⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku berlari ke arah tangga yang gelap menuju lantai dua. Jari-jariku menyentuh dinding yang dingin. Langkahku tiba di lantai dua yang tenang. Tidak ada suara, kecuali bunyi tembakan dari sebuah video game, tepatnya di balik pintu kamar Aidan.
Aku mendorong pintu ke dalam. Sosok berkaos hitam itu duduk di kursi gaming, memakai headphone yang entah fungsinya untuk apa karena suara tembakan terdengar lewat sound system berwarna rgb, dia menggerakkan jari-jarinya di atas stik game.
Aku menghela napas. Sedikit ragu dengan ucapan Papa bahwa Aidan terlihat sangat hebat bicara kepada para wartawan di konferensi kemarin. Lihatlah, dia masih kelihatan seperti remaja yang punya cita-cita jadi streamer game.
Dia tetap tidak mendengar langkah kakiku bahkan hingga aku berdiri di sampingnya. Aku menekan saklar untuk menghidupkan lampu. Cahaya terang merambat di seluruh sudut kamar. Mata Aidan menyipit.
"Helo!" sapaku. Dia nyaris terlonjak ketika melihat wajahku.
"Matiin, lampunya," katanya. Lalu mengalihkan fokus ke layar monitor lagi.
"Nggak mau."
"Ngapain datang ke sini? Sibuk gue." Suara tembakan 6 kali beruntun membuatku menutup telinga.
"Gue kesepian di rumah."
"Bilang dulu kalau mau datang, biar gue jemput," sahutnya. Sebenarnya dia bicara sama aku nggak sih? Sejak tadi tatapannya tidak beralih dari monitor.
"Shit. What the hell!" umpatnya. Memiringkan stik game. Lalu menggeleng kecewa. "Son of a b...."
"Aidan!" Aku menakan tombol off di komputer. Layar berubah gelap. Memantulkan ekspresi terkejutnya.
"Ra ...." rengeknya.
"Gue ngomong sama lo."
Aidan merotasikan bola mata. Aku teringat kejadian pulang dari rumah sakit kemarin. Sebenarnya aku datang untuk minta maaf padanya. Aku meninggalkan makan malam demi datang ke sini dan disambut oleh koridor gelap rumah Aidan, mirip seperti rumah tak berpenghuni.
Ayahnya tentu saja masih di kantor, dan anaknya yang sedang jadi gamer ini sangat pemalas, sampai mengabaikan kegelapan di seluruh isi rumah. Untungnya aku tau dimana saklar ruangan depan sehingga aku menghidupkannya sebelum tiba di sini.
"I promise, yesterday is the last." Aku bicara dengan tenang, berusaha terdengar positif.
(Aku janji, kemarin itu yang terakhir)
"Last of what?" Aidan menautkan alis.
(Terakhir apa?)
"Nangis tiap pulang dari rumah sakit," sahutku sambil mengedikkan bahu. "Gue janji besok-besok gue nggak akan nangis lagi. Gue bakalan selalu senyum di depan Vicky. Lo bilang kemarin kan, kita nggak boleh sedih di depan orang sedih. Artinya gue harus bawa kebahagiaan gue biar bikin Vicky bahagia juga."