Selain tinggi badan yang dibuat lebih ideal, para prajurit kloning "Levi" memiliki sikap dan sifat yang sangat jauh berbeda.
Aku tak pernah mendengar bahasa preman nan kasar keluar dari bibir tipis mereka. Para klona ini tak pernah memanggilku dengan sebutan melecehkan, misalnya "Bocah berbokong semok" dan semacamnya.
Sebenarnya aku tak layak berpendapat begini karena hanya dekat dengan salah satu dari mereka, yaitu sang kapten, tidak dengan yang lainnya. Sesekali aku berpapasan dengan beberapa "Levi" di koridor laboratorium. Mereka tidak menyapaku, hanya menatap. Tatapan mereka kombinasi antara penasaran, ingin menguasaiku layaknya predator (ini yang membuatku berdebar tak nyaman), dan kurasa ada sedikit ... entahlah, tatapan rindu. Kapten sudah meminta mereka untuk menjauhiku. Namun, di sisi lain, secara tidak langsung mereka berhubungan sangat dekat denganku melalui pikiran kapten mereka. Setiap kali aku menghabiskan waktu bersama Kapten, mereka pun hadir bersamaku.
Kuputuskan beberapa hari kemudian untuk lebih mengenali mereka. Akhirnya aku tahu bahwa sesungguhnya mereka adalah individual yang berbeda-beda. Dua di antara sepuluh mungkin saja memiliki sikap dan bahasa kasar khas Levi Ackerman. Tiga di antara sepuluh lainnya memiliki sorot mata dingin dan tajam khas Levi.
Namun, kesepuluh-sepuluhnya adalah maniak kebersihan. Persis Levi.
Terutama sang kapten yang hari ini menghalangiku saat mengambil potongan sosis dari kotak makan siang. "Cuci tanganmu dulu, Eren."
"Oh ya, maaf." Aku langsung pergi ke air pancuran di tepi taman.
Kapten memperhatikan caraku menggosok tangan yang asal-asalan, lalu tiba-tiba ia sudah berdiri lekat di belakangku. Kedua tangannya memelukku dari belakang, diletakkan si atas punggung tanganku.
Jantungku nyaris copot.
Ia mengajariku cara mencuci tangan yang benar. Telingaku memerah sebab ia berbisik terlalu dekat.
Kotak makan siang itu dibuat sendiri oleh sang kapten. Aku terpana saat pertama kali melihat bentuknya yang ditata terlalu apik. Tomat yang dipotong berbentuk seperti kelopak bunga tulip. Tofu yang dipotong berbentuk persegi. Nasi goreng oriental yang dibentuk hati.
Rasanya seperti kotak makan siang yang disiapkan oleh Mikasa atau gadis omega menggemaskan di Shiganshina. Aku pernah melihat tren kotak makan siang saat baru duduk di bangku sekolah menengah. Dan, maaf, sejujurnya aku merasa sangat canggung melihat semua ini dibuat oleh sosok yang sangat menyerupai alfaku.
Levi selama ini selalu dikaitkan dengan pedang panjang, kekerasan, predator alfa yang membuat semua omega basah, motor keren, kekuasaan, dan penuh darah. Sulit untukku mengaitkan sosok perkasa itu dengan sekotak makan siang yang lembut.
Di sisi lain, aku jadi ingin menangis terharu.
"Kau tak suka?" tanyanya.
"Suka, sangat. Aku ... hanya tak tahu harus berkata apa. Ini terlalu hebat bagiku." Aku menelan ludah. "Aku sudah lama tidak makan makanan seperti ini. Bolehkah aku memakannya sekarang?"
Kapten memangku pipi sambil menatapku makan. "Silakan."
Maafkan aku yang makan dengan ragu pada awalnya. Terkadang, sesuatu yang bentuknya bagus tak terasa senikmat visualnya.
Aku salah.
Ini makan siang terlezat yang pernah kucoba!
Mungkin aku yang sedang kelaparan atau sudah gila. Entahlah. Aku tak bisa berhenti sekali makan. Aku makan seperti zombi gila dan pengemis di pinggir jalan yang menyedihkan. Belum lima menit, makanan itu sudah habis, dan aku mulai menggali setiap sudut kotaknya untuk mencari sebutir nasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
X [RivaEre Fanfiction]
ActionProsesnya menahun. Bertahap, bertingkat, berlanjut tanpa jeda. Saat terjadi, segalanya berlangsung cepat. Tidak ada pernyataan ofisial. Namun, mereka sepakat menamainya Peristiwa X karena huruf X tersebar di mana-mana; di dinding, besi tiang jemuran...
![X [RivaEre Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/321094718-64-k233574.jpg)