57. Celosia

258 31 2
                                        

"Lo yakin bisa?" aku melihat tangga setinggi paling tidak lima meter yang sangat curam, mengarah atap koridor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo yakin bisa?" aku melihat tangga setinggi paling tidak lima meter yang sangat curam, mengarah atap koridor.

Dari ruang konseling kami naik lift hingga sampai di lantai teratas. Aku tau semenjak Vicky menekan tombol 15 di lift, dia pasti akan mengajakku ke rooftop. Namun tidak ada lift ke rooftop, kami harus naik tangga. Meskipun cuma satu lantai, tetap saja terdengar bukan ide bagus untuk keadaan Vicky yang masih tertatih ketika berjalan.

"Ayo!" kata Vicky. Menapakkan kaki kirinya ke tangga pertama. Napasnya menderu. Dia berhenti untuk menoleh ke arahku. Aku buru-buru menyusulnya.

"Seharusnya lo udah di ruangan sekarang." Seingatku, biasanya Vicky di ruangan di jam tiga sore dan Dokter Patricia akan menengoknya untuk memastikan keadaan baik-baik saja.

"Its okey, nggak perlu dipaksain kalau lo nggak bisa, Ki." Aku menahan tangannya yang gemetar ketika kami sampai di tengah-tengah tangga.

"Diem bisa nggak?" tegur Vicky di tengah napas menderunya. Aku mengunci mulutku rapat-rapat dan berjalan dengan mantap. Aku percaya padanya.

Pintu rooftop terbuat dari baja yang harus didorong dengan kuat agar bisa dibuka. Terdengar bunyi keriut yang berasal dari engsel berkarat. Udara panas dari luar berhembus di wajahku ketika pintu itu terbuka. Aku melihat langit biru dan awan yang menutup setengah badan matahari.

Vicky menutup pintu. Aku memastikan dia sudah benar-benar menapakkan kakinya di lantai rooftop yang agak kotor. Dia sama sepertiku, menatap ka arah langit yang sangat indah.

Tidak panas, tidak juga dingin. Cuaca seperti ini akan jadi favoritku. Aku berjalan ke arah tepian rooftop. Semakin dekat ke pinggir, semakin terlihat pucuk-pucuk gedung tinggi di kiri kanan rumah sakit. Bunyi kesibukan duniawi terhempas oleh deruan angin.

"Kenapa lo nggak pernah kasih tau gue ada tempat seindah ini, Ki." Aku menarik napas. Mengisi oksigen banyak-banyak ke dalam paru-paru. Sudah lama semenjak terakhir kali aku ke rooftop. Pemandangan dari ketinggian selalu membuatku merasa takjub.

"Selama ini lo pasti sering datang ke sini. Sendirian?"

Vicky bersandar di tepian rooftop. Menatap lurus ke depan. "Ya, gue sering datang ke sini. Sama Sesil."

Aku teringat nama yang disebut psikiater di ruang konseling. Sesil? Gadis 17 tahun yang baru meninggal itu?

Aku terkejut. Okey ... tidak. Mungkin takjub. Pada akhirnya Vicky punya seseorang yang bisa menemaninya ketika aku tidak ada di sampingnya.

"Oh ya?" tanyaku. Terpaksa meskipun sebenarnya aku ingin menanyakan begitu banyak pertanyaan.

Tidak ada jawaban. Dia menunduk. Aku melirik tas berisi infus di pinggangnya. Dia pernah melakukannya sebelumnya, datang ke sini bersama seseorang. Membawa infus di tas masing-masing. Membicarakan tentang hidup dan mati. Aku mengerti. Aku terlalu polos menganggap Vicky hanya punya aku. Tentu saja dia punya kehidupannya sendiri. Kehidupan yang tidak akan pernah kumengerti.

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang