Beberapa hari setelah ritual penyucian berhasil, Redi akhirnya pulih sepenuhnya. Bahkan ia mengingat semuanya dengan sangat jelas, tak lagi samar-samar seperti sebelumnya. Wajahnya tampak lebih tenang, matanya tidak lagi kosong seperti dulu. Ia memutuskan mengundang Aldian, Kafi, Maya, dan Pak Darto untuk berkumpul di sebuah kafe kecil dekat asrama.
Saat semua sudah duduk, Redi membuka percakapan dengan senyum canggung.
"Terima kasih, semuanya. Kalau bukan karena kalian, mungkin sekarang aku masih... entah, tersesat di dunia yang salah. Suara-suara jeritan itu masih bikin aku linglung seperti orang yang nggak waras."
"Yang penting kamu udah sadar sekarang, Red. Kami cuma bantu semampu kami," kata Maya. "Aku senang bisa menolong orang lain."
Kafi terkekeh kecil. "Iya, yang penting jangan bikin konten aneh-aneh lagi, bro. Kalau mau bikin video, bikin yang tentang kuliner aja, bukan makhluk halus!"
Mereka tertawa bersama, memecah suasana tegang yang sempat terasa. Namun kemudian, Redi menunduk serius. Dari tasnya, ia mengeluarkan empat amplop putih dan meletakkannya di meja.
"Apa ini?" tanya Aldian heran.
"Sebagian dari penghasilan channel-ku," jawab Redi pelan. "Aku udah mutusin untuk berhenti bikin konten horor. Rasanya... aku nggak mau lagi memanfaatkan hal-hal yang berhubungan dengan kutukan atau arwah. Resikonya terlalu besar dan nggak bisa dinilai dengan uang. Aku masih beruntung karena bisa kembali berkat kalian semua."
Pak Darto menatapnya penuh bangga. "Keputusan yang bijak, Redi. Kadang manusia harus belajar dari kesalahan."
Maya membuka amplopnya, lalu menatap Redi. "Ini terlalu banyak, Red. Kamu nggak perlu—"
"Tolong diterima," potong Redi lembut. "Ini bukan soal uang. Ini bentuk terima kasihku. Kalian bukan cuma nyelametin nyawaku ... tapi juga nyelametin kewarasanku."
Hening sejenak. Aldian menepuk bahu Redi dengan senyum hangat.
"Kita semua udah melalui hal gila bersama. Tapi yang terpenting, sekarang semuanya udah selesai."
Redi mengangguk, matanya sedikit berkaca. "Iya. Aku cuma mau hidup tenang sekarang. Mungkin mulai dari vlog kuliner seperti kata Kafi."
Pak Darto tertawa kecil. "Bagus itu. Nyari yang aman-aman saja."
"Tapi ... hati-hati kolesterol ya!" canda Kafi yang diikuti gelak tawa semuanya, membuat suasana yang tadinya canggung menjadi hangat.
"Kalian harus menerima amplop dariku," kata Redi setelah mengobrol ringan dengan semuanya.
Semua orang menatap amplop putih di depan mereka dengan perasaan campur aduk. Aldian, Kafi, Maya, dan Pak Darto sempat saling pandang sebelum akhirnya tersenyum. Mereka tahu, pemberian Redi bukan sekadar uang, melainkan wujud rasa terima kasih yang tulus.
"Terima kasih, Red," ucap Pak Darto pelan. "Kami terima, bukan karena jumlahnya, tapi karena keikhlasanmu."
Redi mengangguk lega. "Aku cuma ingin menebus kesalahan dan berterima kasih."
Maya menepuk bahunya sambil tersenyum. "Baiklah. Kami akan menerima niat baikmu, Red."
---00---
Setelah keluar dari kafe, udara sore terasa hangat. Lampu-lampu jalan mulai menyala dan memantulkan cahaya keemasan di aspal basah sisa hujan siang tadi. Aldian dan Redi berjalan berdampingan sambil bercanda ringan, sementara Pak Darto menepuk bahu mereka.
"Kalian duluan saja pulang. Saya masih ada urusan sebentar," ujar Pak Darto pamit.
"Baik, Pak. Hati-hati di jalan," sahut Aldian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HorrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
