51. Morning Glory

287 40 2
                                        

AIDAN'S POV

Perlu beberapa detik bagiku untuk mengalihkan pandangan dari wajah Abel. Dia sangat cantik meskipun rambutnya berantakan. Bibirnya sempurna tanpa harus tersenyum. Menurutku, balutan seragam pasien rumah sakit sama sekali tidak mempengaruhi penampilannya.

Tanganku menggenggam kotak berisi kalung. Ya, aku gagal. Malam itu aku gagal memberikan kalung ini kepada Abel. Aku masih merasa belum siap. Aku masih ragu dengan perasaanku sendiri.

Samara pasti akan marah padaku karena aku menunda memberikan kalung itu kepada Abel sekali lagi. Lebih baik aku menyembunyikan darinya.

"Abel!" panggilku. Dia menoleh.

"Iya, Aidan?"

Aku menghela napas. "Lo cantik." Apa seperti ini orang sedang jatuh cinta? Entahlah. Aku baru mengenal Abel beberapa bulan yang lalu. Aku lebih mengenal Samara daripada Abel. Abel cantik, aku tau. Dia selalu membuat semua orang takjub ketika menatapnya. Namun rasa suka itu cuma sebatas suka dengan kecantikan Abel. Aku rasa sesuatu di dalam diriku memilih untuk bersama dengan orang yang benar-benar sudah mengenalku sejak lama, bukan dengan orang yang menghipnotisku dengan kecantikannya.

"Lo serius? Bilang kayak gitu di saat seperti ini?" tanya Abel. Dia menghela napas dan mengalihkan pandangan.

"Masa mau bilang kalau lo jelek, nanti marah dong."

Dia tertawa. "Ya maksud gue. Selesaiin dulu packingnya. Bentar lagi mama lo jemput bukan? Pastikan kalau mama lo sampai sini kita udah selesai packing."

Aku mendengus. Kagum dengan sikap profesionalnya. Mungkin itu yang membuat Abel menjadi ketua cheers.

Aku memasukkan baju-baju di dalam lemari, juga barang-barang yang masih bisa dipakai. Hari ini untuk pertama kalinya kami akan pulang setelah hampir satu bulan di rumah sakit. Pulang ke rumahku tentu saja, bukan ke Indonesia. Itu berarti ini adalah pertama kalinya Abel mampir ke rumahku.

"Udah nggak sabar pengen balik ke Indonesia. Kangen sama Samara. Pengen tau kabar Niko juga."

"Sabar, Bel. Kalau lo udah mendingan. Kita balik ke Indonesia."

Abel menggerakkan jari-jari kakinya. Dia histeris ketika sadar kakinya bisa digerakkan lagi. Meskipun begitu, dia masih belum bisa berjalan sepenuhnya. Berdiri saja masih sangat hati-hati.

"Perasaan gue doang, atau emang lo berubah agak pendiam hari ini. Lo nggak papa, kan?"

Aku menoleh. Membelalak. Entah bagaimana Abel sadar aku sedang banyak pikiran. Aku mengambil handuk kecil, barang yang tersisa di lemari, dan melempar ke arah Abel. "Tangkap, Bel!"

Dia bergerak panik, tapi berhasil menangkap handuk itu. "Aidan!" geramnya.

"Hehe ... gue nggak papa, kok. Kadang kalau lagi males gue lebih banyak diem."

"Jadi kalau lagi males suka lempar-lempar barang?" dia masih mendelik.

Aku menggaruk tengkuk. "Biar lo gerak dikit. Buat pemanasan. Nanti main cheers nggak kaku lagi."

"Kan gue udah lulus." Abel memiringkan kepalanya. Lalu menepuk dahi.

Aku tertawa. Nyaris lupa. "Belum, baru kelar ujian."

"Ih, apa, sih." Dia melempar handuk kecil itu padaku. Aku menangkapnya dengan sempurna. Lalu mengedipkan sebelah mataku untuk menyombongkan diri.

"Okey," katanya sambil menghela napas. "Sekarang bantuin gue duduk di kursi roda."

Dia merentangkan tangan. Menungguku bergerak. Wajahnya seperti anak anjing yang baru lahir. Sangat menggemaskan.

Aku berjalan ke arahnya. Menyelipkan tanganku di bawah lutunya, lalu tangan kananku di punggungnya. Dia melingkarkan tangan di bahuku. Menatapku takjub dan tertawa.

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang