58. Orchid

259 38 2
                                        

Aku menunggu selama kurang lebih 30 menit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aku menunggu selama kurang lebih 30 menit. Waktu yang sangat lama untuk duduk diam di koridor rumah sakit seorang diri. Rasanya aneh, hampa, dan penuh rasa bersalah. Bahkan orang-orang yang lewat di depanku seolah tidak nyata.

Apa yang kudengar dari Vicky di rooftop bukan cuma membuatku terkejut, tapi membuatku merasa bahwa aku adalah antagonis di hidupnya. Semuanya serba salah. Semuanya tidak beraturan. Dan aku benci ketidakadilan Tuhan atas apa yang Vicky alami dalam hidupnya.

Ketika dia bilang takut mati, di mana kata itu selalu membuat air mataku jatuh, dia benar-benar mengatakannya dengan nada ketakutan. Dan aku benci diriku sendiri karena tidak bisa melindunginya dari rasa takut itu.

Dia akan baik-baik saja, kan?

Dia akan baik-baik saja di dalam sana, kan?

Dokter Patricia keluar dari ruangan bersama dengan dua perawat. Itu artinya Vicky sendirian di dalam sana. Rambutnya yang tadi rapi kini terlihat lebih berantakan. Bibirnya lurus tanpa senyum.

"Dia baik-baik saja," katanya. "Dia bilang sudah bebas. Saya tidak paham, dia bicara apa."

Aku berdiri. "Vicky baru aja... itu Dok. Dia ceritain tentang perasaan dia selama ini. Dia bilang dia takut. Aku ... aku nggak bisa ngapa-ngapain." Nadaku hanyut dalam isakan. Lagi-lagi leherku terasa seperti tercekat. Tangisan itu pecah lagi ketika Dokter Patricia menarikku ke pelukannya.

"Kamu tau, Vicky ingin bertahan demi kamu."

Aku melepas pelukan. Berharap dengan senyum di bibir Dokter patricia.

"Kamu tau kenapa Vicky menolak menerima transplantasi ginjal?"

Aku menggeleng kaku.

"Karena orang yang seharusnya mentranplantasikan ginjalnya kepada Vicky ... sudah meninggal."

Tubuhku nyaris jatuh ke lantai. "Maksudnya?"

"Sesilia. Dia meninggal karena kecelakaan dan sayangnya ginjalnya rusak dan tidak bisa ditransplantasikan. Masih ada kesempatan lain, tapi Vicky tetap menolak."

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang Dokter bicarakan. Selalu ada hal tentang Vicky yang membuatku kehilangan kata-kata.

"Sesilia, adik tiri Vicky. Satu-satunya anggota keluarga yang sayang sama Vicky."

Aku menatap pintu ruangan Vicky dari balik air yang menggenang di mataku. Apakah ada sekalipun Vicky merasa bahagia di hidupnya?

***

"Its always been like this," Aidan mengeluh di balik kursi kemudi. Sementara aku duduk di kursi belakang karena dia mengomel semenjak menjemputku dari rumah sakit.

"You never came back home without tears every time we go to the hospital. I am worried for you, Samara."

(Kamu nggak pernah pulang tanpa nangis setiap kali keluar dari rumah sakit. Aku khawatir sama kamu, Samara)

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang