52. Stephani Part 7

22.8K 1K 92
                                        

Komentar sebanyak-banyaknya ya

👻👻👻👻👻

Bertahun-tahun berlalu sejak ritual pemanggilan arwah itu. Tuan Eleonora bersama istri untuk beberapa hari harus berangkat ke Belanda karena ada urusan penting. Mereka meninggalkan Stephani sendirian di rumah bersama beberapa pembantu.

Stephani sudah hidup dengan tenang tanpa sedikit pun gangguan. Dia bisa leluasa membaca buku-buku yang ia suka di perpustakaan pribadinya. Hingga akhirnya, dia merasa jenuh, menunggu kedua orang tuanya yang tak kunjung pulang. Stephani memutuskan menulis surat pada kedua orang tuanya, lalu menitipkannya pada salah seorang pejabat yang ia kenal.

Stephani menghela napas. Dia kembali ke kamarnya lalu merebahkan diri, menatap kosong langit-langit.

"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu di sana, ya?" Stephani bertanya-tanya. Tak terasa sudah nyaris sebulan berlalu.

Stephani terlelap. Di luar sana, matahari senja telah tergantikan oleh purnama. Stephani lupa menyiapkan darah hewan untuk ritual persembahan purnama.

"Ayah...." Stephani mengigau.

Jarum jam dinding terus bergerak. Sementara Stephani masih tertidur. Dia kelelahan setelah mengurus surat ke pejabat yang ia kenal. Terlebih, hari ini dia sempat kehujanan hingga membuat tubuhnya demam cukup parah.

"Ayah...." Stephani kembali mengigau.

Kain hitam bergambar bintang tiba-tiba melayang, keluar dari dalam laci. Kain hitam itu membentang di atas lantai. Hujan deras disertai angin dari luar rumah, rupanya bertambah membabi buta. Membuat jendela kamar Stephani terbuka. Serpihan air hujan masuk begitu lancang, membawa dedaunan yang terhempas dari ranting. Suara desisan ular mulai terdengar berbisik.

"Je hebt de bloedovereenkomst gebroken. Je moet sterven."

"Je hebt de bloedovereenkomst gebroken. Je moet sterven."

Desisan itu semakin lama semakin mendekat ke telinga Stephani yang artinya, kamu telah melanggar perjanjian darah. kamu harus mati.

"Je hebt de bloedovereenkomst gebroken. je moet sterven."

Seekor ular yang sangat besar keluar dari dalam kain hitam bergambar bintang. Ular itu merambat menuju tubuh Stephani yang terkulai lemas di atas ranjang.

"Je hebt de bloedovereenkomst gebroken. Je moet sterven."

Stephani perlahan membuka matanya. Spontan, dia berteriak menjauh. Jantungnya berdetum ketakutan. Ular itu semakin mendekat.

Stephani menuruni ranjangnya. Namun ular yang teramat besar itu merambat cepat, melilit tubuh Stephani.

Stephani ingin berteriak. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Tubuhnya tak bisa bergerak. Ular itu terus melilit semakin erat.

Stephani memberontak. Namun kekuatan ular itu terlalu besar. Stephani tak bisa melawan. Mulutnya menganga, kesulitan mengambil napas. Tulang-tulang rusuknya patah. Seketika Stephani memuntahkan banyak darah. Matanya mendelik tersiksa. Tak lama, dia kehilangan napas terakhirnya.

Ular besar itu melahap tubuh Stephani hingga tak tersisa sedikit pun. Setelah puas, ular itu perlahan merambat balik menuju kain hitam bergambar bintang, lalu hilang seperti tak ada apa-apa. Dia membawa jasad Stephani entah ke mana.

👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Jumat, 7 Februari 2020

Apa pendapat kalian tentang Stephani?

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang