56. Rose

258 39 2
                                        

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Musim hujan datang tiba-tiba di bulan Juni, entahlah apa yang terjadi pada dunia ini.

Mungkin cuma aku yang merasakan begitu banyak perubahan. Aidan mulai memikirkan perannya sebagai pewaris, namun di sisi lain dia harus melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas terbaik di dunia.

Abel masih belum kembali. Tapi terakhir kali kami melakukan facetime, dia sedang memasak di dapur bersama dengan Mama Aidan. Dia masih duduk di kursi roda. Yang terpenting dia terlihat bahagia.

Dan Vicky tentu saja menjadi pusat perhatianku. Hari-hari menuju tanggal wisuda kulalui dengan mengunjungi rumah sakit. Papa dan Mama pernah sekali ikut denganku. Mereka meminta maaf karena dulu pernah berpasangka buruk. Vicky menanggapi dengan tenang.

Tersisa seminggu sebelum pesta kelulusan. Undangan sudah disebar ke seluruh siswa kelas dua belas yang lulus meskipun sekolah sedang mengalami sedikit kekacauan. Anak-anak kelas dua belas tetap antusias untuk merayakan pesta terakhir mereka sebagai siswa SMA Triptha dan aku tidak akan membiarkan siapapun melewatkan kesempatan emas ini. Karena itulah selama kurang lebih seminggu ini aku membujuk Vicky untuk datang ke pesta kelulusan.

"Saya sangat mendukung!" kata dokter Patricia ketika aku mengatakan tujuanku datang suatu hari di ruangan Vicky. "Itu bakalan jadi pengamalan yang sangat menyenangkan. Apalagi saat ini kamu akhirnya berhasil lulus. Kamu sudah tidak tinggal kelas lagi."

Vicky selalu menjawab, tidak ada lagi yang penting di dunia ini. Dia sudah menghitung  mundur, saat di mana dia akan menutup mata untuk selama-lamanya. Setidaknya, itulah yang kulihat dari bibirnya yang terkatup.

Aidan meninggalkanku di rumah sakit setelah kami menghabiskan kurang lebih dua digit untuk membeli perlengkapan wisuda di mall. Secara rutin selama empat kali sebulan Aidan selalu ikut perjalanan bisnis ayahnya sebagai pewaris, dia tidak bisa menemaniku kemana-mana.

"Bye! Bilang kalau dah mau pulang, ya!" Aidan menciumku. Menekan bahuku erat-erat sampai aku nyaris kehabisan napas.

Aku melepaskan diri. Memperbaiki dasi warna biru muda di dada Aidan. Pakaian yang Aidan pakai adalah pilihanku yang baru saja kami beli dari mall.

"Lo kelihatan kayak om-om tajir." Aku mendorong dada Aidan supaya dia melepaskan rangkulannya.

"Mau ditransfer berapa, sayang?" Aidan menggigit bibir bawahnya. Lalu mengedipkan sebelah mata. Aku memutar bola mata malas.

Aidan selalu berhasil membuatku merasa penting. Tingkah absurdnya memang ada-ada saja, tapi sepertinya itulah yang membuatku semakin suka.

Bibirku terkatup ketika menyadari mobil masih terkunci. Aku menoleh. Aidan tersenyum tengil.

"Buka nggak?" ancamku.

"Atau?"

"Atau gue bakalan buka sendiri." Aku menekan tombol kunci di depan kemudi. Lalu dengan sigap membuka pintu mobil sebelum Aidan sempat bereaksi.

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang