Bab 2: Suburban Cowboy

1.4K 214 39
                                        

TERLALU sering kudengar ketokan pintu pada malam hari.

Bukan ketokan, melainkan gedoran.

Dahiku berkerut saat dibangunkan oleh gedoran itu. Sembari meracau kesal aku turun dari ranjang.

Ayahku berdiri di balik pintu rumah kami. Hanya diam. Ia menatapku nanar, bergeleng, memintaku kembali masuk kamar.

Ayah? Kenapa pintunya tidak dibuka? Siapa di luar sana?

Ayah bilang aku tak perlu risau. Mungkin hanya petugas monarki yang ingin mendobrak masuk.

Aku tak mengerti. Mengapa petugas monarki datang mengganggu kami? Bukankah aku sudah disuntik kemarin?!

Aku naik darah dan ingin menghajar mereka semua. Ayah tak bisa menghentikanku. Mereka tak perlu menggedor pintu. Aku buka pintu dengan keras supaya menghantam jidat-jidat mereka.

Saat pintu terbuka, aku hanya melihat langit berwarna merah dan pekarangan rumahku yang dipenuhi coretan huruf X. 

Puluhan, ratusan sosok mayat hidup penuh darah menatapku. Aku mengenal sebagian besar wajah-wajah mereka. Ini wajah tetanggaku, wajah guru di sekolah, wajah orang-orang di kota kecil Shiganshina, bahkan ada Paman Hannes dan Kakek Arlert di antara mereka.

Zombi yang berdiri paling depan berwujud seperti hewan buas. Tangannya berbulu lebat seperti gorila menggapai untuk mengoyak wajahku.

....

Mimpi buruk semacam ini sering terjadi padaku, bahkan lebih dari satu kali dalam semalam.

Sekujur tubuhku basah berpeluh. Celanaku ikut basah. Aku berani bersumpah tidak mengompol. Celanaku basah oleh cairan yang berbeda, pasti oleh keringat. Sial. Besok paginya aku harus menjemur seprai lagi.

Petir bergemuruh. Malam itu hujan turun sangat lama. Untuk beberapa alasan, aku tak berani menatap keluar jendela kamar yang gelap.

Aku membenamkan muka di bawah selimut.

✖️

✖️

Dua hari sebelum X

CARLA Jaeger—ibuku berbaring lemah di ranjang. Tiga hari demam dan belum juga turun. Kukecup lembut punggung tangannya sebelum berangkat sekolah. Mikasa meletakkan obat di meja samping tempat tidurnya.

Ayahku, Dokter Grisha Jaeger, sibuk membuat roti isi di atas meja makan. Kuambil roti itu dan kubuang tomatnya. Mikasa menyikutku.

"Berhati-hatilah di jalan," tutur Ayah setelah mematikan kipas ventilasi dapur. "Jangan pulang terlambat."

"Aku pulang telat," kata Mikasa, menjinjing kotak senjata berbentuk sarung keras gitar elektrik "Sudah lama tidak latihan menembak. Aku akan berlatih sepulang sekolah."

"Begitu?" Ayah membenarkan bingkai kacamatanya. "Eren, apa kau bisa jaga diri dan tidak membuat kericuhan selama Mikasa pergi?"

Aku meringis. "Apa maksud Ayah? Mikasa bukan pengasuhku. Aku bisa pergi dan pulang sendiri."

"Kudengar kalau bukan karena Mikasa, kau absen ikut program vaksinasi kemarin. Kalau ada apa-apa maka yang menanggung akibatnya adalah seluruh keluargamu."

"Aku sudah dewasa, sudah tahu apa yang harus kulakukan. Setelah lulus sekolah, aku ingin bergabung dengan pasukan Survey Corps." Aku mendongak, menajamkan mata. "Aku ingin pergi mendobrak dinding listrik itu, mengambil alih kembali bumi yang seharusnya milik kita. Aku tidak mau bekerja di bawah pemerintahan monarki. Aku tidak mau dicekoki vaksin bulanan yang membuat kita setara dan serendah binatang."

X [RivaEre Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang