Bab 30: Crossed

482 75 5
                                        

AKU mencintai Eren Jaeger sebagai saudari perempuan dan seorang wanita.

Jauh sebelum segalanya bermula. Sebelum aku bertumbuh mengenal cinta darinya. Sebelum aku mengenal gender kedua darinya.

Di dalam kepalaku, rutin bermunculan huruf X yang mematri diri, yang membuatku ingin menyilang tanggal di kalender setiap saat. Kolom yang kusilang adalah hari ketika kami masih bertemu. Hari-hari penuh syukur.

Hari-hari itu berakhir.

Kini aku menyilang hari di atas tonggak kayu yang terbelah, di badan sedan rongsokan yang pecah, aspal merah, dinding terkelupas dari motel tua di dasar lembah, dan kertas agenda berdarah.

Eren tidak pernah berkomentar setiap kali aku menyilang hari untuknya. Di buku agenda penuh coretan ini, aku menghitung. Genap sembilan puluh hari sejak kami melarikan diri dari kastel Survey Corps yang terinfeksi. Semenjak hari itu, kami bergerak tak pernah menetap. Dari motel kecil tidak berpenghuni hingga hutan di pinggir pedesaan. Kami tidak pernah tidur di bawah atap yang sama setiap malam.

Kuperhatikan Eren hampir setiap saat.

Saudara angkatku duduk di bawah rimbun pohon ek, di depan api unggun, dengan tubuh seperti bergelung. Posturnya sering demikian apabila duduk, padahal dahulu tidak seperti itu. Dahulu Eren selalu duduk tegap dan gagah, menunjukkan kepada dunia bahwa Eren pantas menjadi seorang alfa. Kini ia menciut sebagaimana omega lemah, memeluk tubuh ingin melindungi diri.

Sesekali Eren terkesiap, menoleh ke suatu tempat di antara batang pohon yang hitam, menumbuk semak-semak tajam. Sedikit pergerakan di sana membuat Eren mendelik dengan otot yang kejang.

Setelah keadaan dirasa aman, Eren kembali ke dunia kecil suram, membenam tubuh ke dalam jaket hoodie tebal. Aku tidak tahu dari mana Eren mendapatkan jaket tersebut, tetapi selalu ia kenakan (hanya dilepas saat ia mencucinya), tak mau menggantinya meski telah usang.

Pasti pemberian pria itu.

Eren tidak berbicara, kecuali aku yang menyapa lebih dahulu. "Eren, makanlah," kataku.

Eren bergeleng kecil. "Tidak enak badan."

"Kau belum makan sejak pagi."

"Aku tidak bisa makan banyak," jawab Eren, "sebelum menemukan mereka."

Mereka, yang Eren maksud, adalah teman-teman kami yang menghilang. Armin Arlert, Jean Kirstein, Miss Hanji Zoe, dan lainnya yang kecil kemungkinannya masih hidup.

Bukan pesimis, aku hanya realistis.

Namun, setiap kali Eren berkata "mereka", dalam benakku ia bukan menyebut Armin dan teman-teman kami.

Melainkan pria itu.

Selama tiga bulan terakhir kami bepergian mencari petunjuk. Kami memanjat menara radio, mencari lokasi suaka dan perkemahan para penyintas—orang-orang lainnya yang masih hidup seperti kami.

Minggu pertama, kami menemukan beberapa perkemahan yang sebagian besar kosong tanpa jejak.

"Mereka diserang zombi," kata Eren. Akan tetapi, pendapatku para penyintas ini pergi mengungsi, sengaja menyamarkan jejak kaki sebab mereka tak mau diikuti.

Di dunia orang-orang yang bertahan hidup, ada yang lebih berbahaya dibandingkan zombi berotak dengkul. Aku telah melihat banyak hal yang belum pernah Eren lihat selama bepergian dengan pria itu.

Eren sulit percaya meski aku membujuknya untuk berhenti mencari stasiun radio yang masih siaran. Aku juga bercerita kepadanya tentang ratusan anggota keluarga yang terjebak di jalan tol, memilih lari meninggalkan mobil mereka, lalu menjarah mobil lain. Eren tak tahu ketika semua rumah sakit tak sanggup lagi menampung korban kecelakaan. Gedung-gedung di area industri meledak dengan asap seperti hujan asam, membakar tempurung kepala. Kantor polisi tinggal puing-puing. Orang-orang mencari tempat berlindung untuk keluarga dan kelompoknya dengan segala cara, termasuk mengumpankan sesama.

X [RivaEre Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang