Aldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka".
Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
Karin mengucek mata melihat jalanan yang dilaluinya. Tak peduli berapa kali dia melewati jalan yang benar, dia selalu kembali di depan gerbang asrama.
"Rin, ini kan gerbang asrama. Ngapain kita ke sini lagi?" tanya Anna keheranan.
"Gue nggak tahu. Padahal gue yakin udah lewat jalan yang bener kok," timpal Karin bingung.
"Mungkin karena lo mabok, jadi salah jalan, Rin," kata Bella yang membuka jendela mobil, melongok keluar, dan melihat-lihat sebentar.
"Gue yakin banget udah ambil jalan yang bener kok," sanggah Karin.
"Eh namanya orang mabok, pasti salah ambil jalan."
"Enggak! Gue nggak mabok!"
"Elo mabok!"
"Enggak! Gue yakin udah bener nyetirnya, An!"
"Ya elah. Dikasih tahu malah ngeyel."
"Udah-udah," lerai Bella. "Daripada berantem, mendingan kita lanjutin perjalanan."
Jalanan tampak begitu sepi. Beberapa lampu penerangan redup, ada yang berkedip-kedip, ada pula yang mati. Mereka bertiga mencoba melanjutkan perjalanan pulang.
"Apa lo yakin, masih mau nyetir, Rin?" tanya Bella. "Takutnya entar kesasar lagi."
"Iya. Sini! Gue gantiin aja," saran Anna.
"Gue yakin kok. Kalian nggak usah lebay!" kilah Karin penuh percaya diri.
Kabut tebal perlahan muncul, membuat pengelihatan Karin tak begitu jelas. Di tengah perjalanan, mobil yang ia kendarai mendadak mogok. Beberapa kali Karin sempat mencoba menyalakan mesin, namun tetap saja mobilnya tak bisa melaju.
"Kenapa, Rin?" tanya Bella.
"Nggak tau nih. Mogok." Karin kembali mencoba menyalakan mesin.
"Mobil baru kok mogok sih. Jadi bete deh." Anna berdecak kesal seraya melipat tangan.
"Aduuuh gimana dong? Mana jalanan sepi lagi," keluh Bella.
"Kalian bisa diem nggak? Gue jadi pusing, nih!" bentak Karin memukul stir, membuat kedua temannya terperanjat kaget.
"Menakutkan juga ya malam-malam kayak gini. Gimana kalau kita balik ke asrama aja?" saran Bella. Bulu kuduknya mulai berdiri, mendadak firasat buruk membuatnya bergidik takut.
"Gila lo! Gue bisa-bisa dimarahin sama bokap kalau sampai entar pagi mobil ini nggak ada di rumah," kilah Karin.
"Kita cari bantuan aja." Anna membuka pintu mobil, lalu keluar. Dia menggeliat, meregangkan tubuh sambil menghirup udara segar.
"Elo bego ya? Mana ada orang yang mau bantuin kita malam-malam begini," kata Karin.
"Udahlah. Siapa tahu di dekat sini ada rumah warga yang mau tolongin kita. Tinggal tampar pakek duit, semua orang juga pasti mau tolongin kita." Anna melangkah menyusuri jalan setapak. Perlahan ia menghilang di antara kabut.
"Anna! Cepat balik ya!" teriak Bella.
"Iya." Terdengar sahutan Anna di antara kabut.
"Tuh anak nggak ada takut-takutnya ya." Bella menggeleng takjub.
"Hallah! Apa yang perlu ditakutin sih? Di dunia ini tuh nggak ada yang namanya hantu. Mereka hanya mitos," bantah Karin.
"Tapi gue percaya kalau di dunia ini ada hantu. Soalnya waktu gue masih SD, gue pernah diganggu makhluk halus di rumah nenek."
"Diem lo! Gue nggak mau dengar cerita kayak gitu-gitu. Fiksi!"
Karin meneguk ludah. Diam-diam, dia juga takut berada di jalanan sepi yang diselimuti kabut asap. Terlebih, mobilnya mogok, sesekali terdengar suara lolongan anjing-anjing liar di tengah hutan.
👻👻👻👻👻 Zaimatul Hurriyyah Sabtu, 28 Desember 2019
Apa yang kalian lakukan jika terjebak malam hari di tengah jalan sepi yang berkabut?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.