⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku menyapukan kuas berlapis cat berwarna coklat di atas kanvas. Udara sangat segar sore itu. Angin bertiup dari arah barat, masuk melalui jendela kamarku yang terbuka.
Semenjak matahari masih di atas kepala hingga kini tenggelam di cakrawala, aku masih duduk di atas bangku. Di depanku, canvas berukuran cukup besar, mulai terlihat objek manusia di permukaannya.
Kuhirup udara banyak-banyak. Aroma senja mengingatkanku pada rooftop, mengingatkanku pada Vicky, sosok yang sedang kulukis.
Lesung pipi itu, yang akan muncul ketika dia tersenyum. Juga matanya yang menyipit. Aku tau Vicky jarang tersenyum. Tapi melukisnya dalam keadaan seperti ini jauh lebih membuatku puas daripada melukis ekspresi datarnya.
"Babe!"
Seseorang memanggilku dari belakang. Aidan melambaikan tangan dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Holly ...." Aidan membelalakkan mata.
"Apa?" tanyaku bingung.
"Lo kayak habis main perang cat. Look at yourself. Cemong dimana-mana." Aidan mengambil kursi rias yang tidak boleh digeser kemana-mana. Lalu dia duduk di sampingku.
"Tumben, bukannya udah lama nggak ngelukis." Aidan memperhatikan figur laki-laki di lukisan. Dari senyuman tengilnya, aku yakin dia mengira gambar itu adalah wajahnya. Aku tau ... gambarku sangat jelek.
"Pengen aja." Aku meletakkan kuas di atas palet. Megambil tissue untuk mengelap tanganku yang kotor.
"Vicky," bisik Aidan sambil memperhatikan tiap detail yang kusapukan di sosok gambar itu.
"Kok lo tau?"
Aidan mendengus. "Gue nggak ada lesung pipi. Dan jujur gue baru tau kalau Vicky bisa senyum."
"Bisa lah, masa enggak." Aku menyenggol lengannya yang bertumpu di lututku. Kenapa sih liat lukisannya sampai segitunya?
"Cakep juga yah lukisannya. Daripada yang itu." Aidan menunjuk lukisan yang kubuat ketika masih di panti asuhan. Gambar aku dan Aidan bermain di taman, di tepian danau.
Aku menepuk bahunya. "Ya jelas, lah. Itu kan lukisan anak kecil."
"Stop jangan sentuh-sentuh! Tangan lo kotor." Aidan menggeser tubuhnya ke belakang. Hampir saja jatuh, untung saja aku menarik lengannya. Dan kini pergelangan tangan Aidan punya dua belas warna tercampur di sana.
"Cih..."
Aku tertawa melihat ekspresi jijiknya.
"Sorry," ucapku di sela-sela tawa.
"Well, I am happy to see you laugh again." Aidan menggeser kursi itu lebih dekat ke sampingku. Aku juga senang melihat Aidan bisa tersenyum setulus itu lagi. Dia percaya aku sudah sembuh. Sembuh dari rasa kehilangan.