Aldian terdiam sejenak. Walau bagaimana pun, ia tidak bisa memaksa Kafi untuk mengorbankan perkuliahannya demi melakukan ritual penyucian tiga tempat terlarang.
Kafi adalah anak satu-satunya. Ia menjadi harapan orang tua. Tak heran jika bocah itu selalu menyempatkan waktu untuk belajar demi lulus kuliah.
Aldian merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil mengamati Kafi yang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Aldian hanya heran mengapa sahabatnya itu bisa fokus belajar.
"Kok lo bisa fokus belajar sih?" tanya Aldian keheranan. Kini kepalanya pusing bukan main karena ritual yang ia lakukan tak berjalan mulus.
"Ya mau bagaimana lagi? Gue nggak mau lulus telat, Al. Orang tua gue sering keluar kota gara-gara nyari duit buat biayain gue kuliah," jelas Kafi.
Aldian menghela napas. Tidak ada hal yang bisa ia kerjakan. Sebenarnya, dia juga banyak tugas. Beberapa pesan WA dari teman satu kelompoknya sudah berulangkali menagih agar dia cepat-cepat setor bagian tugas. Tapi apalah daya. Pikiran Aldian benar-benar penuh. Ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
"Sebenarnya, gue juga mau ngerjain tugas. Tapi ... sebentar lagi penerimaan Mahasiswa baru. Arwah-arwah itu harus segera dinetralisir agar tidak ada korban jiwa lainnya." Aldian segera mengambil HP Redi, lalu melihat-lihat pesan yang masuk.
Mata Aldian menyipit, semua pesan yang masuk terlihat seperti sangat meyakinkan. Mereka tampak antusias dengan ajakan Aldian di instastory yang menyamar sebagai Redi. Aldian jadi bingung mau memilih yang mana.
"Eh ini banyak banget yang antri mau ikut ritual." Aldian mencoba memperlihatkan sejumlah DM instagram pada Kafi.
"Al, nanti malam aja," tolak Kafi. "Nanti gue bakalan cek pesan yang masuk di DM. Tapi entar! Setelah gue nyelesain tugas kuliah gue."
Aldian berdecak kesal, merasa Kafi tak mengerti apa yang ia rasakan. Rafka dan Redi sudah jelas-jelas telah menjadi korban para penghuni asrama itu. Akan tetapi Kafi malah lebih mementingkan tugas kuliah daripada meminimalisir korban. Ini bukan tentang nilai kuliah! Tapi tentang nyawa!
"Lo ini bisa serius nggak sih?" Aldian dengan lancang menutup laptop Kafi tanpa izin, tentu saja hal itu seketika menyulut emosi Kafi.
"Lo apa-apaan sih!" bentak Kafi. "Gue kan udah bilang baik-baik ke elo kalau gue mau ngerjain tugas dulu. Kalau menolong orang, pasti bakal gue bantuin kok!"
"Kaf, ini tentang nyawa, Kaf! Sebentar lagi penerimaan Mahasiswa baru. Mau nggak mau, sebagian besar mereka bakalan tinggal di asrama. Kalau sampai ada korban lagi, gimana?"
"Ya itu salah mereka sendiri! Kenapa mereka melanggar apa yang dikatakan Pak Darto? Kalau mereka nurut, pasti nggak akan ada korban jiwa. Iya, nggak?"
"Lo nggak kasihan sama Rafka yang udah meninggal?" tanya Aldian yang semakin menaikkan nada bicaranya.
"Sekarang gue tanya, kenapa Rafka meninggal? Kenapa Redi jadi nggak waras? Semua itu karena ulah mereka sendiri! Mereka melanggar aturan tiga tempat terlarang. Syukur-syukur Pak Darto mau mengingatkan. Tapi mereka malah dengan soknya nggak ngedengerin imbauan Pak Darto. Dan sekarang? Sekarang lo nyuruh gue buat menyelesaikan masalah yang dibuat orang lain? Gue juga punya masalah sendiri, Al! Gue butuh lulus kuliah tepat waktu!" omel Kafi yang akhirnya bisa mengeluarkan segala unek-uneknya pada Aldian.
Selama ini, Kafi memendam unek-unek tersebut karena tak mau menyakiti hati Aldian selaku sahabatnya sejak kecil. Tapi emosi Kafi kali ini benar-benar memuncak dan tidak bisa terbendung lagi.
"Oooh jadi lo nggak ikhlas nolongin gue? Iya?" Aldian menyimpulkan seenaknya.
"Iya!" bentak Kafi. "Gue nggak ikhlas kalau cara lo kayak gini ke gue. Lo lancang nutup laptop gue. Padahal tugas kuliah gue harus dikumpulkan besok pagi. Ingat ya, Al! Dalam pertemanan, bukan hanya salah satu pihak aja yang harus mengerti. Tapi keduanya!"
"Oooh jadi lo beneran nggak ikhlas nolongin gue? Oke! Gue bakal buktiin ke elo kalau gue bisa menyelesaikan masalah penghuni asrama tanpa bantuan lo!"
Aldian segera mengemasi semua barang-barangnya dan barang-barang Redi. Kemudian ia bergegas pergi dari rumah Kafi. Dengan hati-hati, Aldian menuntun Redi untuk naik ke mobil online yang telah ia pesan.
"Huh! Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia ngebentak gue. Dia pikir, gue nggak bisa ngapa-ngapain tanpa bantuan dia? Lihat aja! Gue bakalan buktikan kalau gue bisa nyari orang sendiri yang mau gue ajak membaca mantra," batin Aldian dongkol.
Untuk sementara waktu, Aldian membawa Redi ke sebuah rumah kos kecil ukuran 3 x 4. Sambil menjaga orang yang kurang waras, Aldian juga harus mengecek DM instagram yang masuk.
Liana Ring : Kak, kebetulan aku suka hal-hal yang berkaitan sama hantu. Aku mau dong ikutan challenge
Mia Kusuma : Kak, aku mau menguhi ardenalin. Boleh dong ngajak aku. Aku nggak bakal ngerepotin kok
Ria Utami : Pilih aku dong, Kak. Aku aja ya!
Aldian mengacak rambut, tak bisa membayangkan jika ia harus membalas satu per satu DM yang masuk.
"Aduuuh bingung juga ya kalau disuruh milih beberapa. Ya udah. Daripada cuma milih satu, entar kayak Reisha kemarin. Gue DM langsung sepuluh kandidat aja biar nanti gue ada cadangan. Kan belum tentu semua yang gue DM pada mau ngelakuin ritual aneh di tengah malam." Aldian bermonolog.
Setelah memutuskan sendiri, Aldian membuat jadwal untuk bertemu para kandidat yang akan ia ajak melakukan ritual. Bahkan Aldian membuat daftar pertanyaan yang akan ia lontarkan nanti.
DAFTAR PERTANYAAN
1. Siapa nama asli anda?
2. Mengapa anda tertarik dengan pengumuman yang saya buat?
3. Apa tujuan anda ikut bergabung?
4. Saya sebagai wali dari Redi akan mengadakan ritual di tengah malam di tiga tempat terlarang. Apakah anda benar-benar bersedia ikut?
5. Setelah ritual selesai anda akan mendapatkan bayaran senilai tiga juta rupiah jika berhasil dan satu juta rupiah jika ritual gagal. Apa anda setuju?
6. Apa anda perawan? Apa anda perjaka?
Setidaknya Aldian telah menyiapkan enam pertanyaan untuk ia ajukan ke calon orang-orang yang mau ikut dalam ritual penyucian tiga tempat terlarang. Nantinya Aldian akan mengundang sepuluh pria dan sepuluh perempuan yang masih suci. Hanya untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi kesalahan seperti insiden Reisha yang ternyata tidak memenuhi syarat ritual. Kali ini Aldian harus berhasil. Mengingat sudah banyak tenaga yang ia keluarkan untuk melakukan ritual penyucian tiga tempat terlarang.
"Oke. Sekarang gue udah menghubungi dua puluh orang sekaligus. Semoga saja di antara mereka bisa memenuhi ekspektasi gue. Dan semoga saja nggak ada korban-korban di kemudian hari," ujar Aldian bermonolog.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HororAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
