HARAPAN kembali.
Akhirnya, kami menemukan tempat yang pantas dijuluki dengan sebutan "Rumah".
Hannes tidak berhenti bicara sepanjang jalan, menyentakkan kami yang letih, menjernihkan pikiran kami yang linglung, menguatkan dengan segenap motivasi. Sejak semalam, setelah kami memergoki kelompok kecilnya mencuri di supermarket, Hannes membuntuti truk kami dan berhasil menemukan perkemahan HOMETOWN. Tentu saja ia tak dapat langsung masuk ke dalam, menunggu keadaan aman. Malam ini, ia sangat beruntung dapat menemukan kami di tepi lapangan neraka. Meski pada awalnya ia melemparkan bom molotov karena salah paham dengan sosok penyamaran kami.
Berikutnya, Hannes bercerita tentang keadaan yang ia alami bersama kelompok penyintas kecilnya. Sudah beberapa bulan terakhir, ia dan kelompoknya—yang tadinya memiliki lebih banyak orang—bersitegang dengan HOMETOWN. Hampir setiap minggu ada korban jiwa. Apa yang terjadi? HOMETOWN mengusik cukup banyak perkemahan penyintas, mungkin dapat dibilang merupakan tindakan penjajahan untuk perluasan wilayah. Zeke menggiring sangat banyak orang untuk menjadi warga mereka. Yang menolak maka dianggap musuh.
Kelompok Hannes sudah dicap musuh sejak salah satu anggotanya—tak sengaja—mencuri perbekalan dari tenda darurat HOMETOWN. Cerita Hannes mendidihkan darah kami. Mata Eren berkilat emosi. Akhirnya, ia dapat melihat wujud musuh pada diri Zeke dan memutuskan untuk membencinya melebihi kebencian terhadap monarki. Eren ingin kembali ke HOMETOWN dan meledakkan tempat itu. Kini, ia percaya dengan setiap perkataanku mengenai kelompok penyintas berbahaya, meski tak mau mengakuinya secara gamblang.
Aku memafhumi cerita Hannes dari posisi netral. Di dunia kami saat ini, hampir tak ada yang salah dan tak ada yang benar. Baik HOMETOWN maupun Hannes sama-sama memiliki satu tujuan: bertahan hidup. Jika harus membunuh demi merebut perbekalan, mereka akan melakukan apa pun.
Meski begitu, di antara kedua kelompok ini, masih ada satu yang menjaga kewarasan mereka secara penuh. Ada para penyintas yang tidak berakal monster. Aku berpihak sepenuhnya kepada Hannes.
Selama mendengarkan cerita Hannes, Eren berusaha menekan pendarahan Kakek Arlert. Ia tak berkedip mengamati darah yang merembes keluar dari balik perban. Kulihat sekilas raut kemerahan yang aneh di bola mata Eren ketika itu.
Mobil jip kami bergerak ke arah tenggara, bagian lain dari Distrik Sina, tak terlalu jauh dari kota kecil tempat kami merampok gedung serbaada semalam. Sebuah areal dengan lapangan dan padang pasir yang cukup luas. Peternakan, tempat pacuan kuda, motel-motel kecil tersebar dengan jarak yang saling berjauhan. Tak banyak mayat berkeliaran di tempat ini. Jika ada, mereka akan tampak dengan mudah karena daratan bersalju terang dengan hanya sedikit pohon kering di sana-sini. Tak ada tempat bersembunyi.
Jip Hannes merapat ke salah satu area motel yang cukup luas. Motel itu sudah dipagari dengan dinding barikade yang terbuat dari lempengan badan mobil, pagar kawat berduri, dan kayu-kayu berlapis yang dipaku. Cukup kokoh, meski masih sangat jauh dari kata aman dibanding dengan dinding baja HOMETOWN.
"Selamat datang di perkemahan kami. Sebut saja 'rumah'," ujar Hannes, turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Kakek Arlert.
Lelaki bersenjata laras panjang dan perempuan berkucir kuda yang membawa pistol busur bergerak dari arah pintu motel. Lelaki itu memaki karena terkejut melihat penampilan zombi kami. Yang perempuan nyaris menembak.
"Tahan, Jean, Sasha! Buka mata dan lihat baik-baik siapa mereka."
Kedua sahabat lama kami terdiam.
"Ada apa? Serangan lagi?!" Lelaki pendek berkepala plontos, membawa celurit, ikut keluar dari motel. Aku langsung mengenalinya sebagai Connie Springer.
Di belakang Connie, menyusul lelaki lainnya yang sedang berselimut tebal karena demam tinggi. Ia pun bertinggi badan di bawah rata-rata dan seumuran. Dahulu rambutnya pirang dengan potongan di bawah telinga. Kini rambut itu terpangkas agak lebih pendek dan berantakan, tetapi ia tetap—tiada lain—sahabat terbaik kami. Armin Arlert.
KAMU SEDANG MEMBACA
X [RivaEre Fanfiction]
ActionProsesnya menahun. Bertahap, bertingkat, berlanjut tanpa jeda. Saat terjadi, segalanya berlangsung cepat. Tidak ada pernyataan ofisial. Namun, mereka sepakat menamainya Peristiwa X karena huruf X tersebar di mana-mana; di dinding, besi tiang jemuran...
![X [RivaEre Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/321094718-64-k233574.jpg)