Bintang Abbas Adytama
Gue berakhir gak jadi balik ke rumah. Setidaknya gak sekarang setelah melihat keadaan Thana yang kayaknya jauh dari baik-baik aja. Gue gak tau tepatnya sejak kapan, dan gue gak tau juga tepatnya kenapa sampai Thana bisa sebegitunya membuat gue khawatir.
Jadi malam ini gue masih tidur di kosan, gue bilang sama Hoshi kalau gue akan balik ke rumah besok. Awalnya Hoshi protes, dia meminta alasannya kenapa, tapi gak mungkin juga gue kasih tau alasan sebenarnya, jadi gue cuma bilang kalau gue udah mager aja buat balik ke rumah.
Pukul 02.00 gue masih gak bisa tidur. Gue cuma rebahan di atas kasur dengan tangan gue yang menjadi bantal sambil menatap lurus ke depan dimana ada tembok kosong yang memisahkan kamar gue dan kamar Thana. Gue penasaran aja, cewek itu udah tidur atau belum?
Ajaibnya, ketika gue sedang memikirkan itu, telpon gue berdering dan menampilkan nama Thana di sana. Tanpa pikir panjang gue pun langsung mengangkatnya.
"Bintang, balikin cutter gue!" Sentak Thana di telpon hingga membuat gue terkejut.
"Buat apa? Lo mau cutting lagi?" Gue langsung duduk tegap ketika mendengar ucapannya.
"Bukan urusan lo Bintang!"
"Gue bilang ke gue aja Thana, jangan---,"
"Please Bintang!"
"Gak Thana!"
"Bintang..."
"Enggak! Gue samperin lo sekarang!"
"Sialan!" Makian itu pun menutup telpon kami berdua.
Karena udah panik, gue langsung bergegas keluar untuk pergi ke kamar Thana. Tapi belum juga kaki gue melangkah keluar, tiba-tiba aja gue mendengar sebuah suara pecahan.
Prang....
Langsung aja gue bergegas ke kamar Tjana, mengentuk pintu tapi gak ada jawaban hingga akhirnya gue ingat kalau kunci cadangan kamar Thana masih ada di gue. Thana yang waktu itu menitipkannya ke gue untuk Dimas mengambil salad, belum sempat gue balikin karena lupa begitupun Thana yang gak nagih itu untuk balik. Tapj melihat sikon sekarang, gue sangat bersyukur karena masih memegang kunci cadangan kamar Thana.
Akhirnya gue pun berhasil masuk setelah berhasil membuka pintu kamar Thana dengan kunci cadangan tadi. Mata gue langsung membulan ketika hal pertama yang gue dapati adalah Thana yang hendak mengiris bagian pahanya dengan pecahan gelas yang tadi ia pecahkan. Sebelum beling dari pecahan itu menyentuh kulit paha Thana, dengan cepat gue langsung menahan tangannya, mengambil secara paksa beling itu hingga tanpa sadar gue menekan beling itu terlalu kuat, hingga telapan tangan gue lah yang terluka. Menyadari itu Thana akhirnya menjatuhkan diri ke lantai dan menangis histeris dengan melipat lututnya.
"Lo ngapain sih Bintang?" Sungutnya dengan wajah yang penuh air mata.
"Lo lupa? Stop buat lukain diri lo! Kalau lo butuh di dengar, kalau lo butuh tempat pelampiasan sakit lo, ke gua aja Thana!"
"Terus lo bisa jamin gak kalau lo gak akan ngejudge gue dengan semua masalah gue?"
"Gue terharu lo bisa ngomong kayak gitu, tapi bukan berarti gue bisa percaya! Gue gak percaya manusia, siapapun, termasuk lo Bintang! Kalau gue udah cerita, lo mau apa? Lo cuma bakal judge gue!"
"Menurut lo gue orang yang kayak gitu?"
"Emangnya enggak? Bukannya itu sifat manusia?!"
"Waktu lo liat gue digebukin bokap? Berarti lo juga ngejudge gue ya Thana? Yang ada dipikiran lo pasti gue anak nakal makanya bokap gue pukulin gue."
"Kan kata lo itu sifat manusia, lo juga manusia."
"Lo kayak gitu juga gak Thana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Home (END)
Fanfiction"Bintang, lo terang banget. Mau ya jadi rumah buat gue yang hidupnya gelap ini?" - Thana "Gue gak seterang itu, kak. Gue bintang yang redup." - Bintang
