Happy Reading!
.
.
.
.
Sudah 1 minggu sejak Aleesya kembali dari Kerajaan Atarah. Dan pagi ini, seperti biasa Aleesya kabur dari kelas tata krama.
Mendudukkan dirinya di atas papan, Aleesya melihat Kiel dan para prajurit berlatih pedang dengan lihai.
"Aleesya!" Panggil Kiel, saat menyadari keberadaan adik kecilnya.
"Hai!" Sapa Aleesya, melambaikan tangannya.
Kiel mendekat dan menatapnya tajam, "kau membolos lagi?"
Aleesya menghela nafas panjang, "kelas tata krama sangat membosankan, bolehkah aku berlatih pedang saja?" Pertanyaan Aleesya berhasil membuat para prajurit tercengang.
Mereka tau, jika Putri Aleesya memang sedikit berbeda dari Putri lainnya. Tapi berlatih pedang? Sudah pasti Keluarga Kerajaan akan menolak keras permintaan itu.
"Tidak! Kau memang! Aleesya, lebih baik kau belajar merajut, bukankah itu menyenangkan?"
"Kiel! Yang benar saja! Merajut adalah hal yang paling membosankan di dunia ini!"
"Ayolah Kiel, sekali saja, ajari aku berpedang" Kiel menggeleng, "lebih baik kau kembali, jika tidak mau aku adukan kepada Yang Mulia Raja"
"Kau memang tidak asik, Kiel" Aleesya berjalan meninggalkan Kiel dengan menghentakkan kakinya.
✧༺♛༻✧
"Bagaimana Putri? Kau sudah menyiapkan jawabanmu?" Tanya Raja Edward, menatap Aleesya serius.
Aleesya yang ditatap seperti itu menundukkan kepalanya, jika sang ayah sudah memanggilnya dengan gelarnya, tandanya ayahnya benar-benar serius.
"Bolehkah aku meminta sedikit waktu, Yang Mulia?" Cicitnya, pelan.
"Kenapa? Bukankah waktu itu kau dengan semangat menerima tawaran Yang Mulia Raja?" Tanya Ratu Diana, tajam.
"Aku sudah memberimu kelonggaran waktu selama 2 minggu, apa itu masih belum cukup untukmu, sayang?" Raja Edward menatap Aleesya teduh.
Aleesya diam seraya memainkan tangannya. "Baiklah aku akan memberimu waktu 3 hari lagi, aku harap jawabanmu tidak mengecewakanku"
Aleesya mengangguk kemudian membungkuk hormat, "terimakasih Yang Mulia, semoga Eudora selalu memberkahi anda" Seteleh mendapat anggukan dari Raja Edward, Aleesya berjalan pergi.
Di sepanjang jalan, kepala Aleesya dipenuhi oleh pembicaraannya dengan Raja Edward. Saat itu ia memang membulatkan tekadnya untuk menerima tawaran ayahnya.
Tapi saat melihat kelakuan menjijikkan Duke Lounder, entah kenapa ia menjadi resah.
Menikah dan hidup berdampingan, Aleesya yakin seiring berjalannya waktu cinta akan datang di tengah-tengah mereka. Dan ia tidak mau mencintai seseorang yang mencintai perempuan lain.
Aleesya takut.
Aleesya berjalan menuju ruang panah, ia mengambil 1 busur panah dan menembakkannya sesuai target.
Prok.. Prok.. Prok
Suara tepukan tangan dibelakangnya membuat Aleesya menoleh, ia melotot saat mendapati Pria yang menjadi alasannya sakit kepala sudah berada di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Duke!
FantasyBagaimana jadinya jika seorang putri pembangkang harus menikah dengan seorang Duke yang terkenal mengerikan di kerajaannya? Mampukah Putri Aleesya mengendalikan monster dalam diri sang Duke? Atau malah sebaliknya?
