Aldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka".
Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
Rafka mendekat pada sebuah cermin besar yang berada di sudut di kamar itu. Sekelebat dia melihat sosok Tony di dalam sana. Tangan Rafka mulai menjulur, memegang permukaan cermin.
"Tony? Keluarlah! Tony?" Rafka menggedor-gedor cermin itu, barang kali Tony bisa keluar.
"Tony!"
Percuma. Tony tidak bisa mendengar teriakannya.
"Tony!" teriak Rafka. Tanpa di sengaja, dia masuk ke dunia lain. Dunia yang entah kapan, namun dengan tempat yang tak terasa asing.
"Tony?" Rafka mengejar Tony yang berjalan menuju teras asrama. Dia mencoba memegang Tony. Tapi tak bisa. Tony seolah tak melihatnya.
Asrama mendadak terlihat sangat ramai. Sejumlah Mahasiswa lalu lalang keluar masuk asrama. Ada yang bersenda gurau seraya bermain gitar, ada yang tampak serius bermain catur, ada pula yang sibuk mengerjakan tugas kuliah.
Tony menghampiri dua orang temannya yang terlihat asyik bermain catur, Tio dan Lukas. Dia ikut duduk di atas rerumputan kering sambil mengamati sebentar posisi pion-pion temannya, kemudian dia berdecak.
"Eh ngomong-ngomong, gue dengar Reno bakalan keluar dari asrama ini," kata Tony. Dia mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya.
"Ya ... mungkin dia ketemu Mbak Stevi kali," timpal Tio, diikuti gelak tawa Lukas.
"Kalian percaya nggak sih, kalau asrama ini tuh berhantu?" imbuh Tony yang mulai menyesap puntung rokoknya.
"Gue sih percaya aja kalau asrama ini berhantu. Tapi masalahnya, gue nggak takut hantu," kata Lukas lalu terkikik. Dia mulai menjalankan pionnya. Tak sekali pun dia serius menimpali siapapun yang membahas hal-hal gaib dengannya.
"Jaman sekarang percaya yang namanya hantu. Cemen lo, Ton!" ejek Tio.
"Jaman sekarang mah, hantu nggak ada harga dirinya. Lihat aja di youtube tuh. Prank hantu malah digebukin. Rumah tua malah direkam jam 12 malam. Nggak ada apa-apa tuh." Lukas beropini.
"Itu tuh ada lagi acara lambaikan tangan ke kamera. Apa tuh judulnya? Lupa gue." Tio kini giliran menjalankan pion caturnya.
"Udahlah. Biarin aja mereka pergi dari asrama ini karena Mbak Stevi. Kan kalau asrama ini sepi, kita jadi enak," kata Lukas.
"Enak apanya?" dahi Tony berkernyit.
"Ya kita bisa bawa pacar ke asrama tanpa ketahuan," timpal Lukas ketus.
"Lo kan tau sendiri kalau Darto pulang ke rumahnya jam 9 malam. Setelah itu, kita bisa bawa pacar." Tio tertawa.
"Oooh bener juga ya." Tony mengangguk setuju. "Tumben lo cerdas!"
"Cerdas dong! Gue gitu loh."
👻👻👻👻👻 Zaimatul Hurriyyah Kamis, 26 Desember 2019
Apa pendapat kalian tentang Rafka?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini puluhan pasang mata yang biasa ada di ruang bawah tanah ya