Bag 53. The dark world

426 44 35
                                        

Malam mulai turun di kastil pack Darker. Cahaya bulan masuk samar melalui jendela kamar Bella, membentuk bayangan lembut di lantai kayu. Namun suasana tenang itu sama sekali tak membantu pikirannya.

Bella duduk di tepi ranjang dengan lutut tertekuk, satu tangannya menopang dagu, sementara tangan satunya lagi sibuk menggigit ujung kukunya sendiri. Tatapannya kosong, mengarah ke jendela. Ucapan Lucius sore tadi membuat kepalanya terasa berat. Bella mengembuskan napas pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ia menutup matanya sesaat.

Cklek-

Suara pintu kamar terbuka membuat Bella langsung tersadar. Ia bangkit setengah duduk, lalu menoleh. "Hai Je!"

"Aku boleh masuk?"

Bella tersenyum penuh, lalu menganggukkan kepala. Wanita itu masuk sambil membawa nampan kecil berisi segelas teh hangat dan beberapa cookies yang masih terlihat fresh. Lalu Jeanna berjalan ke arah sofa kecil dan menaruh nampan itu di atas meja di sampingnya.

"Kau membuatnya sendiri?" Bella mendekat dan duduk di sofa cream miliknya.

Jeanna mengangguk semangat. Ia ikut duduk di samping Bella."You must try these cookies, and-"

"Chamomile tea ..." Bella mengambil gelas berisi teh chamomile itu. "You made the best aromatic tea I've ever tasted, Je!"

"Oh, really?" Jeanna tampak girang. "Kan! Apa gue bilang? Gue tuh emang berbakat bikin racikan minuman kayak gini. Cuma kadang laki gue terlalu protektif-nyuruh jangan capek-capek lah, jangan terlalu banyak gerak lah. Padahal gue seneng banget eksperimen bikin sesuatu!"

Bella terkekeh sampai kedua matanya menyipit. "I really missed this bahasa," ucapnya sambil menggeleng geli saat Jeanna kembali ke setelan awal.

Jeanna ikut tertawa kecil. "Gue juga kangen! Andai tiap hari gue bisa ngobrol kayak gini. Lo kan tau sendiri, gak ada yang ngerti selain lo!"

Bella mengangguk pelan. "Now you can talk to me as much as you want." Ia mengambil satu cookies dari nampan. Begitu menggigitnya, matanya langsung sedikit membesar. "Ini ... benar buatanmu?"

Senyum Jeanna seketika memudar. "A-apa? Kenapa? Rasanya aneh ya?" Tanyanya sedikit panik.

Bella justru menatap cookies di tangannya beberapa detik, lalu perlahan mengangkatnya wajahnya. "Kau-oh, Jeanna! Andai kau belum menikah dan belum punya anak ... aku pasti sudah memohon padamu untuk jadi kepala baker di cafe-ku!"

Wajah yang tadi sempat panik kini langsung berbinar lagi. Ia memegang kedua pipinya sendiri dengan ekspresi bangga. Bella kembali terkekeh saat Jeanna terus memuji dirinya sendiri yang hebat dalam segala hal.

"Mmm ... Bella,"

"Hm?"

Jeanna terlihat ragu sesaat. Jemarinya saling bertaut sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Itu-can I talk about your soulmate?" tanyanya hati-hati.

"Lucius?"

Jeanna mengangguk pelan. "Is he really your soulmate? Can you feel it? The bond between both of you? You don't wanna confirm it? Cause, you know ... he almost-"

"No! I can't feel the bond between us." Bella terdiam sejenak, lalu meletakkan cangkir tehnya. "But my heart does!" Ia tersenyum tipis ke arah Jeanna. "Kau pasti tahu bagaimana rasanya, Je... karena aku tak jauh berbeda sepertimu, saat kau akhirnya bersama Alaric."

Jeanna berkedip beberapa kali, wajahnya tampak menyesal. "Maaf, Bella. Kalau ini melukai perasaanmu. Aku tak seharusnya bertanya seperti ini. Sebenarnya aku khawatir, karena kau hampir kehilangan nyawa di tangan lelaki itu."

Red ColdCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang