[NARUFEMSASU]
"Ada kalanya, seseorang pergi, namun takkan pernah pulang."
-Apocryphal.
"Kamu baik-baik aja, kan?"
"Pergi, sial!"
"Gimana cara bikin kamu bahagia, Sas?" lelaki itu menatap tepat pada mata gadis didepannya.
"Mati saja."
[BELUM DIREVIS...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sepuluh menit lalu. Suasana sekolah menjadi ramai karena serentaknya para siswa dan siswi keluar dari kelas mereka. Naruto sedang duduk disalah satu bangku putih Panjang dekat parkiran, menunggu keramaian ini reda. Hari ini Sasuke di jemput oleh Itachi dan ia juga sempat bertemu dengan teman abangnya itu.
Teringat soal abang, Naruto mengusap kasar wajahnya, malu karena kejadian tadi malam. Kenapa harus ketemu Kak Menma? Masih dengan penyesalan tentang 'kenapa' Naruto mencoba mengedarkan pandangannya dan berhenti pada satu titik.
Seorang anak laki-laki berseragam sama dengannya, adik kelas yang seumuran dengan dirinya karena sempat menjadi teman sekelasnya. Dia dijemput ibu dan ayahnya. Keduanya turun menyambut kedatangannya, ibunya mengusap pucuk kepalanya dan sang ayah menepuk bahu dan mengambil alih tas nya. Dan anak itu, tersenyum menerimanya.
Bagi sebagian orang yang melihatnya mungkin terlihat kekanak-kanakan dan terlalu manja. Tapi bagi Naruto, bagaimana rasanya? Itu sebuah pertanyaan. Karena ia beralasan lupa padahal tidak pernah. Delusi, lagi.
Tiba-tiba saja seseorang duduk disebelahnya. "Kenapa belum pulang?" Itu Danzou yang bertanya, kepala yayasannya. Naruto sedikit tersentak dan reflek menggeser tempat duduknya.
Pemuda itu mengusap belakang kepalanya. "Masih terlalu ramai, Pak." Jawabnya canggung.
"Kenapa canggung? Panggil paman seperti kemarin juga ngga apa-apa." Danzou menatap kearah objek tatapan Naruto tadi.
"Maaf, Pak." Canggung lagi. Danzou tersenyum maklum lalu menepuk-nepuk bahu Naruto.
"Semangat, ya. Saya tunggu hasil terbaiknya dari kamu." Katanya dengan wajah meyakinkan.
Naruto terpana sebentar lalu mengangguk mantapp. "Baik, Pak."
Terpana kembali saat Danzou mengacak rambutnya sesaat sebelum pergi dari sana dan masuk kedalam mobil hitamnya. Baru kali ini ada yang menunggunya dengan wajah semeyakinkan itu, bukan wajah meremehkan yang mencemooh. Danzou benar-benar baik. Pikirnya.
Naruto pergi dari sana dengan mengulum senyumnya, berjalan santai menuju parkiran. Namun, senyum itu berakhir kala ia melihat seseorang berdiri tepat disebelah motornya. Seseorang yang ia kenal jelas, seseorang yang sempat ia pikirkan tadi.
"Kak Menma?" Batinnya mengenali. Kaki jenjangnya kembali membawanya mendekat kearah tujuan.
"Aku ngga tau Sai dimana." Jawabnya tanpa di tanya karena merasa itulah tujuan Menma kemari. Sementara Menma diam saja, sedang konflik batin. Namun tersadar saat Naruto menaiki motornya.
Tangan Naruto dicekal saat ingin mengenakan helm hitamnya. "Pulang denganku." Sangat tidak terdengar seperti permintaan, tetapi perintah.
"Kenapa harus?" Naruto bingung harus berprasangka bagaimana. Terakhir kali ia sangat dikecewakan padahal sangat berharap.