Bab 8: Evacuation

1K 209 63
                                        

┏━━━━━━━━━━━━━━━┓

X bisa update 2x seminggu (Rabu & Minggu)

kalau banyak yang mau

kalau kulihat banyak pembacanya di sini, ya

jadi absen dulu, yuk!

┗━━━━━━━━━━━━━━━┛




MENUJU utara. Menuju perbatasan Provinsi Maria dan Rose.

Lautan manusia. Jalanan penuh sesak dengan mobil. Antrean panjang di depan pintu gerbang dan kereta api. Antrean panjang lain menuju pelabuhan. 

Klakson berbunyi riuh. Aku menutup telinga. Kaum terinfeksi bisa datang kapan saja saking berisiknya!

Levi turun dari atap mobil, berdiri memunggungiku.

Gadis rambut merah melompat turun di sebelahnya. Matanya bulat hijau seperti kelereng berkaca-kaca. Dia mungkin baru menangis. Mungkin karena kematian rekannya, Farlan.

"Dan evakuasi kita dipersulit. Ini sudah tiga hari." Hange turun dari balik setir, berkacak pinggang. "Kau tahu. Seperti yang sudah sering kubilang, kita akan mati bukan karena titan, tapi karena manusia."

Aku tidak bisa melihat ada apa di depan kerumunan.

Levi memanjat naik mobil antik hijau muda, lalu melompati mobil lain. Ini satu-satunya cara untuk maju.

Kupanjat mobil dan kuikuti Levi dari belakang, melompat di antara atap mobil. Mikasa, Hange, dan Mike mengekoriku. Tak ada yang memprotes langkah ugal-ugalan kami.

Pengungsi berduyun-duyun ingin memecah barikade.

"Mundur!" Petugas berteriak, "Sudah tidak cukup ruang!"

Petugas lain berteriak, "Kereta sudah penuh! Kalian harus mengantre!"

Semuanya marah, panik, meminta naik kapal dan kereta.

"Sudah tiga hari kami mengantre! Aku sudah kehilangan anakku!"

"Kau minta kami mengantre pada saat-saat seperti ini?! Mereka bisa datang kapan saja!"

"Ayah dan ibuku tak ada!" Seorang anak kecil menangis. Selalu saja ada pemandangan anak kecil menangis sambil menggendong boneka di tengah kerumunan, baik itu di komik maupun game yang pernah kumainkan.

Semua ini nyata.

Tampak Paman Hannes menjadi salah satu penjaga gerbang, kewalahan menghadapi serbuan massa. 

"Paman Hannes!!!"

Aku menjeritkan namanya dengan suara terserakku. Dia tidak mendengar.

Mendadak Levi muncul di belakang seorang anak kecil, membawa sekantong plastik makanan. Dia melempari kami dengan beberapa bungkus roti gandum.

"Dari mana kau dapat makanan?" tanyaku, menggigit roti manis itu dan menelannya tanpa dikunyah karena sangat kelaparan.

"Dari anak gembul di sana," jawab Levi.

"Kau mencuri?" tuduhku.

"Dia sudah gembul, harus berdiet."

"Kau jahat."

Hange tergelak. "Sejak kapan Levi baik?"

"Ini caraku bertahan hidup, Kacamata Busuk," jawab Levi.

Lelaki bertopi bisbol menubrukku tiba-tiba dari belakang. Tidak mau minta maaf, dia malah berlari menjauh.

X [RivaEre Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang