Bab 37: Discovery

356 64 1
                                        

KAMI bergerak ke utara dengan sebuah mobil jip dan mobil pikap.

Gerbang menuju Mitras sudah tertutup dan para zombi beraktivitas di dinding luarnya secara misterius. Untuk itu, kami menempuh jalur memutar supaya dapat mengawasi keadaan.

Jalur itu sejurus dengan sinyal yang ditembakkan Survey Corps pagi ini. Letusan gas hijau tersebut tidak terlalu jauh. Hanya dengan menempuh kendaraan sepanjang lima puluh kilometer melewati jalan bebas hambatan, kami yakin akan segera mendekati titik koordinat Hanji.

Kupikir perjalanan kami akan dihabiskan dengan penuh kecemasan dan debaran. Tidak juga. Hannes menyetir jip sambil bersenandung kecil. Eren dan Armin membaca komik bersama-sama. Mereka tertawa saat menikmati adegan lucu, kemudian tarik-tarikan buku seperti anak kecil. Hanya Annie yang diam sepanjang jalan, duduk di jok belakang sambil menatap pemandangan.

Sasha dan Connie menaiki mobil pikap di belakang kami. Entah apa yang lucu, tetapi mereka asyik bercanda sampai-sampai suara tawa mereka terdengar hingga ke jip kami.

"Anak-anak itu harus memelankan suara. Jangan sampai mengundang mereka datang," kata Hannes.

Aku menoleh ke mobil pikap, menatap keceriaan Jean, Connie, dan Sasha yang tertawa lepas. Di pihak lain, Xavi terlihat sangat sebal duduk di jok depan, menutup telinga, dan mengertakkan giginya. Sesekali ia berteriak, "BERISIK! Kupotong kepala kalian dan kujadikan lauk makan malam!"

Ketiga sahabat kami mengabaikan Xavi sepenuhnya.

"Biarkan saja mereka," kataku puas melihat si bangsawan sombong tersudut.

Hannes mendengus. "Baiklah. Sejak tadi pun sebenarnya aku ingin memutar musik."

"Astaga, Paman, nyalakan saja sekeras mungkin," Eren memutar pengeras suara. "Kau sadar tidak? Kita sedang mengendarai mobil jip paling mewah di Shiganshina. Nikmati itu! Sejak dulu kan hidupmu selalu susah dan menyedihkan."

Armin terkekeh. "Benar, Eren sangat benar."

"Berengsek! Sepertinya aku harus mendidik bocah-bocah seperti kalian supaya tahu sopan santun. H-Hei, jangan terlalu keras volume suaranya, Eren!"

"Kita tidak butuh etika sopan santun pada masa kiamat zombi, Paman," kata Armin, yang sangat kusetujui.

Kami tertawa bersama.

"Ah, Armin, ingat? Ini lagu kesukaan Kakek dulu," Kakek Arlert berdeham, memanggut-manggutkan kepala, rileks.

"Yeah, kakek selalu memutarnya sebelum senja dengan radio tua itu."

"Menurutku lagu ini sangat kampungan dan terlalu tua, tapi kenapa sekarang kedengarannya enak sekali di telinga?"

"Berarti sebentar lagi kau akan segera tumbuh janggut, Eren."

"Enak saja! Aku masih enam belas tahun!"

Lagu bergenre country pinggiran menggebu di dalam jip kami. Mobil ini memiliki pengeras suara dengan kualitas bas yang mumpuni, mungkin sebelumnya milik bangsawan. Di atas mobil ini kami sembarangan mengangkat kaki. Kami berkhayal tengah duduk berayun pada kursi gantung di beranda rumah Shiganshina, mendengarkan radio tua Kakek Arlert bagaikan obat penenang saraf.

Namun, saat mulai mendekati lokasi penembakan sinyal, tawa dan canda kami redup. Tak ada yang tersenyum lagi. Baik mobil Hannes maupun mobil belakang menurunkan kecepatan.

Lokasi tersebut adalah sebuah hutan kecil dengan jalan yang sempit untuk mobil. Aku menatap keluar jendela jip, lalu terkesiap saat melihat sesuatu di antara pepohonan.

Barusan aku melihat sosok monyet yang sangat besar berdiri di sana. Sosok misterius yang sama terlihat pada malam kami melarikan diri dari HOMETOWN.

Saat aku mengerjap dan membuka kaca jendela, sosok tersebut sudah tak tampak.

X [RivaEre Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang