Present day
M&M HQ
Aku baru kembali dari training HR yang ia ikuti untuk tetap update dengan perkembangan HR akhir-akhir ini. Badan rontok. Kepala cenat-cenut. Belum lagi ada banyak ide-ide yang ingin kucoba untuk M&M.
Aku sedang sibuk mengukur bisa pulang jam berapa. Sudah beberapa hari, Max ikut aku lembur di kantor. Aku tahu sekali, ini bukan kondisi ideal untuk anak dalam masa pertumbuhan. Terlebih untuk anak-anak yang badannya ringkih seperti Max.
Bulan ini sudah dua kali Max ke dokter karena batuk Max kumat. Pesan dokter selalu sama, "Jangan terlalu lama di ruang AC. Istirahat cukup, kalau bisa berenang."
Aku hanya mengangguk lemah. Sebagai working mom. Single parent pula aku tak tahu harus bagaimana lagi. Denting lift terbuka di lantai 24.
Kasih file ke Rumi, lalu ... mataku menatap kerumunan dan beberapa orang meneriakkan nama Max. Aku buru-buru berlari, takut terjadi sesuatu kepada Max.
Yang kudapat justru pemandangan aneh. Max melipat kedua tangannya di atas meja, matanya fokus menatap bidak-bidak catur di depannya. Yang membuatku hampir pingsan ketika aku tahu siapa yang menjadi lawannya. Jason.
No! No!
"MAX!" bentakku spontan. Jantungku berdegub kencang bak pelari maraton. Gila, apa-apaan ini!
"Kamu ngapain di situ?" desisku sambil menarik tangannya. Dalam sekejap kerumunan bubar. Kolega-kolegaku menghilang. Yang tertinggal hanya Max dan Jason.
This is bad! Bagaimana kalau Jason marah menganggap Max menganggu di kantor lalu membuat peraturan baru melarang anak-anak di kantor?
"Mama harus bilang berapa kali, kamu enggak boleh gangguin orang kerja!"
"Tapi ... tapi ... aku ... enggak." Max mencoba membela diri yang membuatku tambah panik.
"Jangan bandel, Max. Udah cepet beresin caturnya." Dengan tangan gemetar aku membereskan bidak-bidak catur.
"Itu, Pak Jason yang ngajak, Ma!"
"MAXIMILIAN LOEKITO! Kamu jangan nyalahin orang lain ya! Mama enggak suka," semprotku tajam. Aku sama sekali tak berani melihat ke arah pria yang ada di dekat kami.
"Tapi, Ma-"
"Sekali lagi kamu bantah Mama, Mama sita catur kamu! Kamu enggak boleh main lagi," ancamku sambil memasukkan bidak catur ke dalam kotaknya. Mataku menangkap satu bidak catur putih yang jatuh menggelinding. Aku baru hendak menggapai bidak itu ketika sebuah tangan mengambilnya lebih dahulu.
"It's not his fault. " Jason meletakkan bidak ratu putih di dalam kotak.
"Bapak enggak usah ikut campur. Ini anak saya terserah saya mau disiplin seperti apa," geramku pelan. Kepalaku tertunduk menatap lantai. Secepat kilat, aku menarik tangan Max pergi.
"Tinggalin caturnya. Kamu enggak boleh main lagi." Aku menyentak tangan Max yang mencoba meraih kotak caturnya. Tangis Max pecah, tetapi aku tak peduli. Sambil menunduk aku menyeret Max masuk ke dalam lift. Di dalam lift. Aku menyandarkan diri ke dinding, mataku berkejap-kejap menahan air mata. .
***
Di lantai 25, Max langsung berlari ke bean bag di pojok ruangan. Menenggelamkan dirinya di pojok. Aku tak mengikuti Max. Emosiku terlalu tinggi. Ketika aku mengambil botol minumku, aku baru sadar tanganku bergetar hebat. Kemarahan yang tadi melingkupiku mereda. Namun, badanku masih tegang, aku bisa merasakan dadaku sakit, nyeri, sedangkan tanganku bergerak di luar kendaliku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aphiemi ( EDITED)
RomanceHi, aku Silka Loekito, employee no 27 from start up company Mother& Me. Aku direkrut langsung oleh Mbak Mel, employee no 2. Aku juga single mom dengan satu anak, Max Putra Loekito. Hidupku sebagai budak eh karyawan korporat biasa-biasa saja. Hingg...
