55. Lavatara

256 37 7
                                        

Aku dan Aidan berada di ujung lorong rumah sakit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku dan Aidan berada di ujung lorong rumah sakit. Tangga darurat tidak banyak digunakan orang untuk lewat. Justru ini tempat paling tepat untuk bersedih. Dokter Patricia bergabung beberapa saat kemudian setelah membantu Vicky kembali ke ruangannya dan beristirahat. Wajahnya merah, hidung dan matanya berair, sama sepertiku.

Aidan di sampingku, merangkul bahuku. Meskipun tidak menangis, aku tau dia merasa sedih dan tidak berdaya sama sepertiku dan Dokter Patricia.

"Terima kasih sudah datang, Samara." Dokter Patricia tersenyum tabah. Dia bersender di tembok, berhadapan denganku yang duduk di undakan tangga.

"Cuma nama kamu yang selalu buat dia semangat. Saya yakin dia akan tidur nyenyak malam ini," sambung Dokter Patricia.

Aku mendongak dengan mata sembab. Pandanganku kabur karena tangis yang tiada henti. "Kenapa Vicky jadi kayak gini, Dok? Sudah sejak kapan dia kayak gini?"

"Ceritanya panjang. Saya tidak tau kamu sanggup mendengarnya atau tidak."

Aku menyenderkan kepala ke dada Aidan. Ucapan Dokter Patricia membuatku takut.

"Makasih, Dokter. Kami nggak perlu ..."

"Perlu!" aku membantah ucapan Aidan. "Saya perlu dengar apa yang Vicky alami selama ini dan apa saja yang dia sembunyikan."

Dokter Patricia duduk di sampingku. Seorang dokter pastinya selalu penuh harap, tapi Dokter Patricia sebaliknya. Dia seperti melihat tembok kosong yang menjulang tinggi dan tidak bisa ditembus apa-apa.

"Saya yakin Vicky tidak akan suka mendengar saya menceritakan padamu tentang dia." Dokter Patricia berdehem. "Vicky merasa sangat bersalah. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian orang tuanya."

"Tapi ... tapi bukannya mereka bercerai saat Vicky masih ..."

"Saya akan menceritakan secara runtut," sanggah Dokter Patricia. "Saya sudah merawat Vicky, bahkan semenjak Vicky masih di dalam kandungan Andrea. Suami istri itu sangat menantikan anak pertama mereka. Mereka melakukan cek secara rutin, bersama dengan saya. Lalu, ya, tidak diduga-duga, saya menemukan kelainan pada janin Vicky. Dia mengidap suatu penyakit imun, bahkan ketika masih bayi. Biasanya penyakit itu baru bisa terdeteksi ketika bayi terlahir, tapi DNA Vicky terlalu rentan. Saya ... saya sangat menyesal. Ini lah yang membuat saya menyesal seumur hidup. Saya memberitahu Andrea dan Joshua tentang kondisi Vicky. Mereka menyerah. Andrea ingin menggugurkan kandungan berusia 7 minggu, dia tidak sanggup merawat anak yang sakit-sakitan. Joshua menolak, dia tetap ingin mempertahankan Vicky. Maka, bisa kamu tebak kan? Akhirnya mereka cerai."

Aku dan Aidan saling menatap tak menyangka.

"Vicky lahir beberapa saat kemudian setelah mereka berdua cerai. Joshua mengambil hak asuh Vicky. Saya dituntut menjadi dokter pribadi yang akan mengurus Vicky. Ketika Joshua dan Vicky pindah ke Australia, saya ikut dengan mereka. Dari situlah jalinan saya dan Vicky terbentuk. Mungkin karena rasa bersalah, mungkin juga karena rasa kasihan, saya membawa Vicky pergi dari ayahnya yang bermasalah. Tau kan, ayahnya jadi tidak terkendali, dia pembunuh, pengedar narkoba, dan suka nongkrong sama orang-orang jahat. Saya nggak mau Vicky ketularan. Untungnya Joshua meperbolehkan saya membawa Vicky pergi."

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang