Part 7 : He's A Loekito

64.4K 6.8K 185
                                        

Aku hamil. Untuk pertama kalinya, aku merasa ingin mati. Kini aku tidak sendiri, ada manusia lain yang akan ikut terperangkap bersama denganku.

Tadinya aku ingin menyembunyikan kehamilanku rapat-rapat. Sayang aku terus-menerus muntah tanpa henti, mata jeli Mami segera sadar. Aku sedang hamil muda. Tiga test pack dan satu kunjungan ke dokter membuktikan firasat Mami.

Di kamar dokter, aku berbaring pasrah sedangkan seorang dokter memeriksaku.

"Selamat, Bu Handojo. Ini kantongnya sudah kelihatan. Bulan depan kita mungkin sudah dengar bunyi jantungnya," jelas pak Dokter kandungan sambil menunjuk sebuah kantong kecil di layar hitam.

Aku melirik ke arah Mami yang menemaniku. Mami tersenyum lebar.

"Ada keluhan apa Bu Handojo? Makan lancar?" sapa dokter ramah.

Dengan heran aku berpikir kenapa dokter tanya apakah Bu Handojo bisa makan? Memang kalau aku yang hamil, Mami enggak bisa makan? Apa hubungannya?

"Mami ada keluhan apa?" Aku bertanya balik kepada Bu Handojo yang duduk di kursi.

"Loh bukan, maksud saya, Bu Handojo yang ini. Yang sedang hamil," tawa dokter renyah. Aku baru sadar Mami mendaftarkanku sebagai Nyonya Handojo.

"Maklum, Dok, pengantin baru. Belum biasa jadi Nyonya pakai nama suami," seloroh Mami.

"Wah tokcer ini ya, langsung hamil."

Aku ingin menghilang. Ingatan akan malam itu kembali.Kok bisa jadi??

Sekejap aku bingung tak tahu harus gembira atau sedih. Mertuaku ada di sisiku, malah melarang anaknya menceraikanku. Namun, bukan pernikahan seperti ini yang aku mau!

Papi Alex seperti mendapat suntikan energi begitu tahu aku hamil. Papi makin sering menelepon ke sana kemari, menuntut supaya cepat ada kejelasan di mana Jason.

Mami berbelanja dan menyusun menu untuk makananku, kamar bayi langsung dibuat. Mami bolak-balik menyodorkan ranjang bayi yang harganya membuat mataku melotot. Jangan ditanya berapa harga sperai, sarung bantal yang katanya premium, hypoallergenic, natural cotton dan entah frasa-frasa ajaib lainnya. Kutebak itu cuma akal-akalan si penjual supaya harga sarung bantal bayi yang cuma dipakai sebentar bisa di-mark up setinggi itu!

Aku? Berjalan seperti mayat hidup.

Makin hari, mertuaku benar-benar kehilangan kesabaran, Papi marah besar dan tiap hari menghubungi Bu Lily, pengacara Jason. Aku jadi agak kasihan dengan wanita itu, karena sejak mengirimkan surat cerai, Jason benar-benar menghilang dan tidak bisa dihubungi siapapun. Alhasil Bu Lily jadi sasaran murka Papi.

Amukan Papi terdengar makin keras tiap hari. Mertuaku menawarkan imbalan sangat besar bagi siapapun yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Jason. Nihil, suamiku hilang ditelan bumi.

Namun kemarahan Papi tak sebanding dengan amukan Papa. Berita menghilangnya Jason dan kehamilanku sampai ke telinga Papa Mama.

Aku tak pernah melihat Papa semarah itu. Papi yang biasanya mendominasi pun tertunduk diam di hadapan Papa.

"Kenapa putri saya dihina seperti ini?" bentak Papa.

"Dik, sabar ... Kami masih berusaha." Mami Mona berusaha menenagkan Papa. Sedangkan tangan Mama terus membelai punggung Papa berusaha menurunkan tensi Papa.

Sebelum Mami berbicara lagi. Papi mengangkat tangan, meminta Mami berhenti.

"Atas nama keluarga Handojo, saya minta maaf kepada keluarga Loekito atas kelakukan putra saya," ujar Papi Alex pelan. Ia menundukkan kepala di depan Papa.

Papi, bos perusahaan besar, Papi yang ditakuti orang-orang minta maaf. Tak ada bantahan atau pembelaan diri dari Papi. Tak ada sepatah kata pun yang menyalahkanku. Sepertinya Papi sadar betul bahwa yang dilakukan putranya sungguh tak bisa diterima akal.

"Maaf, maaf, mentang-mentang kalian orang kaya!" sembur Papa.

"Pa ..." bisikku. Aku berdiri di belakang Papa, membujuk supaya Papa tenang.

"Saya melarang anak saya menceraikan Silka. Bagi kami, Silka dan anaknya kelak tetap bagian dari keluarga Handojo," ujar Papi Alex tenang.

"Tidak." Papa mendekatiku lalu bergumam pelan. "Kita pulang saja." Ketika Papa menepuk punggungku, tanggul perasaan yang kubendung jebol. Harum Papa, tangan yang mengusap airmataku ketika aku jatuh dari sepeda, tangan yang membelai punggungku ketika aku kalah juara.

Tangan yang mengusap kepalaku meminta maaf, "Maaf, Ika, keuangan Papa Mama enggak cukup untuk biayain kamu kuliah di luar negeri seperti Ko Willy."

Tangan yang bekerja untuk membiayai hidupku. Sosok yang selalu ada untukku.

"Ika, ikut Papa pulang ya," bisik Papa sambil memelukku erat-erat.

Semua kebingungan, takut, cemas yang kurasakan selama menikah dengan Jason menguap dalam dekapan Papa.Bangunan megah ini bukan rumahku. Suamiku yang kunikahi tidak menginginkanku.

"Iya, Pa, aku ikut Papa pulang."

Setelah sebulan di rumah, aku menghubungi Lily Silalahi dan mengirim surat cerai dari Jason yang sudah kutandatangani. Mami - Tante Mona dan Om Alex, datang kembali ke rumahku meminta maaf dan menawarkan sejumlah besar uang serta aset untuk membiayai hidupku dan anakku.

"Maaf, Tante Om, saya tidak bisa terima uangnya," ujarku tegas.

"Tapi kata Lily kamu juga tolak alimoni dari Jason? Kamu gimana mau hidup? Kamu lahiran bagaimana nanti?" desak Tante Mona.

Betul, aku menolak segala bentuk tunjangan yang sebenarnya berhak aku dan anakku dapatkan. Aku tak ingin bergantung pada orang-orang yang tak bisa kuandalkan. Lebih baik berdiri di atas kaki sendiri dan tidak mengemis bantuan kepada orang lain.

"Saya sedang cari kerja, Tante, saya yakin mampu biayain hidup anak saya."

"Tapi -"

Om Alex menaruh tangannya di lutut Tante Mona. "Silka sudah pikir baik-baik?" tanyanya tenang. Dalam beberapa bulan Om Alex bertambah tua banyak. Rambutnya makin memutih, kini ada raut kesedihan yang mengikutinya.

"Iya, Om. Om Tante tidak perlu kuatir. Saya punya sarjana, juga ada orangtua."

Dalam hati aku bertekad, aku tak butuh suami yang tidak peduli dengan istri dan anaknya sendiri.

Om Alex mengangguk. "Kalau suatu hari nanti, Silka butuh bantuan ..." Om Alex menggantung kalimatnya.

Sejak saat itu, Om Alex dan Tante Mona menghilang seolah jejak mereka terhapus dari hidupku.

Ketika aku tahu bayi yang kukandung laki-laki, aku memilihkan sebuah nama, Max Putra Loekito. Bukan Max Handojo. Chapter Handojo sudah tamat dari hidupku.

***

Author's Note :

Ditunggu komentar-komentar dan sarannya. Happy weekend

Aphiemi ( EDITED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang