DUA minggu sebelum melahirkan adalah saatku menyadari bahwa waktu begitu kejam. Waktu berlalu tanpa belas kasihan. Waktu memaksaku menghadapi sesuatu yang besar yang aku tak akan pernah siap.
Pagi ini anak di kandungan omegaku mengentak lebih kencang dari yang biasanya. Aku kasihan kepadanya. Ia harus membuka mata di dunia yang kejam dan gila. Apabila ingin berbahagia, biarkan ia rebah di dondangan terbaik di Mitras, tempat di mana warganya hidup bahagia dengan menolak kenyataan bahwa ada jutaan mayat hidup berkeliaran di luar pagar sana.
Kebahagiaan palsu.
Kapten duduk di sisiku. Aroma alfanya menyegarkan, parasnya sangat menyerupai Levi, tetapi lebih lembut, menenangkanku.
Ia menyentuh helai rambutku perlahan. "Rambutmu sudah agak panjang," katanya.
Memang sudah berbulan-bulan aku dikurung di tempat ini. Terakhir kali aku memotong rambut di HOMETOWN, meminjam gunting rambut Annie.
"Kau ingin aku menggunting rambutmu?" tanyanya.
Aku mengangguk. Tak ada alasan untuk menolaknya.
Ia membawa sebuah gunting dan menutupi pundakku dengan kain. Rambutku digunting perlahan. Bunyi guntingannya lembut tanpa suara. Aku tertunduk, menatap helai cokelat tuaku berjatuhan ke paha dan mata kakiku.
Saat Kapten berlutut di hadapanku dan menggunting poniku, aku menatapnya lekat.
Ia membalas tatap dari jarak dekat.
Keheningan menggantung di antara kami. Jemarinya menyingkirkan perlahan poniku, menyingkap mataku yang kehijauan. Aku berkaca pada bola matanya yang hitam bening.
"Terima kasih," ucapku, tanpa melepaskan matanya.
"Hm?" Ia menggunting perlahan.
"Malam itu kau menolongku."
Tak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Datar. Teduh. Ketenangan yang dimilikinya mungkin melebihi Levi yang asli.
"Kenapa kau tidak menyerangku juga?" tanyaku. "Aku tahu kau pun sangat bergairah. Zackley berkata ia merancangmu sebagai alfa sahku."
Alis matanya yang tipis terangkat. Kapten menjawab dengan suara berat, "Kalau kulakukan itu, memaksakan hasrat sebagai alfa kepadamu, omegaku, aku tidak bisa jadi superhero di matamu."
Jeda.
"Lagi pula kau menganggap hanya ada satu alfa untukmu, bukan aku atau rekan-rekanku yang merupakan kloning, melainkan Levi Ackerman yang asli."
"Tunggu," kataku, masih menatap matanya, "bagiku kau sudah superhero. Bukankah kalian diciptakan untuk menjadi prajurit terkuat yang dapat melindungi warga dari makhluk jahat di luar dinding itu?"
Ia berhenti menggunting rambutku. Kulihat senyum tipis terukir di wajahnya. Kurekam wajah itu berlama-lama, membayangkan bagaimana Levi akan tersenyum setampan dirinya.
"Sebenarnya," Kapten menyipitkan mata, "kami mungkin tak pantas disebut superhero seperti di dalam buku komikmu."
"Kenapa?"
"Karena kami tidak bisa hidup selamanya."
"Apa?"
"Usia hidup kami paling lama hanya sepuluh tahun," jawab Kapten. "Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena belum sempurna."
Aku menatapnya dengan bola mata berkaca.
Ia menepuk kepalaku, menyingkirkan sisa guntingan rambut. "Karena Zackley sudah mendapatkan Si Orisinal, ia berjanji akan segera mengembangkan Proyek ACKERMAN yang lebih maju, generasi berikutnya. Kami yang sekarang hanya menunggu waktu."
KAMU SEDANG MEMBACA
X [RivaEre Fanfiction]
ActionProsesnya menahun. Bertahap, bertingkat, berlanjut tanpa jeda. Saat terjadi, segalanya berlangsung cepat. Tidak ada pernyataan ofisial. Namun, mereka sepakat menamainya Peristiwa X karena huruf X tersebar di mana-mana; di dinding, besi tiang jemuran...
![X [RivaEre Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/321094718-64-k233574.jpg)