Sarapan bersama

10 1 0
                                        

Pukul 07:00 WIB

Cahaya matahari mengenali wajah dheaa dan akhirnya dhea terbangun. Ia membuka matanya perlahan dan melihat langit-langit kamar yang begitu asing. Ini bukan kamar kostnya. Langit-langit kamar ini terlalu indah untuk kamar kost dhea yang begitu sederhana.

"Apakah aku sekarang bermimpi menjadi anak tunggal kaya raya dan tidur dikamar secantik ini?" ucapnya dalam keadaan setengah sadar.

Ia masih mencoba memperbaiki perasaannya sembari melihat sekitarnya dan mencoba mengingat-mengingat tentang apa yang terjadi karena sekarang pun ia melupakan dimana ia sekarang.

Tiba-tiba ia terpaku pada satu meja dimana dimeja itu ada sebuah unit computer dan terlihat seseorang yang tengah duduk lalu seseorang itu tiba-tiba berbalik arah dan melihat dhea.

Ya, itu adalah alva. Ia berada dikamar alva. Ia tertidur dikamar alva. Ia akhirnya mengingat bahwa kemarin ia berkunjung kerumah alva dan ia lupa pulang.

Dhea terkejut. Kaget. Shock. Perasaannya campur aduk. Ia tidak tau harus mengatakan apa. Ia tidak tau harus berekspresi apa. Ia bahkan tidak tau kenapa tidur dikamar alva. Sontak ia melihat ke tubuhnya dan memeriksa dan hasilnya ia masih memakai bajunya yang semalam. Yang berarti alva tidak melakukan apa-apa kepada dirinya. Tetapi, ia masih memiliki banyak keraguan karena ia benar-benar lupa apa yang membuatnya tidak pulang semalam.

"selamat pagi, nona cantik" ucap alva sembari melihat dhea yang sudah terbangun ditempat tidurnyad dengan ekspresi panik, ketakutan dan terkejut.

"aku kenapa ada disini? semalam kenapa aku ga pulang?" ucap dhea dengan ekspresi cemas serta menyelimuti tubuhnya dengan selimut seolah-olah ia telanjang padahal pakaiannya utuh.

Alva cuma tersenyum dan sedikit tertawa melihat dhea bertingkah seperti itu sembari mengatakan, "semalam kamu ketiduran disofa. Ga mungkin aku biarin kamu tidur disofa, jadi ku bawa ke kamarku biar tidurmu nyenyak. Dan juga, aku ga ngapain-ngapain kamu ya. Jangan berfikiran sembarangan. Kamu masih perawan. Jadi berhenti bereskpresi seolah-olah aku abis ngapain-ngapain kamu". ucapnya karena melihat ekspresi dhea yang menatapnya dengan tatapan habis dilecehkan.

"harusnya kamu bangunin aku biar aku pulang aja semalam ga harus nginep disini" ucap dhea dengan nada sedikit besar karena malu sudah menginap dirumah orang.

"aku ga tega bangunan kamu. Kamu tidurnya mirip kebo. Aku ngangkat kamu ke lantai 2 loh tapi kamu juga ga bangun-bangun" jelas alva lalu mendekati dhea ke tempat tidur dengan duduk dikursi yang ada disamping tempat tidurnya.

"kamu ngangkat aku dengan kondisimu yang seperti ini? kamu masih punya tenaga? aku berat lohh maaf banget datang kesini malah makin nyusahinn" jawab dhea dengan sedikit menyesal sembari menyatukan kedua tangannya untuk mendapat permohonan maaf dari alva.

"aku masih kuat kalo soal kamu" ucap alva sembari mengelus kepala dhea dengan pelan.

"dihh aku serius alvaaa" ucap dhea dengan sedikit kesal.

"aku juga seriuss nona cantikk. Udah ayo bangun kita turun ke bawah untuk sarapan bareng" ucap alva lalu beranjak bangun dari tempat duduknya.

"aku mau ke toilet dulu" jawab dhea singkat masih dengan ekspresi kesal diwajahnya.

"udah ih masih pagi-pagi juga mukanya cemberut gitu gabaik diliatnya cil. Toilet ada disebelah kamar sini belok kanan ntar kalau keluar kamar. Aku tunggu di bawah ya langsung ke dapur okeyy" perintah alva.

"iyaa" jawab dhea singkat masih dengan ekspresi kesalnya.

Akhirnya alva menuju ke dapur terlebih dahulu, sementara dhea masih tetap tinggal diatas tempat tidur dengan perasaan campur aduk karena ia tidak pulang semalam. Lalu mengecek ponselnya dan mengabari ockta. Tetapi ketika ia hendak mengabari ockta, ia sudah melihat bahwa alva sudah menyampaikan pesan itu semalam. Ya, alasan kenapa dhea tidak bisa pulang ke kost malam kemarin.

Walaupun seperti itu, dhea tetap akan mengabari ockta,

"gue pulang bentar lagi. Lo masih jadi panitia hari ini kan?" pesan telah dikirim ke ockta.

"gila lo bisa-biasanya tidur dirumah orang wkwk. Iya hari ini gue masih jadi panitia. Nih gue udah stay dilapangan. Ohiya btw si alva udah ga jadi pemain kan karena kemaren dia cedera? jadi lo bisa luangin waktu bareng tuh hari ini. Akhirnya sahabatku ngedate setelah 3 tahun jombloo wkwk" balas ockta.

"apaansi ngedate-ngedate. Gue aja sekarang lagi stress, shock, kaget bangett bisa-biasanya gue ketiduran disini sumpah maluu gatau mau ditaroh dimana muka gue" balas dhea.

"HAHAHHAHAHAHH AKU NGAKAKK" balas ockta singkat dan jelas pesannya ngeledek.

Melihat pesan itu, dhea sudah tidak berniat untuk membalasnya lagi. Ia masih benar-benar tidak tau harus mengeluarkan ekspresi apa ketika bertemua lagi dengan alva. Yang pastinya ia benar-benar merasa sangat malu telah menginap dirumah orang lain.

Walaupun begitu ia akhirnya beranjak dari tempat tidur untuk segera ke kamar mandi membersihkan wajahnya sebelum turun ke bawah sarapan dengan alva.

Setelah bersiap-siap, akhirnya ia turun ke lantai bawah mencari keberadaan alva. Ia berusaha tetap tenang menganggap bahwa hal yang terjadi saat ini adalah ketidak sengajaan.

"sini sarapan dulu" ajak alva sembari membakar roti tawar.

"sini biar aku aja" ucap dhea yang segera bergegas mengambil alih hal yang alva kerjakan untuk menebus karena ia sudah diizinkan tidur semalam disini.

"udah kamu duduk tenang aja disitu" jawab alva yang tidak ingin dhea yang membuat sarapan.

"gamau kamu aja yang duduk udah. Kamu tuh masih sakit fisikmu belum sembuh total tapi kamu udah banyak beraktivitas dari kemarin. Aku hadir disini buat ngurusin kamu tapi kenapa nyampai disini malah kamu yang ngurusin aku" ucap dhea yang tetap ingin membakar roti tawar tersebut dan membiarkan alva untuk duduk manis dimeja makan menunggu roti yang dibakarnya telah matang.

"kamu kalo ngomel gitu lucu tau ga" goda alva dengan sedikit tersenyum.

"mulai deh mulai lagi ngeselin. Udah sana kamu duduk aja, tuan. Biar nona yang buatin sarapan okeyy" titah dhea yang segera menggeser badan alva untuk segera pergi dari tempatnya.

Akhirnya alva memilih mengalah dan duduk manis dimeja makan sembari melihat dhea membuat roti bakar untuk sarapan bersama.

"kamu mau rasa apa?" tanya dhea sembari melihat alva.

"coklat" jawabnya.

"siap, tuanku" balas dhea dengan tersenyum.

"terimakasih nona cantik" balas alva sekali lagi.

"ini roti bakarnyaa selamat sarapan" ucap dhea yang sudah membawa beberapa roti bakar yang siap di makan bersama.

"wihhh matengnya pas, makasih nona" jawab alva lalu mengambil potongan roti itu dan menyantapnya bersama-sama.

Akhirnya mereka sarapan bersama. Rumah alva masih sunyi. Hanya ada mereka berdua disana.

"kamu mau langsung pulang?" tanya alva setelah mereka menyelesaikan sarapannya.

"iya. Aku mau ngapain lagi kalo ga pulang" jawab dhea sembari membersihkan peralatan makannya tadi.

"mau coffe-date? library date?" ucap alva dengan melihat dhea.

Dhea terkejut, Date? dia bilang date? titahnya dalam hati.

"mau ga? aku kan udah ga main hari ini terus kalo sendirian dirumah segede ini juga bosen. Mau main sama temen tapi temen-temen masih pada lomba hari ini. Males nontonin aku, so kita pergi jalan aja ya? mau yaa?" ucap alva sekali lagi dengan menatap dhea serius.

"boleh si, aku juga ga ada kegiatan hari ini" jawab dhea singkat lalu kembali membersihkan peralatan dapur yang masih berserakan dimeja.

"yesss" ucap alva dengan raut wajah senang.

"tapi aku pulang dulu. Aku belum mandi belum ganti baju juga dari kemaren" jelas dhea.

"iyaa cantik ntar aku anterin. Biar aku siap-siap dulu ya abis itu kita pulang ke kostmu" ucap alva lalu akhirnya meninggalkan dhea.

***

1721Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang