44. Masa Muda Pak Darto Part 5

22.3K 1.1K 28
                                        

Vote dulu sebelum baca ya gaiz

👻👻👻👻👻

Sejak kejadian kecelakaan itu, Darto sering bermimpi berjumpa dengan kakeknya. Terlebih mata batinnya yang terbuka semakin lama terasa semakin mengganggu. Bayang-bayang korban terus menghantui pikiran Darto. Kakeknya telah berulang kali menampakkan kejadian di mana para penghuni asrama dengan tega mengambil nyawa para Mahasiswa yang berani memasuki ruang bawah tanah.

Kini Darto berdiri di depan gerbang asrama sambil membawa tas besar berisi pakaian, juga sebuah kardus berisi peralatan mandi dan sejumlah buku. Setelah beberapa minggu merenung, akhirnya Darto memutuskan menjadi penjaga asrama untuk meminimalisir jatuhnya korban.

Seorang wanita terlihat menyapu dedaunan kering di ujung sana. Seingat Darto, wanita itu bernama Lusi. Wanita itu kini akan menjadi rekan kerjanya.

"Permisi, Mbak," sapa Darto yang memberanikan diri menghampiri Lusi.

Lusi menoleh dengan tatapan datar, seolah tidak kaget atas kedatangan Darto. Tidak ada sahutan. Wanita itu masih berdiri dengan membawa sapu.

"Perkenalkan, Mbak. Saya Darto. Mulai hari ini, saya bekerja sebagai tukang kebun sekaligus penjaga asrama ini." Darto tersenyum kaku seraya mengulurkan tangannya pada Lusi.

Lusi menatap tangan Darto sebentar, lalu menjabatnya singkat. "Lusi."

"Em... kalau boleh minta tolong, apa Mbak Lusi bisa mengantarkan di mana kamar saya?"

Lusi tidak merespon. Dia menyandarkan sapunya di salah satu pohon lalu berjalan menuju asrama. Darto masih diam di tempatnya. Lusi terhenti lalu berbalik, heran mengapa Darto tidak mengikutinya.

"Kenapa masih di situ?" tanya Lusi ketus.

"Ha? Oh iya." Darto kelabakan menghampiri Lusi. Dia mulai mengekor di belakang wanita itu.

Tidak ada percakapan lain sepanjang perjalanan. Keduanya bungkam. Sepertinya Lusi bukan tipe orang yang pandai berinteraksi, pikir Darto. Itulah sebabnya Darto tak berani mengajak Lusi berbicara.

"Ini kamarmu," kata Lusi saat berada di sebuah pintu usang di dekat tangga.

"Te... terima kasih," ujar Darto.

"Hm," sahut Lusi singkat. Dia kembali ke halaman asrama untuk melanjutkan aktivitasnya.

Darto berdecak seraya menggelengkan kepalanya. "Hm... sepertinya wanita itu memang benar-benar aneh."

Darto mengedikkan kedua bahunya, tak peduli dengan sikap Lusi yang terkesan ketus. Dia memasuki kamarnya dan bergegas menata barang-barang.

"Hawa asrama ini benar-benar tidak nyaman. Tidak jauh berbeda dengan hawa rumah sakit. Pantas saja banyak korban," ucap Darto berbicara sendiri.

"Kamu... spesial."

Darto berbalik cepat. Suara wanita terdengar jelas di telinganya. Tidak ada siapa pun.

"Apa itu hantu?" Darto bertanya-tanya. "Ah, benar. Pasti mereka."

Sudah berminggu-minggu Darto bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Darto sudah terbiasa. Memang awalnya takut. Tapi Darto bisa mengatasi ketakutannya.

"Kenapa mereka ada di mana-mana, sih?" Darto masih berbicara sendiri, kesal, mengapa di dunia ini harus diciptakan juga makhluk halus tak kasat mata. Darto menghela napas panjang. Dia kembali fokus menata barang-barangnya.

"Kamu... spesial."

"Spesial kenapa?" timpal Darto.

"Kamu bisa melihatku."

Sesosok noni Belanda berambut pirang tiba-tiba duduk elegan di atas ranjang Darto. Dia tersenyum tipis.

"Kalau saya bisa melihatmu, lalu kenapa?" Darto beralih. Dia membuka pintu lemari lalu memasukkan pakaian-pakaiannya.

"Bantu saya," kata hantu noni Belanda itu.

Darto memutar malas kedua bola matanya. Dia sudah bisa menebak sebelumnya. Noni Belanda itu pasti menghampirinya hanya untuk meminta tolong. Sama seperti kakeknya.

👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Sabtu, 18 Januari 2020

Follow instagramku
IG = zaimatul.hurriyyah

Hai kenapa noni Belanda itu meminta tolong pada Darto?



Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang