Bab 42: The Levis

456 65 13
                                        

SAAT kau membaca tulisan ini, bumi Mitras tengah dilanda kekacauan besar.

Sebenarnya, negeri ini sudah mengalami kekacauan jauh sebelum cerita buku ini bermula, bahkan sebelum kita semua lahir. Namun, aku tak pernah tahu. Baik kau maupun aku pun mungkin tak ingin tahu.

Yang kupikirkan sebelum ini adalah bagaimana aku bisa senang setiap hari, makan kenyang, bermain sepuasnya, menambah uang jajan dengan mengantar susu dari toko kelontong Paman Hannes, mengerjakan pekerjaan rumah bersama Armin, mengalahkan Mikasa dalam segala hal, hiking bersama Reiner dan Bertholdt, bertengkar tolol dengan Jean, camping bersama Connie, Sasha, dan semua kawan-kawanku, atau melihat Ayah dan Ibu tersenyum saat makan malam bersama.

Selanjutnya, Levi datang dan hampir sembilan puluh persen semestaku sebagai omega berpusat kepadanya. Kau pun mungkin ikut terjerat dengan pesonanya dan selalu mencari-cari hanya Levi di dalam setiap tulisanku ini, lalu mengabaikan yang lain. Betul tidak?

Di sisi lain, ibu kota menyembunyikan wajah masalah dari warganya. Mungkin karena para bangsawannya tak mau tahu. Di balik dinding rumah megah, mereka bersembunyi sangat baik.

Kekacauan itu datang seperti air yang dipanaskan di dalam cerat. Awal-awalnya adem, lama-lama keseluruhan cerak bergetar kepanasan. Yang menjadi masalah adalah, bahkan ketika cerak tersebut sudah bergetar, tak banyak yang sadar.

Hange Zoe mungkin adalah salah satu dari sedikit orang yang sadar. Sayang, ia tak dapat mencegah wabah ini terjadi.

Meski aku jarang menonton berita di televisi, setidaknya aku sudah mendengar sedikit kabar bahwa saat ini sedang terjadi pertarungan di lapisan terluar Mitras. Para kaum pemberontakan (aku mengenalnya sebagai kelompok HOMETOWN) disebut sebagai organisasi anti-monarki dari Dunia Luar yang mencoba mendobrak pertahanan Mitras. Ibu kota dalam bahaya. Sementara itu, di dalam laboratorium yang damai ini, yang menurutku paling berbahaya adalah waktu.

Waktu yang terlalu cepat berjalan.

Detik sudah berganti menjadi jam, jam menjadi hari, dan hari sudah berganti menjadi bulan.

Meski sering kali aku berkhayal dapat menghentikannya, waktu tak mau berhenti dan berlalu terlalu cepat. Tanpa kusadari perutku sudah semakin membesar. Mulanya hanya entakan yang membuatku muntah-muntah. Sekarang, aku bisa merasakan pergerakan hebat yang sulit diprediksi. Mereka bilang sembilan bulan adalah waktu bagi wanita dan para lelaki omega mengandung.

Jadi, pada saat kau membaca tulisanku ini, kandunganku sudah memasuki trimester akhir. Zackley menjadi lebih sering mengunjungiku dalam waktu seminggu bukan hanya untuk eksperimen, tetapi juga memeriksa usia kandunganku.

Mereka bilang, omega lelaki tidak memiliki perut sebuncit omega wanita, tetapi minggu ini perutku busung besar dan tidak bisa disembunyikan lagi. Untuk berjalan lebih sulit.

Yang kulakukan sehari-hari adalah menulis buku ini agar pikiranku tetap waras. Kumulai dari awal, sejak bertemu dengan Levi dan dimulainya wabah ini. Sudah buku jilid tiga. Semoga dapat kuakhiri cerita ini dengan baik. Aku tak tahu, mungkin bukan aku yang akan mengisahkan cerita ini pada akhir buku. Pasti ada saatnya aku harus berhenti. Mungkin juga ada banyak akhir dari kisahku, tergantung pilihanku kelak.

Omong-omong, monarki menempatkanku di dalam sebuah fasilitas yang mereka sulap menjadi rumah kecil di dalam kompleks. Aku tak sadar sedang dikurung dalam laboratorium raksasa yang penuh pengawasan.

Sesuai perjanjian awal, aku disekap oleh monarki tinggal di tempat ini untuk membantu mereka membuat antivirus yang dapat menyelamatkan umat manusia. Hampir setiap hari, Zackley memintaku duduk berjam-jam di laboratoriumnya. Zackley melakukan bermacam-macam hal padaku. Misalnya, ia mengambil sampel kulit, rambut, kuku, saliva, serum antibodi yang katanya terdapat di dalam darahku. Ia memintaku meminum cairan yang membuatku mual. Ia menusukkan jarum tiap dua jam sekali untuk mengambil darahku. Ia melukai kulitku untuk memeriksa seberapa cepat tubuhku dapat beregenerasi.

X [RivaEre Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang