Seminggu kemudian
Jason membaca ulang slide di laptopnya. Hari ini sesuai keputusan para board director, dia ditunjuk untuk memberi pengumuman mengenai lini baru di M&M dan mulai bekerja mempersiapkannya. Ada satu keputusan yang dia yakin akan menyebabkan banyak orang tidak gembira.
Sebelumnya, Jason mengirim slide-nya kepada Domi meminta tanggapan. Tak lama ada balasan yang masuk.
Okay.
Hanya satu kata yang ditulis Domi. Tak ada yang mengungkit pembicaraan mereka kapan hari. They talked about jobs and nothing personal. Jason sudah kebal dengan orang-orang yang tidak ramah terhadapnya. Atau hanya ramah di hadapannya. Itu biasa. Namun, Domi salah satu teman dekat yang dia punya. Salah satu atau malah mungkin satu-satunya.
Grup temannya terpecah sejak kematian Tasya. Jason lebih banyak menyendiri, dia menghilang di bawah radar dan tidak menghubungi siapapun. Teman-temannya sudah sibuk dengan usaha mereka masing-masing, keluarga masing-masing. Hanya dia yang masih sendiri.
Kadang aneka what ifs berkeriap di benaknya. Jika dia tidak membuat keputusan bodoh delapan tahun lalu, kehidupan macam apa yang dia punya?
Di whatsapp group, Jason melihat foto profile Domi. Domi istrinya dan kedua anak mereka yang masih balita. Tersenyum cerah. Foto profile Melinda, foto bayi dalam pangkuan Melinda. Carlo merangkul Melinda.
Jika di perusahaan lain, menggunakan foto keluarga sebagai profile picture di whatsapp kantor mungkin dianggap kurang professional, di M&M tidak. Persyaratannya hanya satu. Wajah karyawan harus ada di foto tersebut dan nama harus ditulis dengan nama lengkap. Tidak boleh nama-nama alay seperti Bundanya Mai.
Jason menyenderkan punggungnya. Dia tak pernah menyangka hidupnya akan seperti ini. Papi dan Mami menikah dalam usia yang cukup muda. Mami baru 21 tahun. Papi 27 thn. Keduanya membuat usaha dari muda. Jason baru lahir setelah mereka menikah 6 thn. Tak seperti keluarga teman-temannya yang banyak drama, perselingkuhan, istri kedua, rebutan harta antara istri ketiga dan pertama, anak-anak yang kabur, keluarganya cenderung nyaman dan jauh dari gosip atau selentingan miring.
Tadinya Jason pikir, dia akan menikah dengan cinta pertamanya, seperti Papi, meneruskan usaha Papi, punya keluarga bahagia seperti yang dia lihat.
Sayang hidup tidak seperti itu. He's a divorcee. Mantan istrinya benci kepadanya. Teman dekatnya menjauh dari hidupnya. His parents disowned him. His son called him, Pak.
Mungkin karma itu ada. Dosa-dosa masa lalu membuntutinya dan menuntut dibayar lunas. Lalu minggu lalu di depan matanya, dia melihat ada pria tak dikenal yang mencoba flirting in front of his eyes. Kalau tidak ingat itu tempat umum dan dirinya tidak ada apa-apa dengan Silka, sudah pasti bogem mentah dia layangkan buat pria itu. Sembarangan saja melihat Silka seperti itu! Is that how other men see his ex-wife?
Jason kembali kepada slide presentasinya. Tak ada gunanya menyesali yang sudah lewat. Sebuah pop up muncul di emailnya. Waktunya untuk memimpin rapat.
Today will be a hard day.
***
"Apa?" dengung suara di sana sini ketika Jason mengumumkan keputusan board of directors.
"Ya, kita akan menghentikan lini special needs dan fokus kepada qcommerce," tegas Jason. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Wajah-wajah yang terkejut dan kecewa memenuhi ruangan.
"Tapi Pak Jason, divisi special needs sudah berjalan cukup lama," protes ketua divisi.
"Tidak akan ada yang di-PHK, anggota divisi akan diserap oleh divisi lain yang membutuhkan," jelas Jason tenang. Suara protes dan bisik-bisik sana sini makin kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aphiemi ( EDITED)
RomanceHi, aku Silka Loekito, employee no 27 from start up company Mother& Me. Aku direkrut langsung oleh Mbak Mel, employee no 2. Aku juga single mom dengan satu anak, Max Putra Loekito. Hidupku sebagai budak eh karyawan korporat biasa-biasa saja. Hingg...
