ISABEL memelukku seperti tiada hari esok, menjerit berisik sepanjang lorong.
"Maaf! Aku tidak bisa menghubungimu, Abang. Banyak hal terjadi selama kau pergi. Monarki datang menyusup ke bawah tanah membawa selebaran. Teror! Bawahanmu tercerai-berai. Aku tidak tahu harus bagaimana. Farlan sudah tak ada—"
Kubungkam mulutnya dengan tangan. "Aku sudah di sini. Tenang. Lakukan apa yang harus kaulakukan."
Isabel mengangguk cepat, berlari mendahuluiku ke depan pintu. Petra Ral hampir menabraknya tepat di depan laboratorium bawah tanah.
Petra Ral, wanita berambut pendek sebahu, primadona seluruh bawahanku. Di belakangnya berdiri Oluo Bosard, eksperwira muda dengan wajah tua menipu. Oluo wakil ketua tim riset sekaligus regu bersenjata binaanku yang paling loyal.
"Kapten, apa kau yakin?" tanya Oluo.
Aku tidak suka pertanyaan itu. Mereka mengetahuinya dari wajahku.
Oluo merasa harus bicara. "Tapi kondisinya memang mengkhawatirkan."
"Mengkhawatirkan apanya?"
Petra angkat suara. "Kapten, biar aku yang berbicara karena Oluo terlalu panik. Kondisi anak itu, Eren Jaeger, tidak terlalu bagus. Denyut nadi sangat rendah hanya mencapai empat puluh kali per menit, dan—"
"Maksudmu dia bisa segera mati kurang dari sejam? Zombi di luar sana hidup abadi tanpa makan,"
"Benar, tapi di sisi lain, Eren masih separuh manusia."
Aku terdiam.
Regu binaanku berkumpul di laboratorium, berpakaian dan bersenjata lengkap, bersiaga saat aku masuk. Laboratorium bersemen abu itu memiliki perlengkapan sensoris. Pergerakan se-kecil apa pun akan terdeteksi. Di balik pintu baja elektronik, terdapat ruangan steril tempat menyandera tahanan. Dahulu tempat ini kupakai untuk interogasi.
Eren diikat dengan jaket pengunci di dalam ruang terisolir. Dia terduduk letih, mata terpejam. Saat mata itu membuka, dia akan memohon untuk dibunuh.
Namun, Eren tak butuh disengat listrik atau disuapi gas karbon beracun. Dia cuma butuh diselamatkan.
Aku memandanginya dari balik kaca antipeluru.
Kenny memasuki laboratorium. "Kukira dia sudah menyantap daging pundak alfanya. Kenapa dia masih sekarat?"
"Dia mungkin butuh daging manusia yang lebih berumur seperti kau, Kenny," jawabku.
"Ha! Dagingku mahal, Levi. Aku lebih pilih mengumpankanmu saja." Kenny menepuk jendela kaca tebal. Jarinya teracung kepada Eren. "Jadi, jelaskan bagaimana Survey Corps bisa menemukan anak ini."
"Aku yang menemukannya di Shiganshina. Di dalam sebuah gedung penuh tanda silang. Tiga hari setelah pembobolan dinding."
"Dan berapa banyak yang sudah jadi korban anak ini?"
"Satu gigitan menjalar kepada yang lain. Tak terhitung. Kecuali aku."
Kenny tergelak. "Terangkan dulu bagaimana rasanya dapat berhubungan seks dengan zombi dan masih bisa 'berdiri' hingga saat ini."
Petra membuat raut kesal. "Mana ada yang seperti itu? Mister Kenny, ini bukan saatnya bercanda."
"Ada saja, Nona Petra. Kapten Levi dan pedang panjangnya ini memang serbabisa."
Wajahku tanpa ekspresi. "Tentu bisa. Apa sulitnya menyodok bokong?"
Petra mundur, wajahnya syok.
"Baiklah, Nak, ceritakan bagaimana teknisnya kau bisa menyodok, bertukar cairan tubuh, dan masih tetap jadi manusia waras hingga saat ini. Terangkan supaya tim penelitimu tahu apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bocah itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
X [RivaEre Fanfiction]
ActionProsesnya menahun. Bertahap, bertingkat, berlanjut tanpa jeda. Saat terjadi, segalanya berlangsung cepat. Tidak ada pernyataan ofisial. Namun, mereka sepakat menamainya Peristiwa X karena huruf X tersebar di mana-mana; di dinding, besi tiang jemuran...
![X [RivaEre Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/321094718-64-k233574.jpg)