Tok tok ....
Aku menoleh ke arah pintu yang tertutup. Seseorang berdiri di luar sana. Menunggu dibukakan pintu. Aku mengerjapkan mata berkali-kali sebelum menyadari entah sudah sejak kapan aku mengurung diri di dalam kamar.
Di luar sana Mama dan Papa pasti khawatir. Dan siapapun yang mengetuk pintu barusan adalah salah satu dari mereka. Mungkin mengantarkan makan malam atau menyuruhku keluar.
Aku bangkit dengan sempoyongan. Memutar kunci dan menarik engsel pintu.
Papa berdiri di sana. Ekspresinya khawatir. Tapi dia diam. Hanya memperhatikanku. Ada sesuatu di tangannya. Jelas itu bukan makanan. Kelihatannya seperti kertas.
"Kenapa, Pa?"
"Boleh papa masuk?"
Aku mendorong pintu lebih jauh. Lalu bergeser untuk membiarkan Papa lewat. Dia mengenakan pakaian kerja. Meskipun perusahaannya dalam masalah, dia tetap tidak menyerah. Diam-diam aku salut dengan kerja keras Papa.
Dia duduk di atas tempat tidur. Meraba selimut yang acak-acakan. Lalu memandang boneka-bonekaku yang kutata rapi di lemari, juga fotoku dengan Abel, fotoku dengan Aidan, dan foto keluarga. Papa menoleh ke arah dinding. Kupikir dia sedang memeriksa jam, ternyata dia memperhatikan lukisanku ketika masih kecil. Bibirnya tersenyum.
Aku duduk di sofa. Melamun. Mununggu ucapan Papa. Paling-paling ingin membahas masalah perjodohan. Aku tidak peduli.
"Lukisan itu ada dua orang, satunya siapa?"
Aku menoleh ke arah lukisan pertamaku ketika masih kecil. Ada dua orang lidi di sana, sedang duduk di tepi danau, berdampingan. "Itu yang ada rambutnya aku, yang gundul Aidan."
"Aidan?" tanya Papa. Sorot matanya berubah antusias.
"Iya."
Papa tertawa kecil. Bahunya sampai bergerak. "Kamu ingat nggak saat pertama kali Aidan mempertemukan kamu sama Papa?"
Aku berusaha mengingat momen itu, rasanya sudah lama sekali. Aku tidak ingat apa-apa, pokoknya hari itu adalah hari paling indah seumur hidupku.
"Waktu itu kalian main di pekarangan rumah. Hampir setiap hari. Nggak ada rasa takut pun meskipun taman itu punya orang. Kalian malah sibuk nyiram tanaman seolah punya sendiri."
Aku teringat momen itu. Aku dan Aidan sungguh tidak tau malu. Ketika kami masih kecil, kami suka berpetualang. Satu-satunya hal yang aku suka adalah bunga dan Aidan tau itu. Aidan menunjukkankku taman yang hampir mati, lalu kami sama-sama menghidupkan taman itu lagi. Taman yang hidup akan membuat pemiliknya hidup juga, aku percaya itu.
"Terus Mama datang dan usir kami." Aku melanjutkan cerita Papa. "Mama kayaknya mengira aku sama Aidan mau mencuri." Aku tertawa mengingat ekspresi marah Mama. "Setiap aku mengungkit ekspresi itu, Mama pasti bakalan malu."
"Waktu itu kami tau dari Jonathan, tentang persahabatan kamu dan Aidan. Kami tau kamu bukan anak mereka. Kamu tidak punya rumah."
Papa menunduk. Bahunya bergetar. Apa yang ingin dia ceritakan adalah sesuatu yang sangat berat baginya. "Saat itu aku sama mamamu sempat mau cerai. Sudah hampir lima tahun kami tidak bisa punya anak. Lalu Aidan tiba-tiba cerita tentang kamu. Dia bilang kamu anak yang baik, sopan, dan sangat pintar. Aidan bilang kamu suka bunga, namamu bahkan tersusun dari nama bunga. Karena itu kalian sering datang ke taman rumah kami. Aku dan mamamu langsung menjemputmu dari panti asuhan. Dan memang benar." Papa tertawa haru. Aku baru sadar ada air tergenang di matanya.
"Kamu sangat pintar, lebih pintar dari papa. Kamu membuat papa bangga."
Aku bangkit dari kursi. Duduk di samping papa. Sekarang aku tau kertas yang papa bawa adalah dokumen adopsi. Ada namaku di sana, juga nama mama dan papa.
"Saat Papa putus asa dengan keadaan ekonomi keluarga yang semakin memburuk. Papa justru memanfaatkan kamu. Papa memang jahat." Air matanya luruh. Jatuh membentuk noda di kemeja kerja yang ia pakai. Aku meraih tangannya, mengelusnya.
"Papa bersyukur kamu pintar. Kamu punya keberanian untuk membantah meskipun Papa bersikeras." Papa menatapku. Wajah penuh suka cita, penuh harapan, dan perlindungan, kini dilapisi air mata. "Dan terima kasih, kamu sudah membuat papa sadar."
Aku mengeratkan peganganku di jari-jari papa.
"Papa melakukan semua ini karena papa tidak mau kamu kembali ke panti asuhan itu lagi. Jika suatu saat perusahaan Papa bangkrut, setidaknya kalau kamu bersama dengan Darius, kamu bisa hidup di rumah yang layak."
Papa selalu punya cara keluar dari masalah. Dia punya seribu cara. Tapi kali ini dia tidak punya satupun. Dia menangis seperti orang putus asa.
"Papa sadar kamu tidak akan bisa bahagia dengan cara itu. Papa sadar kamu sudah besar dan bisa mencari kebahagiaanmu sendiri." Dia melepaskan genggaman tanganku.
"Karena itu Papa memberikanmu keputusan."
Napasku tiba-tiba berubah sangat berat. Wajah putus asa papa membuatku takut.
"Kamu boleh pergi dari rumah ini, membawa semua sisa harta keluarga ini. Nggak usah pikirkan tentang Darius, biar papa yang urus semuanya."
Mataku membelalak mendengar keputusan Papa. Dia menyerahkan surat adopsi dan surat warisan padaku. Aku tidak menyangka papa akan memberikan dokumen penting itu padaku.
"Papa serius. Papa sudah membuat keputusan yang tidak tepat selama ini, Menjodohkanmu sama Darius? Enggak, Papa nggak akan biarin putri papa menderita."
Wajahku memanas. Tangisanku meledak melihat raut sedih Papa. Aku memeluknya. Merasakan penyesalan yang begitu besar di suara Papa. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk terbebas dari perjodohan itu. Tapi tidak dengan meninggalkan Mama dan Papa. Tidak dengan meninggalkan orang tuaku.
Mama tidak bohong. Papa berusaha sebaik mungkin melakukan yang terbaik untukku. Tidak ada papa yang jahat di dunia ini. Mereka peduli pada putrinya. Semua itu terbukti. Menjodohkanku dengan Darius hanyalah tujuan kecil Papa untuk melindungi putrinya dari kejamnya dunia. Papa hanya ingin putrinya tidak sendiri. Dan Papa membuat keputusan yang sangat berat menyuruhku untuk lebih baik sendiri daripada bersama dengan orang yang tidak mungkin membuatku bahagia.
Keputusan itu sangat berat bagi papa, aku tau.
"Pa, its okey," aku bicara di pelukannya. "Samara nggak akan kemana-mana. Samara akan bantuin Papa. Justru makasih untuk semua ini. Papa udah kasih Samara kesempatan untuk mencari orang yang tepat, meskipun .... meskipun aku gagal. Sekarang udah saatnya Samara melakukan apa yang seharusnya sudah Samara lakukan sejak dulu. Aku akan menerima perjodohan itu."
Dekapan Papa semakin erat. Aku mendengar tangisannya tak kunjung reda. Dia mencium pucuk telingaku. "Jangan, Nak. Papa nggak akan maksa kamu lagi."
"Aku udah capek, Pa. Aku nggak tau kemana arahnya." Bahuku melemas.
"K-kamu yakin?" tangisan papa terhenti. Dia menatapku penuh harap. Aku mengangguk, karena hanya itu yang bisa kulakukan.
Papa memelukku lagi. Saat itu tubuhku sudah sangat lemas. Bahkan untuk mengenggam lengan papa pun aku tak bisa. Aku pasrah dengan arah yang papa tunjukkan. Aku tau semua yang papa berikan padaku adalah yang terbaik untukku.
______________________
Maaf gais lama tak update hehe....
KAMU SEDANG MEMBACA
EVIDEN (Republish)
Romansa⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️ ALUR SUDAH DIREVISI TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
