SEBAGAIMANA musim dingin yang terus mengalirkan hawa menggigit hari demi hari, sesuatu pun ikut berubah.
Khususnya beberapa minggu setelah Eren merengek minta diajak berburu.
"Kenapa kalian selalu meninggalkanku? Aku juga ingin ikut berburu. Izinkan aku ikut minggu ini!" Eren meminta.
Reiner dan Bertholdt saling pandang.
Percayalah, salah satu hal yang sulit bagi kami—para alfa—adalah menolak permintaan seorang omega.
Reiner angkat bahu. "Ini bukan masalah kau omega atau bukan, tapi Zeke yang memutuskan siapa saja yang boleh pergi."
"Aku tahu Zeke pasti akan mengizinkanku."
"Well, entahlah."
"Biarkan saja Eren pergi bersama kalian. Eren perlu tahu cara kelompok kita bekerja. Dia adalah bagian dari kita, bukankah begitu?"
Kalimat barusan datang dari mulut Zeke. Aku tak terbiasa dengan cara pemimpin HOMETOWN ini hadir di antara kami secara tiba-tiba.
"Aku minta kalian membimbing Eren pada perburuannya yang pertama. Bagaimana?" kata Zeke lagi.
Bertholdt melirik Reiner, lalu berkata, "Aku bisa membantumu berburu nanti, Eren. Setidaknya kau sudah diberi izin."
"Thanks, Berth!"
"Baiklah! Karena Zeke sudah mengizinkan, kau bisa ikut kami minggu depan. Siap-siap melejitkan adrenalinmu setinggi mungkin."
"Yang akan pergi adalah kami berdua, kan?" tanyaku, menghadap Zeke. "Apakah aku harus minta izin untuk pergi berburu bersama Eren?"
Eren mengerutkan kening. "Aku tidak mengajakmu."
"Aku harus ikut. Jika Eren ingin pergi sendiri tanpaku, kuharap Zeke membatalkan izin Eren untuk pergi berburu," tambahku.
Zeke terkekeh berat di dekatku.
Bertholdt mengangkat tangan. "Zeke, bagaimana ini?"
"Aku tak mungkin bisa menahan keinginan gadis spesial ini, kan? Anggaplah dia adalah pelindung Eren. Satu paket," ucap Zeke. "Ya sudah, kuizinkan."
Aku menatap kepergian Zeke, mengamati punggungnya yang sedikit membungkuk oleh beban tak terlihat.
Setelah berpisah dengan mereka, Eren menghela napas dan menyerangku dengan tatapan mendeliknya. "Silakan saja kau ikut, tapi jangan mengganggu jalanku saat berburu, oke?"
"Kau tak perlu paranoid setiap kali aku berada di sisimu."
"Aku tidak paranoid. Aku hanya merasa ruang gerakku sangat terbatas jika kau di sampingku."
"Benarkah? Memangnya ruang gerakmu tidak terbatas ketika bersama pria itu?"
Eren membisu.
Aku pun diam. Cuaca dingin dan firasat buruk ini membuatku sedikit emosional.
Aku menyesal saat melihat wajah Eren berubah pedih.
Jawabannya datang dengan bisikan yang teramat kecil. "Justru karena kau mirip .... "
Eren pergi setelah ia berucap pedih. Selama beberapa hari berikutnya, kami tidak lagi saling bicara.
✖️
Siang itu, Eren seperti terpaksa mengajakku bicara karena alasan lapar.
"Aku tak melihat makanan di kulkas," katanya muram.
Beberapa hari ini aku terlalu sibuk dengan kegiatan mengerok salju dan ikut memaku dinding kayu bersama Annie di wilayah pertokoan. Aku sampai lupa membuat sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
X [RivaEre Fanfiction]
ActionProsesnya menahun. Bertahap, bertingkat, berlanjut tanpa jeda. Saat terjadi, segalanya berlangsung cepat. Tidak ada pernyataan ofisial. Namun, mereka sepakat menamainya Peristiwa X karena huruf X tersebar di mana-mana; di dinding, besi tiang jemuran...
![X [RivaEre Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/321094718-64-k233574.jpg)