
"Turuti saja apa nasehat saya. Mari ikut saya!"
Aldian meneguk ludah, sedikit merasakan firasat buruk. Tak ada pilihan lain selain mengangguk.
❤❤❤❤❤ Zaimatul Hurriyyah Minggu, 17 November 2019
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.