52. Angelonia

318 36 2
                                        

SAMARA'S POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SAMARA'S POV

Aidan mengetuk pintu depan dengan sisa tenaga yang dia miliki. Selama hampir seharian dia menghabiskan waktu di dalam pesawat. Lalu setelah tiba di bandara, dia menghentikan taksi di tengah jalan alih-alih menelfon supir pribadinya. Sebab Aidan sudah tidak sabar untuk tiba di rumahku.

Tak ada yang membukakan pintu. Padahal sudah jelas rumah ini tidak kosong. Justru sebaliknya, ada begitu banyak tamu di dalam. Buktinya, mobil-mobil asing terparkir di taman rumah yang seharusnya kosong. Aidan teringat cerita Abel tentang sosok yang ingin dijodohkan denganku. Dia berharap perjodohan itu belum terjadi.

Aidan hampir putus asa. Dia sudah berniat untuk mendobrak pintu itu dan menerobos masuk. Namun di sisa harapannya, seseorang membukakan pintu. Wajah Mama adalah hal pertama yang Aidan lihat. Lalu suasana di dalam rumah yang terasa hangat seolah ruangan itu ditambah oleh lampu-lampu ekstra.

"Aidan..." Mama tergagap. Dia tidak menyangka akan menemukan Aidan di balik pintu.

"Halo, Tante!" sapa Aidan. Tersenyum canggung. "Boleh ketemu sama Samara nggak?" Tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Bahkan tas yang dia bawa dari Texas masih tersampir di punggungnya.

"Eh ..." Mama melirik ke belakang. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Tante, Aidan masuk, ya!"

Mama buru-buru mencegah Aidan. Lalu bahunya menegang. "Tapi ada ..." dia diam lagi.

"Maaf, Tante. Aidan masuk, ya." Aidan menerobos masuk ke dalam rumah. Mama berjengit. Ingin mencegah Aidan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Aidan berjalan terburu-buru. Ketika tiba di ruang tamu, dia melihat Papa duduk dengan wajah lelah. Ada lingkaran hitam di bawah mata yang sangat jelas meskipun dilihat dari jauh. Di sofa yang kelihatannya baru, ada laki-laki berkepala botak, berwajah seram, lalu di sampingnya laki-laki lebih muda bertampang ramah dan sepertinya mendominasi obrolan.

Semua tatapan tertuju ke Aidan. Obrolan mereka terhenti sesaat. Papa mengerjapkan mata. Dia belum pernah bertemu Aidan semenjak Aidan tiba di sini. Dia pasti mengira Aidan adalah cowok asing yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Sedangkan tamu Papa tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Aidan mengangguk sekilas. Tersenyum tegang. Bola matanya bergerak mencariku. Dia mengira aku duduk di antara orang-orang itu. Ketika matanya tidak menemukanku, dia menghela napas lega.

"Hay, Om!" sapa Aidan dengan tangan terangkat ke udara. Dia tidak ingin membuang waktu dengan menunggu reaksi orang-orang. Dia melangkah ke arah tangga seolah sedang menjelajah rumah milik sendiri.

Saat itu aku sedang duduk di atas tempat tidur. Menunggu balasan dari Vicky. Setelah hampir seratus kali aku mencoba menghubunginya dan juga memberinya pesan, dia tidak menjawabku. Dia seperti hilang dari muka bumi. Vicky selalu hadir di saat yang tepat, maksudku adalah di saat aku membutuhkannya, tapi kali ini dia benar-benar tidak peduli padaku.

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang