18. Puluhan Pasang Mata

25.6K 1.3K 24
                                        

Aldian berlari mengejar Redi yang seperti kebingungan tak tahu arah. Redi terus berteriak-teriak, berlarian, lalu berputar-putar di tengah gerimis.

"Oi ayo balik!" Aldian meraih kerah bagian belakang baju Redi.

Redi meronta-ronta dengan mata mendelik tajam. Dia mendorong tubuh Aldian, hingga Aldian tersungkur di atas tanah.

"Oi!" Aldian meraih pergelangan kaki Redi, menghentikannya agar tidak keluar dari halaman asrama. "Jangan pergi, Redi! Ayo balik!"

Redi menghempaskan tangan Aldian. Kali ini dia menari, menikmati bulir-bulir air hujan yang turun semakin deras.

"Woi! Ayo kita balik!" Aldian menyeret lengan Redi, membawanya kembali asrama. Tak peduli jika Redi terus melawan.

Aldian mendesis kesal, bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, dia harus menemui Rafka di ruang bawah. Namun di sisi lain, dia harus menahan Redi agar tidak keluar dari asrama.

Mata Aldian berpendar ke seluruh ruangan. Pandangan matanya terhenti pada seikat tali yang berada tak jauh dari kaki meja. Aldian segera mengambil tali itu, mengikat Redi di tiang rumah, lalu berlari menuju ruang bawah tanah.

Braaak braaak braaak

Pintu ruang bawah tanah seakan ada yang mencoba mendobrak dari dalam. Aldian meraih gembok yang mengunci pintu itu. Aneh! Kenapa pintu ruang bawah tanah bisa digembok?

"Rafka, tunggu sebentar ya!" teriak Aldian.

Aldian berdiri, mengedarkan pandangan ke sekeliling, hingga matanya tertuju pada kapak bekas Rafka mendobrak rak buku. Aldian tak berpikir panjang. Dia langsung mengambil kapak itu dan menghempaskannya ke arah gembok yang mengunci Rafka. Dengan beberapa kali tempaan, gembok itu hancur seketika.

Rafka langsung keluar dengan napas ngos-ngosan. Dia masih tak percaya dengan apa yang dia lihat di dalam ruang bawah tanah. Walau gelap, dia bisa merasa ada puluhan pasang mata yang mengintainya.

"Rafka, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Aldian cemas.

"Aldian, sepertinya kita harus segera pergi dari asrama ini," kata Rafka dengan suara goyah.

"Bukannya lo mau mencari jasad Tony?"

"Enggak." Rafka menggeleng. "Lo benar! Asrama ini terlalu berbahaya untuk kita."

"Maksud lo?"

"Penghuni asrama ini marah dengan kedatangan kita."

"Penghuni asrama?"

"Iya. Penghuni asrama. Selain kita, ada mereka yang tak kasat mata," jelas Rafka.

"Lalu kita harus gimana? Hujan di luar deras banget. Lampu jalanan banyak yang mati. Terlalu berbahaya untuk keluar malam ini."

"Walaupun bahaya, kita tetap harus coba. Karena lebih berbahaya jika tetap tinggal di asrama ini. Ayo!"

"Ya udah. Ayo!" Aldian mengangguk setuju.

👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Rabu, 25 Desember 2019

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang