Bab 47: Return to Shiganshina

490 45 3
                                        

PDF X masih bisa dibeli di KaryaKarsa, ya~ https://karyakarsa.com/rashoura/x-trilogy

Link BACA ONLINE X Trilogy di KK juga sudah bisa diakses lagi. https://karyakarsa.com/rashoura/x-trilogy-baca-online

https://karyakarsa.com/rashoura/



Markas darurat Survey Corps berada di sebuah gedung tertinggal yang hanya bisa dicapai dengan melintasi kegelapan hutan pinus. Sebuah rumah sakit tua yang tampak angker dan selalu muncul di cerita-cerita seram adalah harapan kami untuk berlindung.

Aku duduk di samping ranjang Levi, menghitung waktu untuk menyuntik tubuhnya dengan bius setiap enam jam sekali. Kini Levi tidur tanpa selang-selang, medikasi, dan penanganan tepat dari Zackley. Aku harus siap melihat kulitnya keriput dengan sangat cepat dan mungkin rambutnya akan menipis lagi.

Reuni kami terlampau singkat.

"Kau ... apa kau omegaku? ... siapa aku, Bocah?"

Aku belum sempat menjawab pertanyaan itu, membantunya mengingat.

Aku belum sempat memeluknya dan menjerit rindu.

Aku belum sempat memberi tahu Levi bahwa aku sedang mengandung anaknya. Kusentuh perutku dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menyentuh punggung tangan Levi. Anakku seperti menendang dari dalam sana, terlalu rindu sampai ia meninju dinding perutku. Ini konyol, tetapi aku ragu apakah Levi bisa menerima kondisiku atau tidak. Mungkin ia akan lebih memilih lupa ingatan selamanya karena tak siap menjadi seorang ayah.

Aku menghabiskan waktu di kamar tersebut untuk menunggui Levi. Aku hanya keluar kamar untuk makan atau mandi, lalu beberapa kali berpapasan dengan teman-teman lamaku.

Aku maklum apabila Jean membenciku. Hubungan kami tak pernah baik. Namun, Mikasa tidak menyapaku sejak kami berada di markas temporer. Ia seperti sengaja membiarkanku berdiam di ruangan Levi dan tidak mendekatiku sama sekali. Begitu juga Armin. Meski kami baru saja reuni kembali.

Kenangan kami bertiga pernah bersama di Shiganshina seolah tak pernah ada. Aku menerimanya sebagai rasa sakit yang pantas kuterima untuk penebusan dosa.

"Levi, bangunlah," bisikku kepadanya di atas ranjang. Keningku menyentuh punggung tangannya. "Hanya kau dan anak ini yang kupunya."

Pintu kamar terbuka pelan. Nifa masuk dan berkata, "Eren, bergabunglah dengan kami di ruang rapat."

✖️

Survey Corps. Kau tahu betapa aku sangat mengagumi mereka sebelum semua ini bermula. Mereka adalah sekelompok pahlawan yang bagiku mampu membawa sayap harapan untuk kami dapat terbang.

Melihat mereka duduk di balik meja panjang yang mengingatkanku akan meja operasi, aku tak tahu apakah masih bisa mengagumi mereka. Bagiku mereka tidak lagi mengemban sayap kebebasan. Kini, mereka melepas sayap yang berat itu dan meletakkannya di punggungku.

Mikasa, Armin, dan Jean duduk di antara mereka. Kutatap mereka diam.

Hange membuka rapat Survey Corps dengan menjelaskan secara cepat apa saja yang terjadi kepada dunia kami. Apa yang kulewatkan selama berada di Mitras dan sebelum berada di Mitras. Termasuk hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kupedulikan.

Survey Corps dan Hange sudah lama meramalkan akan terjadinya tragedi yang oleh orang awam disebut peristiwa X.

Beberapa bulan sebelum peristiwa itu terjadi, Survey Corps masih melakukan rutinitasnya untuk menjelajah dunia luar. Erwin yang menyarankan untuk mengubah rute. Tidak ke selatan, mereka bergerak ke arah tenggara.

X [RivaEre Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang