Vote dulu sebelum baca ya ^^
👻👻👻👻👻
"Tolong, Kakek."
"Darto, Kakek mohon jadilah penjaga asrama."
"Himbau para anak muda itu agar tidak mendekati gudang apalagi ruang bawah tanah."
"Darto, tolong Kakek."
"Kakek hanya tidak ingin ada korban lagi."
"Kakek mohon, Darto. Kamu adalah satu-satunya harapan, Kakek."
"Hanya kamu yang bisa menjadi penjaga asrama."
"Tolong, jaga asrama agar tidak ada korban jiwa lagi, Darto."
"Mereka para penghuni asrama hanya ingin tenang di dalam ruang bawah tanah tanpa ada yang mengganggu."
"Kakek mohon, jaga asrama itu untuk Kakek."
Darto membuka matanya spontan. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Terlebih kepalanya. Pusing bukan main. Berulang kali ia melihat sosok pria yang mengaku sebagai kakeknya dalam mimpi.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak. Bapak khawatir sekali sama kamu," kata Pak Agus yang berlinang air mata. Sejak kematian istrinya lima tahun lalu, penyemangat hidupnya hanya tinggal Darto seorang. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya jika Darto tidak selamat dari kecelakaan mengerikan itu.
Darto masih lemas. Tangan kirinya tidak bisa ia gerakkan. Dilihatnya perban melingkar rapi di sana.
"Kamu istirahat dulu, Darto. Kata dokter, kamu belum boleh banyak bergerak," imbau Pak Agus. Dia menaikkan selimut Darto sampai ke bagian dada.
Dua orang anak kecil berlari-larian riang gembira di kamar Darto. Mereka terlihat asyik bersenda gurau. Darto tersenyum tipis. Namun tak lama, senyuman Darto mengempis saat dua anak kecil itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari hadapannya.
Darto mengerjapkan mata. Napasnya mulai berat tak beraturan. Dia berharap salah lihat. Meyakinkan pada diri sendiri bahwa dirinya sakit dan sekadar berimajinasi.
"Darto, kamu kenapa?" tanya Pak Agus yang mendapati anaknya tampak gelisah.
Darto menggeleng. "Nggak apa-apa, Pak."
Beberapa hari menginap di rumah sakit, Darto menyadari bahwa pengelihatannya sudah tak seperti dulu. Dia acap kali melihat sosok-sosok pucat berbau bangkai yang menghardik indra penciumannya. Kali ini seorang pria penuh darah yang menembus pintu kamarnya. Lalu lalang di hadapan Darto kemudian menghilang seperti sulap. Darto ingin berteriak ketakutan. Namun suaranya tercekat di leher. Ia sudah yakin betul bahwa sosok-sosok itu bukanlah manusia melainkan hantu.
"Darto, kamu kenapa, Nak?"
"Pak ... sepertinya aku me ... aku ... aku bisa melihat hantu," ungkap Darto enggan. Matanya kembali terbelalak takut saat sosok pria pucat penuh darah kembali datang ke kamarnya dengan menembus tembok.
Pak Agus tergelak. "Kamu ini jangan bercanda! Mana ada orang bisa melihat hantu?"
Darto meneguk ludah, perlahan menunjuk sosok pria pucat yang sedang berdiri di belakang ayahnya. "Ha... han... tu."
Pak Agus menoleh. Tidak ada siapa pun di belakangnya. Mungkin karena kecelakaan, Darto mulai gemar menghayal, pikir Pak Agus.
👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Sabtu, 18 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
TerrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
