Aldian dan Rafka bergegas keluar asrama menuju rumah Pak Darto yang kebetulan tak jauh dari asrama. Akan tetapi, malam itu turun hujan yang sangat lebat.
"Ayo! Tunggu apa lagi! Ayo kita cari Pak Darto!" Rafka berlari menembus hujan, melewati jalan setapak yang hanya berpencahayaan remang-remang.
Saat mengikuti langkah Rafka, tiba-tiba Aldian terhenti dengan tatapan heran. Bertanya-tanya mengapa Rafka sepeduli itu pada Redi? Padahal Rafka belum satu hari mengenal bocah itu.
"Aneh banget. Kenapa Rafka kelihatan peduli banget sama Redi?" Aldian bertanya-tanya dalam hati.
Langkah kaki Rafka terhenti ketika sadar bahwa Aldian tak lagi mengikutinya. Dia berbalik dengan tubuh yang sudah basah kuyup, melihat Aldian masih berdiri mematung tak jauh dari asrama.
"Woi! Ngapain lo bengong kayak gitu? " teriak Rafka. "Ayo kita cari Pak Darto!"
"Iya!" balas Aldian.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Aldian dan Rafka tiba di rumah Pak Darto. Mereka mengetuk pintu berulang kali.
"Siapa itu?" tanya Pak Darto dari dalam rumah.
"Pak, ini kami. Rafka dan Aldian," sahut Rafka.
Pak Darto pun membuka pintu. "Ada apa kalian ke sini? Apa kalian tidak punya sopan santun? Ini jam berapa?" omelnya.
"Pak, Redi hilang, Pak. Tolong bantu kami mencarinya, Pak," kata Rafka tanpa basa-basi.
"Redi anak yang suka merekam itu?"
"Iya, Pak. Sekarang kita nggak tahu keberadaan dia di mana."
"Pasti bocah itu seenaknya merekam lagi. Penghuni asrama sudah jelas marah besar," gumam Pak Darto.
"Sekarang kita harus bagaimana, Pak. Kata Aldian, kemungkinan Redi sekarang ada di gudang penyimpanan."
"Apa?" Pak Darto terlonjak kaget. Seingatnya, ia sudah mengunci rapat-rapat pintu gudang asrama.
"Iya. Kemarin Redi sempat bikin konten di gudang itu," ungkap Aldian.
"Tapi ... bagaimana dia bisa membuka pintunya? Kuncinya kan ada di saya," kata Pak Darto.
"Saya kurang tahu sih, Pak. Tapi terakhir kali saya melihat Redi punya kunci dengan bentuk yang mirip seperti kunci punya Bapak," jelas Aldian.
Pak Darto segera mengecek serenceng kunci yang ia miliki. Dan benar! Kunci gudang menghilang!
"Kunci saya hilang! Pasti bocah itu telah mencurinya saat saya lengah," tebak Pak Darto.
Pak Darto mengingat kembali momen beberapa hari yang lalu ketika ia tertidur pulas di pos jaga setelah Redi memberinya secangkir kopi. Entah mengapa waktu itu, matanya mendadak lengket tak bisa terbuka.
"Jangan-jangan bocah itu memasukkan sesuatu ke kopi yang ia bikinin," tebak Pak Darto penuh curiga.
"Pak, sekarang kita harus bagaimana, Pak? Kita harus cepat-cepat menolong Redi," kata Rafka memohon.
"Sudah terlambat! Penghuni asrama pasti sekarang sudah sangat murka. Mereka tidak akan membiarkan Redi begitu saja," jelas Pak Darto.
"Maksud Bapak?" tanya Aldian.
"Sebenarnya ... mereka tidak pernah mengganggu penghuni asrama asalkan tempat-tempat mereka tidak diusik," papar Pak Darto.
"Pak, saya mohon! Sudah nggak ada waktu lagi, Pak!" pinta Rafka. "Ayo kita cari Redi!"
"Saya nggak mau! Urus saja urusan kalian sendiri! Sudah berulangkali saya bilang, tapi bocah itu tidak mau mendengarkan saya!"
"Pak, saya mohon tolong Redi, Pak! Jangan sampai kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali," bujuk Rafka.
"Ha? Kejadian beberapa tahun yang lalu? Sebenarnya ada apa?" Aldian keheranan. Tak mengerti dengan apa yang dikatakan Rafka.
Setelah Aldian dan Rafka membujuk Pak Darto cukup lama, akhirnya Pak Darto bersedia membantu mereka mencari keberadaan Redi.
"Baiklah. Saya akan membantu kalian. Tapi saya nggak janji bocah itu akan kembali," ucap Pak Darto.
Kini mereka bertiga sudah berada di depan rak buku, pintu rahasia. Pak Darto mulai meraba rak buku itu seraya berkomat-kamit entah membaca apa. Tak lama, pintu rahasia itu terbuka dengan sedikit dorongan.
"Waaah gue nggak nyangka kalau di asrama ini ada pintu rahasia seperti ini," kata Rafka. Seketika ia teringat seseorang di masa lalu. Seseorang yang sangat ia sayangi.
Pak Darto mulai melangkah masuk, diikuti oleh Aldian dan Rafka. Ruangan terlihat sangat gelap. Pak Darto mulai menyalakan lampu senter.
"Kalian sebaiknya keluar dari sini." Pak Darto berbalik, mendorong Aldian dan Rafka untuk keluar ruangan. "Biar saya yang mencari Redi sendiri."
Aldian dan Rafka mengangguk patuh. Pak Darto menurup rak buku, berjalan di kegelapan ruangan dengan hanya berbekal lampu senter. Tak lama setelah melihat-lihat, dia menemukan sebuah lantai dengan pola aneh. Dia mulai meraba lantai itu. Tak lama, lantai itu terbuka.
Pak Darto mengarahkan lampu senternya ke tangga yang menuju ruang bawah tanah. Kosong, hanya suara lirih tangis seseorang di bawah sana. Pak Darto memberanikan diri. Dia mulai melangkah menuruni anak tangga.
Lampu senternya tersorot menerangi jalan Pak Darto. Banyak deretan ruang dengn jeruji besi berkarat di sepanjang lorong. Bulu kuduk Pak Darto mulai bergidik. Dia baru tahu jika di dalam asrama yang ia tinggali selama ini terdapat ruang bawah tanah yang begitu menyeramkan.
Pak Darto mengarahkan sorot lampu senternya ke arah salah ruang dengan pintu jeruji besi itu. Dilihatnya sebuah ranjang penuh jarum, juga kursi bertatakan besi-besi tajam. Lagi, Pak Darto bergidik, membayangkan betapa kejamnya jaman kolonial Belanda masa itu.
"Redi...."
"Redi ... kamu di mana?" panggil Pak Darto yang terus menyusuri lorong.
Langkah kaki Pak Darto akhirnya berhenti saat melihat seorang anak muda berpakaian compang-camping tengah meringkuk sendirian di sudut ruangan yang teramat sangat gelap. Pandangan matanya kosong, tubuhnya menggigil, dan ia tak henti-hentinya menggigiti kuku jarinya sendiri.
"Redi? Redi? Kamu kenapa?" tanya Pak Darto cemas.
Redi tak menjawab. Ia masih diam dengan tubuh meringkuk, juga menggigil.
"Redi, ayo kita segera keluar dari sini!"
Redi menggangguk semangat. Dia tiba-tiba mencengkram baju Pak Darto, menatap Pak Darto dengan mata memohon.
"Tolong saya, Pak! Tolong!" Mata Redi terlihat ketakutan. Tangannya gemetar hebat.
"Ayo, Redi!" Pak Darto langsung memapah Redi untuk keluar dari ruang bawah tanah, mengabaikan suasana ruang bawah tanah yang kental dengan aura mistis, terus melangkah menuju jalan keluar.
Mata Aldian dan Rafka terbelalak lebar ketika Redi berhasil keluar bersama Pak Darto. Namun anehnya, Redi terlihat tidak baik-baik saya.
❤❤❤❤❤
Zaimatul Hurriyyah
Selasa, 26 November 2019
Aku update dikit-dikit chapternya. Suka-suka updatenya. Nggak ada waktu tetap untuk jadwal update. Tergantung waktu luangku ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HororAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
