⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku bersama Aidan buru-buru ke rumah sakit pagi itu. Aku tau ada rasa cemburu di setiap gerakan Aidan. Di sisi lain, aku tidak bisa menyangkal rasa ketidaksabaranku untuk bertemu dengan Vicky. Bagaimana keadaannya sekarang? Separah apa kondisi Vicky sampai Aidan bilang kalau hidupnya tidak akan lama lagi.
Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa ada Vicky. Semuanya pasti tidak akan baik-baik saja.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis begitu aku dan Aidan tiba di sana.
"Em... boleh saya bertemu sama pasien bernama Darel Vicky Raditya? Saya temannya." Aidan yang bicara tentu saja. Aku hampir tidak bisa mengeluarkan kata-kata semenjak dengar kalau Vicky sakit.
Lalu lalang dokter dan pasien di depanku saja sudah cukup membuatku merinding.
"Tunggu sebentar." Kata petugas rumah sakit yang merupakan seorang wanita berusia tak jauh dari kami. Dia menelfon seseorang. Lalu menutupnya dalam waktu kurang dari satu menit. Dia menatap ke arah kami. "Pasien bernama Darel Vicky Raditya baru saja melakukan cuci darah. Masih di ruangan cuci darah untuk saat ini. Silakan naik saja ke ruangan lantai 4."
Aku dan Aidan mengucapkan terima kasih. Kami naik lift. Rasanya seperti sangat lama padahal hanya menempuh empat lantai. Mungkin karena ada begitu banyak pasien dan dokter di dalam lift. Aku semakin berhimpit ke arah Aidan.
Lift telah tiba di lantai empat. Darahku berdesir-desir aneh. Langkahku terasa sangat berat. Semakin dekat dengan ruangan Vicky, jantungku semakin cepat berdegup. Aku takut melihat Vicky terbaring tak berdaya di atas brangkar. Aku takut melihat Vicky tidak lagi bisa membuka matanya. Aku ... takut.
"Kayaknya di sini. Gue nggak terlalu ingat." Aidan berhenti di depan sebuah ruangan. Ada plakat 18 di tengah-tengah pintu.
"Tunggu, Ra!" kata Aidan sebelum aku memutar knop pintu dari kayu itu. "Cuma satu orang yang boleh masuk ke sana. Its okey, gue akan nunggu di sini. Lo masuk ke dalam. Kalau ada apa-apa bilang aja." Genggaman tangan Aidan terlepas. Bekas genggaman itu masih terasa hangat. Aidan tersenyum. Aku tau dia sedang menahan rasa cemburu.
"Oke," kataku. Bukan saat yang tepat untuk meladeni kecemburuan Aidan.
"Ra," cegah Aidan lagi. "Tolong sampaikan permintaan maaf gue ke Vicky."
Tidak akan. Karena seharusnya Aidan tidak berjanji kepada Vicky untuk menyembunyikan semua ini dariku. Seharusnya dia mengatakannya sejak dia tau tentang Vicky.
Aku memutar knop pintu. Aroma obat menguar menusuk hidung. Cahaya di dalam sana terlihat remang-remang, sangat cocok untuk tidur. Mungkin Vicky dijadwalkan untuk tidur. Semakin membuka pintu, semakin kulihat seisi ruangan. Dan di sana, di tengah ruangan, tempat sebuah mesin besar dan sebuah ranjang, duduknya Vicky bersama seorang wanita paruh baya yang sedang menempelkan plester di siku Vicky. Keduanya sama-sama menoleh ketika aku membuka pintu.