53. Mirabilis

256 37 4
                                        

Seperti janjiku kemarin, aku akan update setelah bab sebelumnya mencapai 50 view.

Makasih banyak yang sudah bantu promosi 🙏🙏 lopyall 🫶


Makasih banyak yang sudah bantu promosi 🙏🙏 lopyall 🫶

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tinggal menunggu wisuda, maka masa SMA-ku telah usai. Hari itu akan tiba sekitar seminggu lagi. Tidak diwajibkan bagi anak kelas 12 untuk berangkat sekolah selagi menunggu wisuda tiba, bisa dibilang hari-hari setelah ujian adalah hari-hari menganggur, namun aku bersemangat berangkat sekolah bersama dengan Aidan.

Kami melewati setiap sudut koridor Triptha untuk menyusun kenangan terakhir kalinya. Lalu menuju tujuan akhir kami yaitu ruang kepala sekolah. Aku masuk ke dalam ruangan tanpa ragu. Sementara Aidan menunggu di luar, memberi senyum semangat.

Aku bukannya ingin berperang, tapi aku akan mengatakan sesuatu yang penting mengenani beasiswaku kepada Bu Andrea.

Dua puluh menit kemudian, penjaga ruangan bu Andrea membukakan pintu untukku. Aku melangkah keluar dengan perasaan lega bercampur dengan rasa haru.

"Biar gue tebak," kata Aidan begitu aku tiba di depannya. "Lancar?"

Aku mengangguk. Seperti ada air mata yang menggenang di kelopak mata, tapi aku tidak bisa menangis. "Abel pasti bakalan kaget."

"Abel pasti bakalan berterima kasih banget sama lo."

Aku membayangkan Abel kembali dari Texas dengan keadaan sudah bisa berjalan, lalu dia mendengar bahwa dia mendapatkan beasiswa di salah satu kampus terbaik di dunia.

"Dulu Abel pengen banget masuk Juiliard. Tapi meskipun beasiswa ini nggak akan bawa dia ke Juiliard, gue harap dia tetap menerima beasiswa itu."

Aidan menggeleng kecil. Seandainya kami tidak di sekolah, aku yakin dia sudah memelukku. "Cuma lo orang yang rela kasih kuota beasiswa ke orang lain."

Aku mengusap titik air di sudut mata. Merasakan betapa lega bahu ini. Betapa leluasa aku bergerak setelah sekian lama terikat oleh tali yang tak terlihat. Bukankah boleh-boleh saja bagiku untuk merayakannya?

"Gimana kalau kita keluar? Gue nggak mau balik ke rumah dan nyia-nyiain seragam bersih ini. Masa baru dipakai sedikit langsung dicuci lagi."

Aidan berseru, "Gue udah nunggu lo ngajak keluar dari tadi. Mau kemana?"

Aku bergumam. Menggeser bola mata ke pojok kiri.

"Lo pernah cerita tentang toko bunga punya mama lo, kan?"

Aku langsung teringat EJ. "Nggak mau kesana."

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang