Sheza Alexio, merupakan gadis yang nyaris sempurna. Semua orang heran mengapa gadis yang hidup dengan penuh kehangatan sepertinya harus menjadi sosok perundung yang kasar dan begitu arogan.
Namun, bukankah orang-orang hanya menilai dari yang terliha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🦋🦋🦋
Mataku mengerjap saat sorot cahaya menerpa wajah, mengintip sekejap lalu langsung berguling ke samping memunggungi jendela yang tirainya baru saja dibuka Bunda.
"Sayang, buruan bangun, kasian Alvian nungguin kamu," ucap Bunda duduk di tepi ranjangku lalu mengusap rambutku dengan lembut.
Sontak mataku terbuka sempurna, aku langsung beringsut duduk.
"Bang Sean, Sandra, Ryan?"
"Ryan diantar Papa, Sandra naik mobil bareng Sean."
"Kok Abang gak nungguin Sheza, sih?"
Bunda terkekeh kecil seraya mengusap pipiku. "Mereka terlalu rajin buat kamu yang hidup seperti Larry."
"Hehe ... terus Alvian? Dia sengaja nungguin Sheza, ya, Bun?"
"Dia bangun kesiangan, jadi sekalian Bunda minta buat bareng kamu aja. Mobil kamu kan masih disita sama Papa."
Bunda bangkit meraihkan handuk untukku, menarik tanganku agar segera beranjak dari ranjang yang sangat nyaman ini. Bunda menggiringku masuk ke dalam kamar mandi.
"Cepet mandi, seragam dan perlengkapan sekolah Bunda bantu siapin."
"Thank you, Buuuunnn ...."
"Not at all, Darling."
***
Klakson berbunyi nyaring untuk kesekian kali, sehingga membuat aku melangkah tergesa segera masuk ke dalam mobil.