57

169 26 28
                                    

Happy reading !♡

Hari Selasa, hari kedua menjalani ujian semester. Yang tentunya para siswa sangat di larang untuk terlambat datang. Hal itu membuat Queensha pagi ini di landa rasa panik. Pasalnya tadi pagi, ibu nya bilang tidak bisa mengantar.

Ketika Queensha masih bersiap di kamarnya, terdengar suara pintu kamar terbuka. Ketika ia menoleh pada sumber suara, ternyata ibu nya.

"Sha, ibu gak bisa antar kamu pergi sekolah hari ini. Ada pekerjaan mendadak, ini ibu mau langsung pergi." Ujar ibunya pamit, lalu mengeluarkan satu lembar uang sepuluh ribu

"Ibu kasih kamu uang lebih, kamu naik ojek atau angkutan umum aja ya?" Tanya ibunya sembari memberi uang tersebut kepada Queensha.

"Oh, yaudah bu gak papa. Hati-hati ya bu" balas Queensha menerima uang yang di beri ibunya sembari mengamit tangan ibunya untuk Salim.

"Iya, oh itu ibu hampir lupa, sarapan nya udah ibu siapkan di meja ya" ujar ibu nya, lalu langsung keluar dari kamar Queensha.

Selesai sarapan, ia termenung sejenak di meja makan. "Aduh, keburu gak ya kalau nunggu ojek?" Gumam nya bingung.

Dengan perasaan khawatir, ia beranjak pergi. Ketika ia baru membuka pintu rumah nya, ia di kejutkan dengan keberadaan Gavin di depan rumahnya dengan posisi duduk di atas motornya.

"Gavin?" Kaget Queensha.

Gavin yang sedari tadi melamun, terkejut saat mendengar suara Queensha. "Eh sha" sapa Gavin kikuk.

"Kamu ngapain disini?" Tanya Queensha dengan nada tak suka.

"Jemput lo. Ibu lo gak bisa anter lo hari ini kan" ucap Gavin.

Queensha kembali terkejut, "Tau dari mana?" tanya Queensha dengan menutup raut terkejutnya.

"Tadi pas ibu lo, baru mau pergi gue udah disini." Ucap Gavin sembari tersenyum manis.

"Kamu dari tadi?" Tanya Queensha kaget, tak habis pikir dengan Gavin.

"Iyalah, gue mau jemput lo." Jawab Gavin santai.

Matanya menatap Queensha, tak sengaja melihat plaster di dahi Queensha.

"Dahi lo luka kenapa?" Tanya Gavin.

Sontak gadis tersebut memegang dahi nya, bukannya menjawab ia malah melamun. Gavin berdecak kesal, "Ck, gue ngomong di jawab, bukan malah bengong gitu. Kebiasaan lo." Kesal Gavin.

Queensha tersentak, "Jatuh" jawab nya singkat.

"Kok bisa?"

"Ya bisalah!" Ketus Queensha.

Gavin mendengus kasar, "Ayo bareng gue" ajak Gavin.

Queensha memicing tidak suka, "Aku udah ada janji sama temen, kamu duluan aja" ketus Queensha.

"Sha?, Gue udah disini dari tadi nungguin lo" bantah Gavin tak terima penolakan.

"Aku kan gak minta kamu jemput aku!" balas Queensha sinis.

Gavin tertegun sejenak, lalu terkekeh miris "Oh gitu ya? Oke kalau gitu." Ujar Gavin tersenyum kecut, lalu pergi tanpa kembali mengajak Queensha. Ia pergi dengan membawa lara, pagi-pagi ia sudah menelan kecewa.

Queensha menatap kepergian Gavin dengan sendu, ada raut wajah yang tak bisa di jelaskan dengan kata. Matanya berkaca-kaca, tetapi ketika tersadar suatu hal ia menepis pikirannya mengenai Gavin.

Ia buru-buru pergi menuju pangkalan ojek, dengan berlari-lari.

"Eh neng, kenapa lari-lari?" Tanya salah satu mang ojek.

FATAMORGANA? [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang